Senin, 22 Juni 2009

Menghantarkan Sang Anak ke Surga
Hari Ahad sepekan yang lalu, saya mengikuti seminar tentang menjadi orang tua yang efektif (parenting) di sebuah yayasan pendidikan Islam di Komsen, Bekasi. Pembicaranya adalah tokoh yang memang pakar dalam masalah tersebut.
Seminar berlangsung di arena kolam renang beratapkan tenda yang biasa digunakan dalam acara-acara pernikahan. Suasana cukup segar dan rileks karena didesain membaur dengan alam terbuka. Lain halnya bila acara diselenggarakan dalam ruang tertutup, barangkali suasana formal dan streng akan cukup mendominasi meski pembicaranya adalah pembicara yang cukup segar dan memberikan banyak pencerahan. Sayangnya, tampilan-tampilan slide yang dipaparkan tidak begitu dinikmati dengan jelas oleh peserta yang duduk dibarisan belakang seperti saya. Sinar mentari yang menembusi acara yang berlangsung dari pukul 8.00 hingga 12.00 itu, menjadikan paparan slide terlihat kabur dan tidak jelas. ‘Ala kulli hal, saya hanya menikmati lantunan lisan dari pembicara seminar yang banyak berkisah tentang kasus-kasus pernikahan dan parenting itu.
Satu kisah yang cukup menyentak saya, adalah kisah seorang ibu aktivis dakwah yang bisa-bisanya “membunuh” anak-anaknya (sebut saja namanya Bu Amy). Sepintas kita akan bertanya, bagaimana mungkin Bu Amy bisa seperti itu? Tetapi itulah realita yang terjadi. Kabarnya beliau menderita kelainan jiwa akibat sikap orang tua (ibu) beliau yang selalu meremehkannya dalam segala hal.
Bu Amy ingin sekali dipandang terhormat, mulia, hebat, atau sekedar dipuji oleh ibunya. Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang wajar seorang anak terhadap seorang ibu, dimana pun dan kapan pun. Setiap anak pasti menginginkan bahwa dirinya berarti, memiliki nilai, dan bermanfaat bagi orang lain. Dan seorang ibu seharusnya memberikan kepercayaan, penghargaan, pujian, motivasi, atau penyemangat atas prestasi dan perilaku positif anaknya. Namun malangnya, ibu beliau bukanlah tipe ibu yang dominan dalam memberi motivasi, penghargaan, ataupun inspirasi. Dia adalah tipe ibu yang dominan dalam hal meremehkan dan melecehkan.
Ketika ia berhasil lulus kuliah dengan gelar cumlaude, ibunya mengatakan:“ Gitu aja kok bangga, lha kamu kuliahnya di jurusan yang gampang, ya mesti dapat prestasi bagus. Coba kamu kuliah di jurusan yang menantang gitu lho!”
Tak dinyana. Saking mendambakan pengakuan dari ibunya, beberapa tahun kemudian secara diam-diam Bu Amy kuliah lagi dan mengambil jurusan yang lebih sulit. Singkat cerita, kali ini pun lulus dengan prestasi cumlaude.
Ia begitu tidak sabar memberi kabar kepada ibunya tentang hal itu. Tetapi apa yang terjadi ketika ia memberi kabar kepada ibunya? Tidak ada reaksi surprise apapun. Sikapnya tetap dingin. Lalu terlontarlah kata-kata meremehkan dan melecehkannya,
“Jangan bangga. Pantas aja kamu dapat prestasi bagus karena kamu pernah kuliah sebelumnya. Jadi kamu pasti lebih berpengalaman dibanding adik-adik mahasiswamu itu.”Sejak itulah jiwanya menjadi goyang. Beliau yang telah dikarunia beberapa anak, sangat takut akan bersikap sama seperti ibunya itu. Sikap yang membunuh kreativitas. Sikap yang melemahkan mental. Sikap yang akan membunuh masa depan anak-anaknya kelak. Andai Bu Amy memiliki kestabilan jiwa, barangkali bisa saja beliau akan menghibur diri, “Ah, di mata ibuku aku memang selalu tidak baik. Ibu macam apa dia? Saya sepatutnya tidak membutuhkan pengakuan apapun darinya”. Atau setidaknya jiwanya akan membatin, “Naudzubillah, alangkah buruk perangai ibuku. Bagaimana aku bisa mendakwahinya? Bagaimana agar aku bisa mengarahkan bagaimana seharusnya memperlakukan anak dengan baik?. Ini adalah tantangan untuk merubah ibuku.” Namun ketegaran itu tidak muncul dari jiwa Bu Amy. Pelecehan demi pelecehan telah mematikan potensi positif dirinya.
Kekecewaan dan ketakutan selalu menghantui Bu Amy. Kecewa dengan perilaku ibunya dan ketakutan perilaku itu menurun kepada dirinya sehingga ia tidak bisa memperlakukan anaknya dengan baik. Halusinasi dan pikiran-pikiran irrasional sering timbul. Akhirnya timbullah pikiran untuk “membunuh” anak-anaknya. Halusinasi mengatakannya bukan membunuh tetapi “mengantarkan anak-anaknya menuju surga”. Bukankah di surga yang ada adalah kata-kata yang baik dan tidak akan ditemukan di sana kata-kata cemoohan.
Pernah ia melakukan experimen tetapi gagal karena kepergok suaminya. Namun niat itu diulangi lagi ketika suaminya pergi ke luar kota selama beberapa hari. Prosesi “penghantaran surga” bagi anak-anaknya itu terasa amat menyedihkan andai benar kita menyaksikannya dalam bentuk sebuah sinetron. Sang anak yang akan dihantarkannya itu terlebih dahulu dimandikan dengan wewangian. Kemudian disusui hingga sangat kenyang. Kemudian dibelai-belai, dicium-cium, diberi kata-kata yang menenangkan, akhirnya sang anak pun tertidur dengan pulas. Berulang kali dikatakan, “Wahai anakku, sesungguhnya ibu amat menyayangimu. Oleh karena itu, ibu ingin menghantarkanmu kepada kehidupan surga yang tidak ada penderitaan di sana. Semoga engkau bahagia, anakku.” Kemudian perlahan-lahan, sebuah bantal ditutupkan ke wajahnya. Lama dan makin kencang. Sehingga sang anak pun akhirnya tidak bisa bernafas dan meninggal dunia.
Ketika abangnya bertanya, ia mengatakan, “Adikmu sudah tenang pergi ke alam surga. Maukah ibu antarkan kamu ke surga seperti adikmu?” Karena kata-katanya menyakinkan, abangnya pun menurut. Akhirnya sang abang pun menyusul adiknya setelah menjalani prosesi yang sama memilukan. Demikian hal itu terjadi juga kepada anak berikutnya.
Ketika sang suami pulang, ia pun bertanya kabar anak-anaknya. Mirip dengan kisah sahabat yang istrinya begitu tabah menghadapi kematian anaknya, Bu Amy pun tanpa ekpresi sedih mengatakan, “Anak-anak sudah tertidur pulas dan dalam kondisi yang amat tenang”. Namun sang suami curiga ketika ia periksa bahwa detak jantung anak-anaknya sudah tidak ada lagi, ia menangkap sebuah kejanggalan terjadi pada isterinya. Singkat cerita, akhirnya sang suami melapor polisi dan akhirnya diketahui dan disimpulkan bahwa Bu Amy mengalami guncangan jiwa yang hebat.
***
Hati saya yang mendengar penuturan itu sangat teriris-iris. Masya Allah, alangkah berat guncangan yang terjadi pada Bu Amy, betapa kejam perilaku orang tua (Ibu beliau) yang selalu mencemoohnya, dan betapa kasihan nasib anak-anaknya yang tidak berdosa.
Saya belum mencari-cari adakah arsip berita seperti yang dikisahkan oleh pembicara itu di google. Di mana tepatnya dan kapan terjadinya. Yang jelas kisah itu amat berkesan di hati saya sehingga tergerak hati ini untuk menuliskannya.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Semoga kita bisa berlaku sebagai orang tua yang baik dan pandai-pandai dalam mendidik anak.
Naudzubillah, kita berlindung kepada Allah Azza Wa Jalla dari guncangan jiwa seperti terjadi pada Bu Amy, sehingga ia tidak bisa membedakan antara “membunuh” dan “menghantarkan sang anak ke surga”.
Waallahu a’lamu bishshawaab

