Kamis, 06 November 2008

Laskar Pelangi Masa Kini

Semenjak dilaunching filmnya. Laskar Pelangi menjadi perhatian banyak masyarakat Indonesia. Betapa tidak kurang dari dua bulan saja, film tersebut mampu menyedot lebih dari setengah juta penonton. Laskar Pelangi awalnya merupakan novel yang ditulis oleh seorang pemuda tentang pengalaman hidup bersama kawan-kawannya masa sekolah dulu. Novelnya pun bak kacang goreng laris manis dibeli pembaca. Bahkan kemudian orang nakal pun ketiban untung dengan menjual versi bajakannya.
Laskar pelangi membawa pesan bahwa pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting, dari masa dahulu hingga sekarang. Tentu semua orang mengamini bahwa pilar peradaban manusia akan dimulai dari proses belajar dan pendidikan menjadi hal yang tidak bisa dilepas darinya. Namun sayang, dimasa kini seolah-olah pendidikan masih terpinggirkan.
Orang lebih suka sibuk dengan politik kekuasaan atau semisalnya. Memang kita tidak bisa lepas begitu saja dari politik dan semisalnya, namun politik menjadi kurang bergairah jika orang-orang nya masih berkubang dalam kebodohan karena terbatasnya pendidikan baginya. Laskar pelangi mencoba menyibak tabir itu. Bahwa dalam kondisi apapun pendidikan harus tetap berjalan dalam relnya.
Selain pesan semangat untuk berjuang dan belajar yang disampaikan dalam Laskar Pelangi, film itu seolah-olah juga ingin menyampaikan pesan kekinian. Ia ingin menampakkan wajah pendidikan Indonesia pada dunia nyata. Bagaimana susahnya menjangkau sarana pendidikan, bertahan dengan kondisi seadanya dan lainnya.
Semakin hari ramai Laskar Pelangi dibicarakan orang. Sudah tidak kurang dari puluhan kali produser, sutradara, sampai penulisnya menjadi bintang tamu untuk mengupas tentang film itu. Mungkin bagi sebagian (kebanyakan) penonton terbayang bahwa pendidikan (sekolah) pada jaman Laskar pelangi sangatlah susah. Kondisi sekolah yang hampir roboh, guru yang terbatas, apalagi fasilitas. Namun siapa sangka, kondisi yang ditayangkan dalam laskar pelangi ada pada dunia nyata masa kini.
Adalah Pak Alis guru SD didaerah terpencil, ujung dari propinsi Riau tepatnya di kabupaten Indragiri Hilir. Beliau rela untuk berangkat mengajar dengan harus terlebih dahulu menyeberangi laut naik kapal menuju sekolah tempat beliau mengajar.
Waktu yang diperlukan dari rumah sampai ke sekolah adalh 3 jam bahkan lebih, dan tidak setiap waktu ada kapal menuju kesana. Karena itulah kemudian beliau rela untuk tinggal di pulai terpencil itu dengan ditemani istri tercinta yang juga guru disekolah tersebut dan meninggalkan putra-putrinya. Seminggu sekali beliau pulang ke rumah untuk menengok rumah dan putra-putrinya. Begitu seterusnya setiap waktu.
Lalu bagaimana kondisi sekolahnya, jangan bayangkan sekolah SD yang megah seperti biasa kita temui di kota-kota besar dengan murid yang berpakaian rapi. Jangankan gedung yang megah. Kini sekolah tersebut sudah tidak dapat difungsikan lagi, karena sebagian atapnya sudah roboh. Jumlah seluruh muridnya dari kelas 1 sd kelas 6 juga tidak lebih dari 30 orang.
Mereka kini belajar disebuah bangunan kosong milik warga setempat. Sementara kantornya adalah rumah kecil tempat Pak Alis dan Istrinya menginap. Pak Alis dan istrinya hanyalah 2 guru yang dimiliki sekolah tersebut. Mereka berdua harus mengajar dari kelas 1 sd 6 setiap hari.
Entah bagaimana metode yang digunakan olehnya. Apakah tidak pernah ada guru lain datang ke situ? Pernah suatu saat ada guru bantu lainnya, tapi karena kondisi daerah yang terpencil membuatnya tidak betah dan memilih pindah. Namun tidak bagi pak Alis dan istrinya. Mereka rela berpisah dengan anak-anak, tinggal didaerah terpencil yang penduduknya pun masih jarang. Setiap hari mereka rela mengajar dan terus memompa semangat anak didiknya.
Dengan berbagai keterbatasan mereka terus menularkan ilmunya pada murid-muridnya. Pak Alis tidak pernah mengeluh dengan kondisi itu. Sesekali pernah beliau laporkan kondisi sekolah tersebut kepada petugas terkait supaya ada perbaikan. Tetapi sepertinya sampai sekarang belum masuk prioritas kebijakan atasannya. Bahkan pak Alis malah ditawarkan untuk pindah saja ke kota sehingga bisa dekat dengan anak-anak dan tentu dengan kondisi sekolah yang lebih baik. Tawaran itu ditolaknya secara halus.
Beliau memikirkan bagaimana jika sekolah itu ia tinggal, apakah ada guru yang mau tinggal seperti beliau nanti. Ah, lagi-lagi pak Alis rela mengalah demi anak didiknya.
Namun Allah Yang Maha Gagah tidak tinggal diam. Selalu ada balasan pada setiap perbuatan. Setidaknya itu dirasakan oleh keluarga pak Alis sekarang. Putra-putri beliau tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan mandiri. Putri pertamanya kini telah lulus sarjana dari perguruan tinggi negeri bergengsi di Bogor dengan biaya beasiswa semenjak SMA.
Tidak ketinggalan dengan putra keduanya, kini ia tercatat sebagai mahasiswa kedokteran semester 5 juga dengan beasiswa. Begitu pula dengan kedua putrinya yang lain yang masih duduk di SMP dan SMA. Mungkin pak Alis dan keluarga tidak pernah menerima penghargaan sebagai pahlawan apalagi harta yang melimpah karena jasanya.
Tapi Allah telah menunjukkan kekuasaanNya. Ia balas setiap pengorbanan yang telah dilakukan. Apalagi diakhirat nanti.
Dalam diri pak Alis tersimpan semangat yang luar biasa. Ia mungkin salah satu profil guru yang benar-benar menjadi ‘guru’ yang harus digugu dan ditiru begitu orang jawa bilang. Bahkan kini pak Alis juga telah menyelesaikan pendidikan sarjananya karena adanya tuntutan akreditasi guru oleh pemerintah.
Subhanallah, bagi saya pak Alis dan keluarga dan mungkin guru-guru lainnya yang tersebar di negeri ini adalah Laskar Pelangi masa kini. Mereka akan tetap menampakkan keindahan warnanya seperti apapun kondisinya, meskipun orang lain tidak melihatnya… Seandainya para siswa, guru, politisi dan lainnya mempunyai jiwa yang serupa, pasti negeri ini akan semakin baik dimasa mendatang..
Ya Allah yang menguasai langit, bumi dan isinya. Balaslah semua jasa-jasa mereka dengan limpahan rahmatMu, berkahilah kehidupan mereka dan jadikanlah pada dada-dada kami tumbuh jiwa-jiwa seperti mereka. Aku tahu hanya Engkau yang akan terus mengalirkan pahala amal perbuatan mereka sampai akhir zaman, sebagaimana yang telah Engkau janjikan bahwa Ilmu yang bermanfaat akan tetap mengalirkan amal pahala. Amin.

Sumber: Baihaqi / Eramuslim
Pembudayaan

“Bude, aku tidak mau baju ini. Tidak keren!” Aku terperangah mendengar ucapan lelaki kecil itu. Belum sempat aku memberi komentar dan membujuknya agar mau mengenakan baju yang kuberikan, ia telah lari ke kamarnya. Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sepasang baju baru keren bergambar tokoh film kartun yang sedang ngetrend.
“Aku mau yang seperti ini...”katanya sambil menunjukkan baju itu padaku. Langsung saja baju itu ia coba (lagi untuk yang kesekian kali-aku yakin itu) sambil mematut diri di depan kaca televisi. “Ma, bagus nggak, Ma?” ujarnya pada sang mama. “Aku keren nggak pake baju ini?” Mamanya mengangguk. Ia tersenyum lebar dan bangga. “Bude, beliin aku kaos saja. Kemejaku sudah banyak sekarang. Sedang kaosku sudah jelek-jelek. Beliin aku kaos yang segini ya, Bude?” katanya sambil menunjuk lengannya, memperagakan baju kaos berlengan sambung beda warna yang juga sedang in. Kali ini permintaan dan pertanyaan itu ia tujukan padaku. Aku hanya diam saja. Masih tertegun.