Sumber: Muhammad Rizqon / Eramuslim

Jumat, 12 Juni 2009

Menantu Baru

Enaknya jadi menantu baru. Semuanya jadi serba baru. Anggota keluarga baru, suasana rumah baru, perabot baru. Dan satu lagi yang tergolong rezeki nomplok, pelajaran, perhatian dan kasih sayang dari orang tua baru.
Itulah yang dirasakan Sri. Seminggu sudah masa lajangnya berlalu. Kenikmatan yang Sri terima dari Allah kian membesar. Sudah dapat suami saleh, dapat mertua penyayang. Wah, benar-benar berkah.
Selama seminggu itu, Sri seperti jadi ratu. Semuanya serba dilayani. Mulai dari cuci pakaian, masak, beres-beres rumah, hingga urusan kebersihan kamar Sri sendiri. Semuanya diurus ibu mertua.
Sebenarnya, pembantu di rumah mertua Sri cuma satu. Usianya pun sudah setengah baya. Tapi, karena tekanan dari ibu mertua, si pembantu jadi serba luar biasa. Kerjanya cekatan, tekun, teliti, dan serba bisa. Sebentar-sebentar terdengar teriakan ibu mertua, “Yem, mejanye bedebu, nih. Ubinnye udah dipel belom. Makanan buat Sri udah disiapin belom?”
Betawi. Yah, itulah jodoh Sri. Gadis asli Solo ini dianugerahi Allah jodoh pemuda asli Betawi. Tulen. Walau arsitektur rumah berserta perabotnya sudah moderen, suasana kampung Betawi masih sangat terasa. Semua anggota keluarga berinteraksi satu sama lain layaknya lenong Betawi. Dialognya, egaliternya, perilakunya, kepolosannya, hingga sebutan benda-benda di sekitar rumah. Suatu hal yang super baru buat Sri.
Pasalnya, Sri memang sama sekali belum bergaul dengan dunia Betawi. Dari bayi hingga sudah punya cita-cita ingin punya bayi, dunianya murni Solo. Lembut, santun, ramah, dan serba halus. Suatu hal yang hampir bertolak belakang dengan Betawi. Kadang, Sri senyum-senyum sendiri. “Subhanallah. Mungkin Allah mau mengajarkan saya soal persaudaraan Islam,” ucap Sri dalam hati.
Waktu di Solo, ada teman Sri yang cerita soal orang Betawi. “Aduh, Sri. Kamu harus sabar, lho! Orang Betawi itu kasar!” ucap sang teman ketika tahu calon suami Sri. Dan, itu memang terlihat pada sekilas sosok sang calon. Padahal, calon suami Sri kuliah di Solo. Bertahun-tahun tinggal di Solo, pembawaan tetap asli Betawi. Itu terlihat ketika awal proses pernikahan. Sri sempat kaget dengan ucapan sang calon. “Gimana, Sri mau nerima saya nggak jadi suami?” suara calon suami Sri enteng. Kontan saja, Sri jadi deg-degan. Mau jawab apa.
Ketika proses lamaran calon mertua pun, Sri sempat dibikin kaget. Waktu itu, calon mertua Sri berkunjung ke rumah Sri di Solo. Selain melamar, mereka mau kenalan dengan Sri. Ini dipandang perlu, karena mereka kenal Sri cuma lewat foto. Itu pun cuma sebagian badan dan kepala. Terang saja, calon mertua Sri jadi sangat penasaran.
Ketika berkunjung, ternyata bukan cuma orang tua calon suami Sri saja yang ingin melihat. Hampir seluruh anggota keluarga dekat calon mau ikut melihat. Dan sepertinya, mereka sangat kompak penasaran. “Yang mane, sih calonnye. Yang mane?” ucapan itu menggaung-gaung di telinga Sri. Hampir semua yang datang berucap itu. Ketika bapak memperkenalkan Sri ke para tamu, serempak suara-suara kembali menggaung. “Oh itu! Cakep, ye. Item manis!”
Kini, Sri mulai paham tentang Betawi. Dan Sri jadi sangat yakin kalau ucapan sang teman salah. Betawi memang terlihat seperti kasar. Tapi, itulah bentuk kejujuran, dan kesupelan mereka dalam berinteraksi. Dalam kamus Betawi, tidak ada istilah sungkan. Kalau benar, ya dibilang benar. Dan kalau salah, mereka menyatakan apa adanya. Kepada siapa pun. Walaupun terhadap orang tua sendiri. Semuanya serba to the point.
Di masa-masa penyesuaian itu, Sri belajar banyak pada suami. Mulai dari budaya, perilaku, dan juga bahasa. Sang suami mengajarkan Sri soal istilah sehari-hari. “Sri, kalau lu itu artinya kamu. Dan kalau aye artinya saya. Jangan salah, ya, Sri,” ucap suami suatu kali.
Pernah suatu kali, Sri sedang masak kue. Lagi asyik-asyiknya masak, tiba-tiba ibu mertua Sri muncul dari balik pintu dapur. “Eh, mantu lagi masak. Bikin ape, tu?” kata ibu mertua sambil menghampiri Sri.
Yang ditanya belum juga menjawab. Justru bingung. Sri bingung mesti jawab apa. Pasalnya, ia sedang masak kue bolu. Ia ingat betul dengan ucapan sang suami tentang istilah Betawi. Lu itu artinya kamu. Kalau ia sebut nama kue itu apa adanya, Sri yakin ibu mertuanya pasti tersinggung. Jadi, mesti bilang apa?
Sri jadi gugup. Keringat dingin mulai membasahi jilbabnya. Aduh, bilang apa, ya. “Tu, lu bikin kue ape?” tanya mertua sekali lagi. “Anu, Nyak. Hmmm….” Sri makin gugup. “Kue..kue…kue bol aye, Nyak!” ucap Sri hampir tak terdengar. Ibu mertua Sri tampak terbelalak. “Kue ape?” tanyanya lagi.
Pernah juga Sri dibikin shock sama ayah mertuanya. Persoalannya sebenarnya sederhana. Yaitu, soal buang angin atau kentut. Buat Sri, kentut itu sudah merupakan barang sangat tabu. Jangankan bersuara, tanpa suara saja sudah sangat memalukan. Terlebih saat berada di tengah orang banyak. Tapi, hukum itu tidak berlaku buat babe, ayah mertua Sri.
Suatu kali, ketika keluarga dekat suami ingin kenal lebih dekat dengan Sri, babe ikut bergabung. Silih berganti pembicaraan meletup-letup dari mulut yang satu ke yang lain. Dan suara tawa pun meledak. Posisi duduk para tamu pun tidak beraturan. Ada yang di bangku, di lantai, angkat kaki, dan lain-lain. Cuma babe yang bersila di atas bangku. Kadang, ucapan-ucapan humornya membuat suasana jadi akrab. Sebagai menantu yang baik, Sri duduk bersebelahan dengan babe. Sesekali, Sri menimpali kelucuan-kelucuan babe dengan senyum manis.
Tiba-tiba, di luar dugaan Sri, suara nyaring meletus dari arah bawah babe, “Tuuuut!” Spontan, wajah Sri memerah. Ia seperti menahan marah. Tapi, di luar dugaannya pula, tak satu pun para tamu yang bereaksi. Mereka seperti tidak mendengar apa-apa. Padahal, suara itu teramat nyaring. Dan obrolan pun terus bergulir lancar. Cuma Sri yang gelisah. “Aduh, kok tega babe begitu sama mantunya sendiri,” suara Sri dalam hati. Hampir saja, ia pergi ke kamar untuk menangis.
Sri kadang dibuat malu sama mertua. Pasalnya, ketika sanak keluarga suami berkunjung, selalu saja Sri dibangga-banggakan. “Nih, mantu kesayangan gue. Sekolenye tinggi. Orang pinter tuh, die!” ucap babe tanpa beban. Saat itu, wajah Sri berwarna-warni bagaikan pelangi. Malu.
Pernikahan memang mengajarkan banyak hal buat Sri. Salah satunya adalah kemampuan penyesuaian. Kalau ke keluarga saja tidak mampu adaptasi, gimana dengan orang lain. Dan untuk yang satu ini, Sri benar-benar dibuat kerja keras. Bagaimana pun juga, mereka adalah orang tua suami. Dan itu berarti orang tua Sri juga. Tanpa kurang sedikit pun.
Jadi menantu baru memang membuahkan hal baru. Selain keberkahan baru, tentu saja, tantangan baru. Dan ini berarti perjuangan baru.
Sumber:M.Nuh / Eramuslim