Hai, dari mana ia belajar membedakan keren dan tidak keren? Sejak kapan ia belajar berdandan? Aku terpaku. Menyadari sebuah akibat yang mewujud atas sebab yang kuletakkan. Laki-laki kecil itu. Belum lagi enam tahun usianya. Tapi, lihat. Ia sudah mampu membedakan mana baju keren dan tidak keren. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, ia berani menolak pemberian baju karena alasan tidak keren. Dan itu semua, aku yang memulai. Ya, aku. Sebagai keponakanku satu satunya, aku gemar sekali menghadiahi laki-laki kecil nan ganteng itu dengan baju-baju bagus. Nyaris setiap pulang kampung, aku selalu membawakannya pakaian keren, dan tentu saja branded. Meski aku selalu mencari baju yang sedang diskon, tetap saja harganya sering kali lebih mahal dibanding dengan baju-bajuku sendiri. Dan hasilnya memang kelihatan. Di TK-nya, keponakan saya sering dipuji ibu temen-temen sekelasnya karena bajunya berganti-ganti dan semuanya keren Bisa dibilang, ia adalah anak dengan pakaian paling fashionable di sekolahnya.
Namun kini, menyaksikannya menjadi sangat pemilih dalam hal pakaian sungguh membuatku jeri. Bagaimana kalau aku tidak lagi dapat membelikannya baju-baju bagus? Mungkin ia akan memaksa minta uang pada orang tuanya, atau kakek neneknya atau yang lainnya. Dan tentu saja, itu akan membebani keluarga besar kami, terutama kedua orang tuanya yang bukan orang mampu. Mungkin tidak akan bermsalah jika ia lahir di keluarga dengan kemampuan sesuai. Tapi dengan kondisi sekarang? Sesuatu yang tak pernah saya pikirkan itu akan membawa permasalahan besar. Bukan tidak mungkin, ia akan tumbuh menjadi anak yang selalu melihat ke atas. Bukan tidak mungkin, ia akan tumbuh menjadi anak yang kurang bisa menerima kondisi realitas dan qona’ah dengan apa adanya. Aku merasa bersalah. Tanpa sadar, aku telah mendidiknya menjadi lelaki metropolis yang brand oriented. Tanpa sadar, aku telah menanamkan budaya besar pasak daripada tiang. Tanpa sadar, aku telah mencekokinya dengan nilai-nilai hedonisme. Tanpa sadar, aku telah mengajarinya melihat penampilan lebih dari apa yang memancar dari kedalaman jiwa dan akhlak Islam.
***
Lebih dari dua puluh lima tahun lalu. Baju-baju yang kukenakan, nyaris seluruhnya adalah buatan tangan ibuku sendiri. Entah itu dari bahan katun murahan yang dijahit ibu alakadarnya maupun rajutan tangan. Seingatku, jarang sekali ibu atau bapak, dan juga keluargaku lainnya membelikanku baju bagus, apatah lagi branded punya. Nyaris semua buatan ibu, kecuali baju-baju untuk saat-saat istimewa dan itupun belum tentu setahun sekali. Tapi seingatku pula, tak pernah aku komplain kepada ibu mengenai baju-baju itu. Yang terekam dalam benakku hingga sekarang adalah bahwa dulu aku selalu bangga mengenakan baju-baju buatan ibuku. Aku selalu merasa bahwa bajuku adalah baju terbaik dan terindah dari semua orang.