Rabu, 13 Mei 2009

Biarlah Rindumu Kau Bawa Hingga ke Tidur Panjangmu

Pagi itu saya masih tiduran santai dikamar kost yang mungil, tiba -–tiba ada bunyi sms di Hp saya. Saya segera mengambil Hp dan membuka isi sms yang ternyata dari kakak saya yang dikampung. “Innalillahi Wainna Ilaihiroojiun….” Spontan kalimat itu keluar dari bibir saya sementara hati saya sangat kaget, sedih dan terharu. Isi sms dari kakak saya itu ternyata kabar duka tentang meninggalnya salah satu kerabat saya yang masih berusia 13 tahun.
Dia adalah anak lelaki yang baru duduk dikelas 5 SD, anak pertama dari salah satu kerabat saya (cucu dari sepupu saya). Sejak dia berusia balita kedua orangtunya sudah berpisah (Cerai). Entah apa penyebabnya, mungkin alasannya kalsik yaitu perbedaan prinsip, saya tidak tahu pasti. Selama sepuluh tahun lebih Angga tinggal bersama neneknya dikampung sedangkan mamanya lebih sering merantau ke jakarta untuk memberikan jasanya kepada orang yang memerlukan jasanya untuk mengurus pekerjaan rumah mereka. Itu semua ia lakukan demi menghidupi anak semata wayangnya kala itu.
Dari kecil sudah terbiasa hidup terpisah dari kedua orang tuanya dan mungkin itu yang membuat dia berpikir lebih dewasa dari anak -–anak seusianya. Waktu itu meski dia masih Tk, tapi dia sudah belajar memelihara hewan ternak seperti ayam dan entok (dalam bahasa jawa). Bahkan dia mampu memahami mana hewan piaraanya dan mana yang milik neneknya. Ternyata dibalik pembawaannya yang pendiam itu dia mampu berpikir dewasa untuk membantu beban mamanya yaitu dengan mengumpulkan uang yang ia punya untuk belajar beternak. Dengan tujuan apabila sewaktu -–waktu dia butuh uang maka dia bisa menjual hewan ternaknya itu tanpa meminta kepada mama atau neneknya.
Usianya semakin bertambah maka semakin bertambah pula pola pikirnya. Di usianya yang sudah 13 tahun, dia sudah mulai memikirkan tentang kehidupan sehingga dia merasa membutuhkan dan kangen terhadap bapak kandungnya yang sudah bertahun-tahun berpisah dan hampir lost contac. Sampai pada suatu saat dia sakit parah dan berhenti sekolah, dia terpaksa harus tinggal kelas karena selama berbulan-bulan sakit dan tidak bisa masuk sekolah.
Meskipun sempat dia sembuh dan ketika lebaran kemarin dia sudah terlihat lebih sehat dan ikut berkeliling bersilaturahmi ke tetanga-tetangga bersama saudara-saudaranya yang lain. Waktu itu saya ikut bersyukur ternyata Allah masih memberi kesembuhan padanya. Apalagi jika melihat mukanya yang kelihatan berseri-seri waktu itu, saya makin terharu. Tapi ternyata Allah memilki rencana lain, Lebaran itu adalah lebaran terakhir kali untuk dia dan terakhir kali saya melihatnya.
Beberapa bulan setelah lebaran saya sudah kembali lagi bekerja di Jakarta, secara saya tidak tahu lagi bagaimana perkembangan kesehatannya saat itu. Yang saya tahu mamanya sudah menikah lagi dan waktu lebaran sudah mengandung beberapa bulan dan mereka hidup rukun dengan bapak tirinya yang baru. Senang saya mendengar cerita tentang keakraban dia dengan bapak tirinya yang mana dulu dia sempat tidak setuju jika mamanya menikah lagi. Waktu itu dia sedang sakit parah, menyadari kondisi kesehatnnya yang sudah minim dia mengatakan kepada mamanya bahwa mamanya boleh menikah tapi kalau Allah sudah memanggilnya.
Tapi Allah maha pembolak-balik hati bagi hamba yang dikehendakinya, maka menikahlah mamanya dengan seijin dia. Sampai pada suatu hari saya mendapat sms dari kakak saya bahwa mamanya melahirkan 2 anak perempuan kembar tetapi yang satu lahir secara normal di rumah dengan dibantu bidan dan dukun beranak sedangkan yang satunya lagi harus lahir secara Caesar di Rumah sakit karena detak jantungnya yang lemah. Jarak Rumah sakit itu cukup jauh sekitar 30 km dan jika ditempuh dengan kendaraan roda empat sekitar 1,5 jam. Saat itu perasaan saya campur aduk, seneng, sedih, cemas dan haru.
Beberapa hari setelah mamanya melahirkan saya dapat kabar bahwa mamanya masih harus dirawat dirumah sakit. Sedangkan adik kembar yang kedua sudah dibawa pulang. Dalam keadaan kesehatan yang belum terlalu pulih dia harus membantu neneknya untuk merawat kedua adik kembarnya. Meskipun usianya masih sangat belia namun tanggung jawabnya begtu tinggi untuk merawat kedua adiknya. Ternyata sebelum ibunya melahirkan mereka sudah berencana untuk bersilaturahmi ke bapak kandungnya yang mana sudah sangat dirindukannya. Untuk kesekian kalinya Allah berkehendak lain atas dirinya.
Selama beberapa hari bahkan mungkin sudah hitungan minggu, setiap malam dia harus siap terjaga untuk mangganti popok maupun membuatkan susu untuk adeknya sementara anak-anak seusianya yang lain masih tertidur pulas tanpa rasa was-was. Tapi meskipun begitu, dia masih lebih peduli kepada neneknya sampai suatu malam salah satu adiknya sangat rewel dia berkata kepada adek kecilnya itu “ Dek udah jangan rewel terus, kasihan nenek cape merawatmu”. Padahal dia sendiri waktu itu kesehatannya sudah mulai drop lagi, mungkin karena terlalu cape dan kurang tidur sampai dia mengeluh kepalanya pusing. Tak disangka ternyata sakitnya ini kambuh parah dan untuk yang terakhir kalinya.
Dini hari sekitar jam 2 adalah awal klimaks penderitaannya untuk yang terkahir kali. Dia sudah pasrah dan selalu mengeluh tidak kuat, sambil menahan sakit dia memohon “ Ya Allah jika memang kau berkehendak memanggil hamba saat ini maka berikanlah hamba kemudahan dan panggillah hamba secepatnya jangan kau siksa hamba seperti ini….” Mungkin dia sudah merasa bahwa ajalnya sudah dekat, dan orang-orang disekitarnyapun sangat panik dan ikut menangis melihat penderitaannya, bagitu juga salah satu adik kembarnya yang biasa dia handle dalam perawatannya, dia menangis sepanjang malam seolah ikut merasakan penderitaan kakaknya dan tidak ingin berpisah darinya. Pagi hari kalau tidak salah hari kamis sekitar pukul 5.30 WIB Allah SWT. memanggilnya tuk kembali kepangkuan-Nya. Innalillahi Wainna Ilaihiroojiun “sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah lah kita akan kembali”.
Dihari yang cerah bermandikan sinar matahari pagi yang hangat kau bawa kerinduanmu kepada bapak kandungnmu hingga ke tidur panjangnmu…… Namun tak mengapa, Insya Allah kau akan mendapatkan kasih sayang yang jauh melebihi kasih sayang ayah kandungmu di dunia. Semoga Allah menerima amal ibadahmu dan mengampuni segala dosa-dosamu, menempatkanmu di tempat yang mulia. Semoga saat ini kau telah menemukan cinta dan kasih sayang Allah yang hakiki dan kebahagiaan yang abadi di Syurga nanti…..Amin….
Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan kekuatan atas kepergiannya dan semoga kedua adek kembarnya bisa menjadi anak yang solehah yang selalu mendo’akan kebaikan untuk kedua orang tua dan untuk kakaknya Amin…… Ya Robbal A’lamin…..