Membandingkan sosok masa kecilku dengan laki-laki kecil di hadapanku saat ini membuatku berpikir tentang satu kesimpulan. Bahwa sesungguhnya, kita para orang tua lah yang sebenarnya membuat seorang anak menjadi A atau B. Bahkan sekedar masalah pakaian. Seorang anak sebenarnya tidaklah terlalu peduli dengan apa yang dikenakannya. Jiwa anak-anak yang bersih selalu dapat menerima pemberian orang tuanya sebagai sesuatu yang paling indah. Jiwa seorang anak yang selalu riang gembira akan tetap riang gembira, tanpa peduli apa pu yang dikenakannya. Sampai kemudian kita, orang dewasa, dengan sadar atau tidak, mengotori jiwanya dengan memberikan persepsi-persepsi yang tak lagi murni. Menanamkan nilai hedon. Mengajarkannya memberikan penilaian tertinggi pada apa yang tampak mata yang disebut penampilan. Dan itu berarti, menenggelamkan nilai-nilai kehidupan hakiki seperti keramahan, kebaikan hati, kejujuran, kemurah hati-an, keindahan nurani dan kebersahajaan. Ah! ****
Sesosok janin tengah tumbuh dalam rahimku. Mencari baju dan perlengkapan bayi adalah salah satu agendaku hari-hari ini. Di benakku telah terbayang baju-baju cantik, keren, lembut dan branded dari berbagai merek pakaian anak terkenal. Dorongan untuk mengunjungi counter mereka dan memilih-milih bajunya mendesak-desak perasaanku. Tapi aku tahu, ada satu hal yang harus kumulai. Mempertimbangkan segala sesuatu ketika akan melakukan sebuah tindakan. Menekan nafsuku untuk tampil cakep yang kemudian kupersonifikasikan pada si kecil. Menekan nafsu pengin mendandani.
Ya, pendidikan itu harus kumulai dari diriku sendiri, dari sekarang. Ketika janin itu bahkan masih di dalam kandungan. Karena ia akan menjadi awal dari segalanya. Termasuk, memilih baju untuk bayiku nanti. Mencoba menekan keinginan belanja baju-banju cakep dan branded di mall-mall yang kini bertebaran. Mencoba menekan nafsu pengin mempertontronkan bayiku yang cantik nanti dengan baju-baju itu. Mencoba mengedepankan fungsi dibanding tampilan. Bahwa baju untuk bayi, syarat pertamanya adalah sesuai denagn fungsinya, melindunginya dari panas dan dingin, menutup auratnya dan memberi kenyamanan yang sesuai. Dan itu tidak harus branded. Aku bisa mendapatkannya secara grosiran di pasar Jatinegara atau Tanah Abang dengan harga setengahnya. Yang penting, ia nyaman dan aman dipakai. Aku akan memulainya.

Sumber : Azimah Rahayu / Eramuslim
Qurban Kang Slamet

Masih jelas teringat di sedikit ruang hatiku, akan ketulusan seorang Tuna Netra bernama “Slamet”. Saat aku masih sekolah tingkat pertama di SMP Banyumas, Jawa Tengah Kala itu aku memutuskan untuk mencoba tinggal dan sekolah jauh dari orang tua yang berada di Jakarta. Aku tinggal bersama Bude di Desa Wogen, Kaliori Banyumas. Desa kami terletak persis di tepi sungai Serayu, yang kadang airnya hijau dan kadang coklat bila hujan turun.
Sudah menjadi kebiasaan warga desa menjadikan sungai sebagai MCK. Bukan karena malas mandi di sumur, tetapi karena keterbatasan kemampuan warganya untuk membuat sumur yang harganya cukup mahal. Hanya beberapa warga saja yang sanggup membuat sumur di rumah, dan warga yang tak mempunyai sumur akan meminta airnya untuk mengisi gentong persediaan minum dan memasak. Sementara untuk mandi, mencuci dan “membuang sisa olah makanan dalam perut” sudah tentu sungai Serayu tempatnya.
Adalah pemandangan umum, bila pagi hari para lelaki dewasa melakukan kegiatan “ngangsu”(mengambil air) dari sumur tetangga yang mampu. Tidak terkecuali Kang Slamet (begitu panggilan akrab kami untuknya) juga mempunyai kegiatan ngangsu tersebut. Meskipun dia belum lagi dewasa benar, mungkin umurnya hanya terpaut dua/tiga tahun denganku. Sungguh sebuah rutinitas cukup berat, meskipun menyehatkan. Apalagi Kang Slamet tidak seberuntung kami yang mempunyai panca indera yang lengkap. Dengan intuisi dan kebiasaan karena rutin dilakukan, dia dapat pulang pergi dari rumah orang tuanya ke sumur terdekat tanpa pernah tersesat.
Pekerjaan itu sudah dilakoninya semenjak dia berumur sembilan tahun, saat anak-anak sebayanya tertawa gembira pergi ke sekolah. Di kampung kami belum tersedia sekolah khusus tuna netra, kalau pun ada belum tentu Kang Slamet dapat ikut mengenyam pendidikan SLB yang biayanya pasti mahal. Tak akan sanggup keluarga Kang Slamet yang hanya petani “kecil” membayar uang buku, karena untuk makan saja mereka hanya mengandalkan hasil tani dari secuil tanah yang mereka miliki.