Sumber: Singgih H /Eramuslim
Hari Ini, Mungkin Kita Ada Dalam Daftarnya

Mungkin diantara kita ada yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai. Ditinggalkan oleh istri, anak, saudara, teman, sahabat bahkan orang tua kita untuk selama-lamanya. Mereka telah di panggil oleh Allah SWT yang Maha Pencipta, yang telah memberikan nikmat hidup dan menentukan jatah hidup di dunia bagi tiap-tiap hamba-Nya. Tak perlu berlama-lama kita dalam kesedihan karenanya. Jadikan itu sebagai nasehat kauniyah kepada diri kita, bahwa tiap-tiap jiwa yang bernyawa akan merasakan mati.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Qs. Ali ’Imraan:185)
Tak ada yang kekal di dunia ini, semua bersifat fana. Orang-orang yang kita cintai, harta, tahta, semua yang kita miliki semua fana tak ada yang abadi. Hanya ada dua perkara di dunia ini, ditinggalkan atau meninggalkan. Istri, anak, saudara, teman, sahabat bahkan orang tua kita, bisa kita yang ditinggalkan terlebih dahulu oleh mereka atau kita yang meninggalkan mereka terlebih dahulu. Tinggal menunggu ketetapan Allah SWT atas tiap-tiap diri kita.
Begitupun harta, tahta, atau semua yang kita miliki, bisa kita yang ditinggalkannya lebih dahulu atau kita yang meninggalkannya lebih dahulu. Ditinggalkannya lebih dahulu karena harta, tahta, atau semua yang kita miliki adalah cuma titipan yang diamanahkan Allah SWT kepada kita. Sewaktu-waktu Allah SWT bisa saja mengambilnya kembali dari kita. Mengambilnya dengan bangkrutnya usaha kita, terkena PHK dari pekerjaan, diberikan ujian sakit yang membutuhkan biaya banyak, atau dengan hal-hal yang lainnya.
Atau kita yang meninggalkan semuanya itu lebih dahulu, karena memang jatah hidup kita di dunia yang fana ini sudah berakhir. Semua yang kita miliki tidak ada satupun yang dapat kita bawa, kecuali amal baik dan amal buruk yang telah kita lakukan selama hidup di dunia. Semuanya itu seberat apapun amal baik dan amal buruk yang kita bawa akan diminta pertanggungjawabannya kelak di yaumul hisab.
”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Qs. Al Zalzalah:7-8)
Niatkanlah setiap langkah hidup kita hanya untuk mencari keridhaan-Nya. Mensyukuri nikmat hidup yang telah diberikan Allah SWT kepada kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Tentunya kita semua menginginkan ketika meninggalkan dunia ini dalam keadaan Khusnul khatimah.
Bila Izrail datang memanggilJasad terbujur di pembaringanSeluruh tubuh akan menggigilSekujur badan kan kedinginan
Gambaran dari syair nasyid tersebut adalah keadaan pada saat akan datangnya sakaratul maut, tetapi ketika sakaratul maut itu sudah waktunya, takkan terbayangkan dahsyat rasa sakitnya, seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.” (HR. Tirmidzi)
“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek?” (HR. Bukhari)
Begitulah dahsyatnya sakaratul maut, yang bisa datang kepada kita kapan saja dan dimana saja, ketika kita sedang berbaring, ketika kita sedang berdiri, ketika kita sedang melakukan ibadah kepada-Nya atau bahkan ketika kita sedang melakukan maksiat kepada-Nya, Naudzubillahi min dzalik...
Hari ini, mungkin kita ada dalam daftarnya malaikat Izrail, ketika Allah SWT memerintahkannya maka detik itu juga malaikat izrail beraksi melaksanakan tugasnya.
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya….”(Al Munafiqun:11)
Wallahu a’lam bishshawab

Sumber: Addy Aba Salma/Eramuslim

Kamis, 07 Mei 2009

Adaptasi Pasangan Muda
Ketika pesta sudah usai, tenda sudah digulung, kerabat yang datang sudah kembali ke rumah masing-masing, kado sudah dibuka, dan pengantin tinggal hanya bersama keluarga terdekat mereka, maka adaptasi babak pertamapun dimulailah sudah. Ketika sejumlah momen kegembiraan sudah berganti menjadi momen ”hari-hari biasa”, maka perjalanan tersebut baru saja dimulai bagi pasangan baru tersebut.
Tahun-tahun pertama menikah merupakan tahun-tahun adaptasi. Itu pendapat para pengamat dan komentator soal pernikahan dan keluarga.
Orang umum menganggapnya sebagai masa bulan madu, menandakan romatisme, kesan akan manisnya hari-hari yang akan dilalui. Apalagi bagi pemuda dan pemudi Muslim yang sebelumnya ”berpuasa” menahan diri dari romantisme dan pacaran yang tidak halal, tidak heran jika bayangan bulan madu sedemikian menjanjikan bagi mereka.
Apakah selalu manis? Apakah selalu indah dan romantis?
Wahai para calon pengantin, jika itu yang kalian bayangkan dan tidak mengantisipasi kenyataan, maka kalian akan terkejut. Bulan madu pasti indah, namun jangan pernah lupa bahwa ini dunia fana.

Pernikahan, layaknya dua manusia bersatu dalam sebuah lembaga, akan mengalami pasang dan surutnya. Itu pasti.
Sebagaimana yang bisa kita lihat dari arti doa yang disunnahkan kia ucapkan untuk pengantin:
Semoga Allah berkahi kalian berdua dalam masa bahagia dan smoga Allah berkahi kalian berdua dalam masa sulit dan semoga Allah selalu himpun kalian berdua dalam kebaikan (di dunia & di Akhirat).
Dari doa yang diajarkan oleh Nabi kita SAW ini jelaslah bahwa pasangan suami istri akan mengalami masa bahagia dan juga masa sulit. Yang terpenting adalah selalu hadirnya keberkahan daam masa seperti apapun dan juga penting untuk selalu ”berhimpun dalam kebaikan”.
Ketika pesta sudah usai, tenda sudah digulung, kerabat yang datang sudah kembali ke rumah masing-masing, kado sudah dibuka, dan pengantin tinggal hanya bersama keluarga terdekat mereka, maka adaptasi babak pertamapun dimulailah sudah.
Ketika sejumlah momen kegembiraan sudah berganti menjadi momen ”hari-hari biasa”, maka perjalanan tersebut baru saja dimulai bagi pasangan baru tersebut.

Jika pada masa pra-nikah kedua sejoli masing-masing baru mengenali “daftar sifat”, maka pada hari-hari pertama hingga ke pengahabisan tahun pertama, sifat-sifat tersebut barulah muncul satu persatu.
Bukan hanya sifat keduanya yang segera muncul, namun juga berbagai aspek lain. Jika sebelumnya sudah ada perbedaan “kufu”, maka mosaik persoalannya segera mengemuka.
Berikut ini adalah beberapa aspek yang berpotensi muncul sebagai masalah dalam adaptasi pasangan suami istri yang baru menikah:
Perbedaan latar belakang sosial ekonomi; Perbedaan tingkat pendidikan; Perbedaan usia yang amat jauh; Perbedaan suku/ras/budaya; Berinteraksinya sifat-sifat keduanya; Perbedaan ideologi maupun agama, jika sebelumnya hal ini tidak diperhatikan; Perbedaan selera makanan, gaya bersantai, sikap terhadap waktu, dll
Pendek kata segala hal mungkin/berpotensi menjadi masalah antara keduanya sebab pada hakekatnya persatuan dua insan pasti butuh penyesuaian.

Lantas, jika segala hal dapat menjadi sebab persoalan, apakah itu berarti pernikahan merupakan suatu langkah yang nekat?

Menikah merupakan tuntutan fitrah, sehingga betapapun ada tantangannya, tetap saja pernikahan adalah kebutuhan. Persoalan adapatasi bukan merupakan suatu momok yang sangat menakutkan, terutama ketika calon pengantin sebelum menikah sudah mempersiapkan diri untuk itu.

Perbedaan latar belakang sosial ekonomi pada hakekatnya bukan masalah besar jika keduanya hidup di budaya terbuka dan modern, apalagi di perkotaan. Terutama ketika keduanya mempunyai latar belakang pendidikan yang sama, misalnya, dulu teman se-kampus. Selama keduanya sadar akan aspek perbedaan ini dan dapat saling menghormati, maka keduanya hanya perlu saling tenggang rasa terhadap berbagai perbedaan kebiasaan pasangannya ini. Contoh:
Ani (nama samaran) berasal dari keluarga berada khas golongan menengah ke atas di kota besar, sedangkan Toto, suaminya, berasal dari keluarga petani desa. Keduanya bertemu di kampus. Kembang kampus ini bersedia menikah dengan Toto sebab ia dikenal anak sholeh di kampus. Dengan agama dan akhlak yang baik ini pulalah kedua orangtua Ani menerima lamaran Toto. Tekad mengabaikan perbedaan latar belakang sosial ekonomi demi mengutamakan agama dan akhlak ini sudah dipertimbangkan kedua orangtua Ani maupun kedua orangtua Toto sebab para orangtua ini sadar bahwa yang terpenting adalah agama dan akhlak. Hari-hari pertama menikah pasangan muda ini tinggal di rumah orangtua Ani di kawasan elit Jakarta dengan segala fasilitasnya yang super modern. Kejadian lucu adalah ketika pertama kali Toto berkenalan dengan peralatan kamar mandi di rumah mertuanya. Tak terbiasa dengan sanitari super modern, Toto tidak tahu bagaimana menyalakan keran air dan bahkan bagaimana membuka pintu kamar mandi.....
Mungkin saja ia ditertawakan oleh adik-adik iparnya saat itu, namun jika Toto berkepribadian terbuka dan lega hati iapun dapat mengatasi persoalan ini dengan mudah. Dengan menenggang menantu baru ini, kedua orangtua Ani kemudian mengganti peralatan sanitari di ruang keluarga dengan model yang lebih ”umum” sehingga Toto maupun sanak keluarganya yang datang dapat dipersilahkan ke toilet ini saja. Hal kecil seperti ini jika tidak disikapi dengan tenggang rasa kedua pihak dapat menjadi tumpukan duri dalam daging. Satu pihak akan merasa tertekan dan pihak lain merasa kesal dan merendahkan. Jika harga diri sudah disinggung, persoalan dapat meruncing dan setan dengan mudah mengganggu keduanya.
Menyadari jurang perbedaan ini, Toto memutuskan untuk pindah rumah ke kontrakan satu pintu dan segaja ia pilih di wilayah yang dekat dari rumah mertuanya meskipun di lingkungan lebih sederhana. Di kontrakan mungilnya Ani dapat sedikit-demi-sedikit menyesuaikan diri menjadi istri Toto dengan latar belakangnya yang sederhana. Ketika ia mulai hamil muda dan kembali agak manja, ia dapat kapan saja pergi bertandang ke rumah ibunya untuk sekedar menikmati AC dan jus stroberi maupun apel yang dibuat pelayan ibunya. Toto mengizinkan istrinya melakukan hal ini karena sadar istrinya perlu waktu untuk diajak hidup sederhana, terutama ketika sedang ’ngidam’ (hamil muda) yang sering kali lebih sensitif. Ketika saatnya pulang kampung ke desa, Ani sudah dapat bersabar dengan kipas angin dan bahkan kipas bambu, juga dengan wc jongkok di desa. Makan sederhana lesehan di kontrakan juga membuat ia tidak lagi canggung makan lesehan di bale bambu di teras rumah mertuanya.
Kunci keberhasilan adaptasi sosial ekonomi terletak pada tekad untuk sama-sama mementingkan agama dan akhlak. Jika orangtua Ani tidak mempunyai sikap yang sama, bisa jadi merekalah yang akan memanas-manasi Ani untuk tidak dapat bertenggang-rasa dengan keluarga suaminya maupun dengan ”kebiasaan kampung” suaminya seperti misalnya kebiasaan makan tanpa sendok garpu, maupun kebiasaan makan comot sana sini di meja makan. Ani sangat butuh dukungan keluarga untuk tetap mementingkan yang penting dan memaklumi yang kurang penting. Demikian juga Toto.
Kunci keberhasilan ini (mementingkan agama dan akhlak) juga dapat diterapkan pada perbedaan latar belakang budaya dan suku. Misalnya keluarga Kraton Solo menikah dengan orang Batak asli, dimana yang satu biasa berbicara sangat teratur dengan hirarki bahasa dan juga sering berbahasa tidak langsung, sedangkan satu lagi terbiasa blak-blakan (terang-terangan) dengan suara keras dan lepas. Bahkan biasanya yang berbudaya Jawa pertama kali seringkali terkejut karena volume suara yang bebas lepas ini.
Persoalannya kembali kepada tenggang rasa.
Kedua pihak pada gilirannya akan salaing menyesuaikan diri. Toto akan belajar bagaimana kebiasaan yang ”dapat diterima” dan ”kurang dapat diterima” di rumah mertuanya, sementara Ani belajar hal yang sama di rumah mertuanya namun dengan arah yang berbeda.
Demikian juga dengan perbedaan budaya dan suku, yang asli Jawa lama kelamaan akan belajar menerima suara keras dan gaya terus terang sementara yang Batak mulai belajar merendahkan volume sambil mempelajari apa makna-makna dalam bahasa sindiraan.
Toleransi kedua pihak, artinya kedua pihak perlu sama-sama mengendurkan saraf dan saling terbuka satu sama lain sambil memasang sikap siap beradaptasi menyesuaikan diri satu sama lain.
Toleransi ini sangat tepat untuk konteks seperti di atas, BUKAN, sekali lagi BUKAN untuk bertoleransi masalah perbedaan agama dan ideologi.
Sumber: Eramuslim

Rabu, 06 Mei 2009

Lelaki Lelah di Depan Masjid

Entah siapa namanya, aku tidak bertanya. Tapi dia terlihat berdiri dari tadi di depan masjid. Wajahnya tidak seperti orang Jepang. Aku pikir ia orang Turki.
“ Maaf, ada Mr. Harun di dalam ? “ tanyanya padaku. Walaupun ia mencoba ramah, tapi ia tak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Aku berlari ke dalam mencari Mr. Harun yang di maksud.“ Tidak ada Mr. Harun,” kataku. Ia terlihat sangat gelisah seakan ingin aku mencari dengan lebih seksama. Aku menurutinya. Namun keluar dengan jawaban yang sama. Mr. Harun, orang Pakistan yang ia cari tidak ada. Aku menyuruhnya menunggu di dalam namun ia menggeleng.Dengan gelisah dan hampir menangis ia berkata, “…baiklah kalau begitu, aku akan tunggu disini sampai Mr. Harun datang. Aku tetap akan menunggu disini sampai bertemu dengannya.” Ada yang tidak beres dengannya, pikirku. Aku kedalam masjid dan menceritakan tentang lelaki tadi pada seorang sister.
Alhamdulillah, sister yang lembut perasaannya itu menghubungi istri mr. Harun melaporkan keadaanya. Dan alhamdulillah Mr. Harun akan datang.Lalu sister yang lembut perasaannya itu keluar menemui lelaki tadi. Agak lama ia berbicara. Saat sister itu kembali, ia mengatakan bahwa lelaki yang belum menjadi muslim itu ibunya adalah seorang Norwegia dan ayahnya orang Jepang. Ibu bapaknya tak percaya Tuhan. Tapi ia percaya Tuhan.“ Saya orang jahat…, tapi saya percaya Tuhan…” ujarnya lirih.
Dan kini ia sedang berada dalam kegelisahan dan kesedihan yang sangat. Saat ini seakan tiada tempat yang ia inginkan kecuali bersama Tuhannnya. Dan kini ia sedang menunggu satu satunya orang tempat curahan hatinya, Mr. Harun Jam menunjukan pukul setengah lima sore. Aku harus bergegas pulang. Saat aku dan sahabat lainnya bersiap akan pulang di depan, ia menyapaku dan meminta maaf atas sikapnya saat ini yang tidak bisa tersenyum ramah.
“… Tapi saat ini saya gelisah sekali, sayapun tak tau kenapa, saya tidak bisa mengontrol perasaan ini. Perasaan sedih, gelisah , benci pada semua orang disekitar saya, saya sangat tersiksa dan saya tidak tau mengapa ini bisa terjadi. Yang saya tau saat ini saya harus berdo’a pada Tuhan. “Dengan wajah yang gelisah, yang hampir menangis, ia menceritakan kelelahan hatinya. Aku dan sister memutuskan untuk menemaninya sampai ia bertemu Mr, Harun. Ia, seorang pencari Tuhan yang terdampar di masjid ini, berharap menemukan yang dicarinya.
“… Saya baru kehilangan pekerjaan. Sebentar lagi liburan panjang, dan orang orang akan tersenyum senang dengan liburan Golden Week mereka. Sedangkan saat ini saya dalam keadaan tidak kerja, tidak punya tempat tinggal, homeless, dan terpuruk dalam kesedihan dan kegelisahan. Saya akan merasa sangat tersiksa menyaksikan kegembiraan orang orang nanti.”
“ Raga saya berat untuk mengerjakan kebaikan. Saya kehilangan semangat untuk apapun. Dalam hati saya seperti ada sebuah batu besar yang hitam sekali. Hati ini berat sekali. Saya lelah sekali. Lelah untuk membawa hati ini. Lelah untuk membenci orang-orang disekitar saya. Lelah dengan kebencian ini. Lelah untuk kegelisahan ini. Hati saya letih. Tapi Tuhan akan menolongkan yah ?”Tanyanya berkali- kali dijujung kalimatnya untuk memastikan, ingin di yakinkan , ingin di kuatkan. Nafasnya yang tidak sedap dan tidak teratur, tangannya yang gemetar sibuk bercerita. Suaranya yang bercampur lelah jiwa dan raga dengan perut kosongnya yang tak disi entah sejak kapan. Sejak menjadi gelandangan ia tidur di mana saja. Entah di taman, di stasiun atau di bawah jembatan.
Jauh dilubuk hati ini, ada kesedihan yang mendalam. Entah apa yang saya rasakan saat mendengarnya, saat melihatnya. Apakah ia sebuah jiwa yang cukup berharga untuk di tolong ? Bolehkan saya pergi saja membiarkan dia disini sendiri ?
Teringat saat Ibnu maktum r.a yang buta datang menemui yang tercinta Rasulullah S.A.W dan memotong pembicaraan beliau dengan para pemuka Quraisy. Rasulullah S.A.W begitu mengharapkan para tokoh-tokoh Quraisy itu menyambut seruannya untuk masuk Islam. Karena beliau membayangkan akan banyak orang Qurais yang masuk Islam apabila para pemimpinnya masuk Islam. Rasullulah merasa terusik dengan kehadiran Ibnu Ummi Maktum. Perasaan tidak nyaman itu terlukis di mukanya yang putih berseri. Secara spontan Rasulullah berpaling dari Ibnu Ummi Maktum, dengan bermasam muka. Tapi setelah beliau kembali seorang diri, hati kecilnya menjadi resah dan beribu pertanyaan memenuhi benaknya: Salahkah perbuatanku tadi???
Tiba-tiba Allah pun menegur kekasih-Nya :"Bermasam dan membuang muka ia. Tatkala si buta mendatanginya. Dan apa yang memberitahukan kau, ba¬rangkali ia orang yang bersih? Atau ia dapat menerima teguran dan teguran itu berguna baginya. Tapi kepada or¬ang yang serba cukup itu. Engkau menghadapkan diri. Padahal itu bukan urusanmu kalau dia tidak bersih hati. Tetapi orang yang bersungguh-sungguh datang. Dengan rasa penuh takut. Kau abaikan dia. Tidak. Itu adalah sebuah peringatan. Barangsiapa yang sudi, biarlah memperhatikan peri¬ngatan itu. Dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Dijunjung tinggi dan di¬sucikan. Yang ditulis dengan tangan. Orang-orang terhormat, orang-orang yang bersih." ( Abasa 1-16).
Lelaki yang berdiri didepanku yang bercerita dengan nafas yang tersenggal senggal ini juga adalah sebuah jiwa, yang berharga , yang harus diselamatkan sekuat tenaga.
Langit di sore itu makin haru membiru. Seiring detik waktu yang berjalan cepat. Terkadang angin musim semi semilir berhembus. Aku harap aku menemukan suatu kata yang dapat menentramkan ia. Jiwa yang gelisah.
“….Allah menyayangimu. Buktinya adalah sekarang kamu ada disini, didepan masjid ini. Walaupun kamu merasa bukan sebagai orang yang baik dan selalu mengerjakan keburukan-keburukan, tapi sesungguhnya entah kau sadari atau tidak, pastinya ada suatu ruangan penuh dengan kasih di dalam hatimu. Sehingga Allah menunjukan jalan kesini, ke masjid ini. Sekarang kamu ada disini, didepan masjid ini. Kamu tau apa artinya itu ? Itu artinya Allah menyayangimu. Allah memanggilmu. Jadi jangan berhenti. Teruslah berusaha untuk mendapatkan hidayahNya. Datanglah sesering mungkin sampai kau dapatkan hidayahNya. Jangan menyerah. Jangan kau lari kemanapun kecuali ke masjid ini saat hatimu gundah. Bertahanlah. Saat kau dapatkan kedamaian itu, kau tak akan mau menukarnya dengan apapun. Karena harganya seluas langit dan bumi. Saat itu kau akan berterimakasih padaNya telah memberikan kegelisahan ini sehingga kau mendekat pada Nya. Percayalah, kau akan mendapatkannya kalau kau berusaha, karena dulu akupun mengalami hal yang sama, ” kataku meyakinkannya. “ Gambatte… ( berusahalah sekuat mungkin).”
Alhamdulillah, Mr. Harun telah datang. Semoga lekaki lelah itu cukup terisi dengan percakapan kami tadi. Aku dan sister berhati selembut sutra melangkahkan kaki meninggalkan masjid.
Sore itu di musim semi membuat kami berdua termenung. Hati kami seakan mengatakan hal yang sama. Setiap hari sekitar 300 orang melakukan bunuh diri di Jepang. Entah melompat ke rel kereta, ataupun dengan cara lainnya. Alasan mereka sama, putus asa . Putus asa dari rahmat Allah, Tuhan yang tak pernah mereka kenal. Entah kehilangan pekerjaan, ataupun tak puas dengan dirinya. Semoga saat ia dilanda gelisah, tak ada tempat yang ia datangi kecuali rumah Sang Pemilik Rahmat.Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang. Hanya bila Ia ingin nyatakan cinta, rasanya seperti tertusuk duri-duri belati. Namun janji-Nya selalu pasti. Bersabarlah..., karena orang yang bersabar dan ikhlas berserah diri akan memenangkan cinta Nya.
Tiada yang bisa kami lakukan selain do’a. Semoga Allah membukakan pintu rahmat-Nya pada lelaki itu, lelaki lelah di depan masjid.

Sumber:Nuniek Miyasaka /Eramuslim
Zaman Apakah Yang Berlaku Kini?

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang khusu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatanya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Azhab. 35)
Ayat di atas bisa jadi telah menjadi inspirasi banyak perempuan akan persamaan hak dan kewajiban sebagai hamba Allah. Jika laki-laki bebas menuntut ilmu, perempuanpun demikian. Jika laki-laki bisa bekerja mencari rezeki, perempuanpun bisa bekerja mencari rezeki. Hari ini kita melihat banyak perempuan-perempuan yang melanjutkan pendidikannya hingga S2 dan S3 baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak juga pos-pos penting dalam sebuah perusahaan yang dikendalikan oleh seorang perempuan. Hampir tidak kita temui lagi sekat antara laki-laki dan perempuan dalam segala urusan, keduanya memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk maju dan berkembang.
Diantara perbedaan yang semakin tipis itu, ada sebuah kenyataan yang tidak bisa dinafikkan oleh apapun bahwa perempuan memiliki peran ganda yang menyebabkan langkahnya dibatasi oleh fitrahnya yaitu hamil, melahirkan, menyusui dan menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknnya.
Saya sedang menyelesaikan program doktor ketika saya menikah beberapa tahun lalu. Saat itu boleh dikatakan saya adalah seorang workercholic. Sambil menyusun disertasi saya bekerja kadang sampai malam, bahkan sabtu minggu kalau ada proyek pasti saya “sikat”. Waktu itu saya sendiri, tidak ada suami yang harus saya tunggu untuk disiapkan secangkir teh hangat kala dia pulang bekerja. Tidak ada bayi yang harus disusui dan membutuhkan belaian serta kasih sayang.
Rumusan tentang keluarga dan karir telah saya petakan sedemikian rupa sebelum menikah. Saya berharap rumah tangga saya adalah inspirasi dan cahaya buat masyarakat, sakinah, mawadah dan rahmah. Saya ingin anak-anak saya hari ini adalah pemimpin kelak di zamannya. Untuk cita-cita besar ini ada suatu sikap besar yang harus saya pilih yaitu mendahulukan kepentingan keluarga di atas karier yang terbentang luas. Harganya tentu tidak murah, perlu keikhlasan dan pengorbanan agar harapan saya hari ini menjadi kenyataan hari esok.
Saya memutuskan berhenti bekerja, pilihan yang tidak populis bagi sebagian orang. Diantara kesibukkan menyelesaikan disertasi suatu tugas penting berhasil saya tunaikan yaitu memberi ASI ekslusif untuk kedua bayi saya. Alhamdulillah kedua anak saya tumbuh dan berkembang di atas anak rata-rata seusia mereka, jarang sekali sakit bahkan si kecil hingga 19 bulan usianya kini belum pernah ke dokter. Sungguh saya bersyukur pada Allah atas karunia ini.
Saya bangga melihat perkembangan perempuan hari ini, bisa sekolah tinggi dan bekerja di tempat yang baik. Tapi ada satu hal yang membuat saya sedih, tingginya pendidikan perempuan dan pekerjaan yang mapan menghalanginya menjalankan fitrahnya memberi ASI hingga anak-anaknya berusia 2 tahun. Saya saksikan teman-teman yang juga sedang mengambil doktor dengan berbagai alasan tidak menyusui anaknya. Sering juga saya temui karena alasan pekerjaan seorang ibu tidak menyusui anaknya, bahkan diantaranya ada dokter dan perawat.
Pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang mapan apakah kemajuan atau sebuah kemunduran? Jika seorang ibu menganti ASI-nya dengan susu formula karena alasan sedang melanjutkan pendidikan atau karena bekerja berarti ia telah mengingkari fitrah keperempuanannya, ia telah mengabaikan amanah Allah. Maka tidak heran hari ini kita sering mendengar ada anak yang membangkang kepada orang tuanya, ada anak yang tidak nurut kepada ibu bapaknya, ada anak yang nakal dan prilaku negatif anak lainnya bisa jadi disebabkan karena ibu melawan fitrahnya, ibu tidak menyusui anaknya malah mengantinya dengan susu sapi. Sering juga kita saksikan di rumah sakit, puskesmas penuh dengan anak-anak dengan berbagai macam penyakit. Bisa jadi rentannya mereka terhadap penyakit karena anak-anak kita tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik disebabkan sejak bayi sang ibu tidak memberi ASI dengan sempurna.
Ya Allah zaman apakah yang sedang berlaku hari ini? Berilah kesadaran kepada perempuan (setinggi apapun pendidikan dan kariernya) bahwa memberi ASI adalah kewajibannya bagaimanapun kondisinya.
Yuuuu beri anak-anak kita ASI ekslusif hingga 6 bulan dan lanjutkan hingga 2 tahun.

Sumber: Yesi Elsandra /Eramuslim