Selain ngangsu, keseharian Kang Slamet adalah “ngarit”, mencari rumput untuk pakan ternak. Karena ketekunannya, banyak tetangga yang memelihara sapi atau kambing, memakai jasa beliau mencari rumput dan sisa-sisa panen kacang & kedelai di sawah.
Satu hal yang aku kagum pada sosok pemuda yang satu ini, dia tidak pernah tertinggal sholat lima waktu. Bahkan dilakukannya di tepi sawah saat dia mencari rumput, apabila suara Adzan sudah terdengar. Sering pula dengan berjamaah di Surau milik Pak Lebe (Lebay/Ustadz).
Satu-satunya pendidikan yang dia dapat hanyalah mengaji di Surau Pak Lebe. Walau dia hanya belajar mengaji melalui pendengaran (lagi-lagi karena Al Qur’an dengan huruf Braile pasti sulit di dapat) tetapi dia cukup hafal surat-surat di Juz Amma, mungkin karena tak pernah absen mengaji dan berkat sholat Subuh berjamaah rutin yang di adakan Pak Lebe di Suraunya, sehingga Kang Slamet banyak mendengar surat-surat yang dibacakan dalam pengajian dan sholat. Tidak jarang Kang Slamet menjadi Imam bila kami anak2 dan remaja sholat berjamaah. Suaranya cukup merdu dan enak di dengar telinga.
Suatu hari, Kang Slamet mendapat kebahagiaan yang tak terperi. Pak Trunosemito, penduduk desa yang punya sedikit kelebihan harta, memberikan cempe (seekor anak kambing) jantan padanya, sebagai ucapan terima kasih atas rumput yang selalu dicarikan kang Slamet untuk kambing-kambing peliharaan. Mata “buta”nya tak dapat menutupi kebahagiaan yang terpancar menyala-nyala dari wajah.
“ Ya Gusti Alloh, syukur Alhamdulillah, nek cempene wis gedhe kulo iso melu Qurban, (Syukur Alhamdulillah, kalau anak kambingnya sudah besar, saya bisa ikut Qurban)” dengan keyakinan penuh dia berucap saat kami tanya akan di apakan anak kambing itu.
“ Lho........ apa ora eman-eman, koe iso ngingu, nek wis gedhe iso di dhol neng pasar. Duite iso di tabung (apa tidak sayang, kamu bisa memeliharanya, nanti kalau sudah besar bisa dijual di pasar. Uangnya bisa ditabung)” kami yang berkumpul mendengarkan ucapannya ikut sumbang saran.
“ He he he, ora opo opo, nggo Qurban wae (tidak apa-apa, untuk Qurban saja)” sambil tertawa lucu, kang Slamet tetap pada pendiriannya.
Waktu berlalu, kami semua melewatinya dengan rutinitas seperti biasa. Hingga suatu hari tiba musim kemarau yang amat panjang, lain seperti kemarau-kemarau sebelumnya. Sumur milik warga desa satu persatu mulai kering. Semakin jauh saja kami mendapatkan air bersih untuk memasak dan minum. Air di sungai Serayu yang mulai dangkal, meski tampak bening, hanya bisa kami gunakan untuk mandi dan mencuci saja.
Begitu pula tanaman di sawah. Tak satupun yang dapat tumbuh dan mengalahkan teriknya matahari. Para petani di desa kami hanya mengandalkan pengairan dari air hujan (sawah tadah hujan). Semua terkena dampak dari musim paceklik saat itu. Tidak terkecuali Kang Slamet, semakin jauh saja dia “ngangsu” dan “ngarit”, mencari rumput pakan ternak. Melewati jalan setapak yang baru pertama kali di rambah, tentulah bukan hal yang mudah untuk seorang tuna netra. Masih beruntung bila bisa bertemu orang lewat yang bisa di mintai tolong menunjukkan arah menuju sumur yang tidak kering. Keadaan sulit itu semakin sulit saja bagi kang Slamet, kadang hingga Maghrib dia baru bisa pulang ke rumah dengan badan luluh lantak karena seharian memikul air dan rumput yang tidak seberapa banyak, tetapi jarak yang di tempuh cukup untuk mengitari seluruh desa.
Kang Slamet juga manusia, tak selamanya fisiknya dapat tetap bugar melawan putaran perubahan alam. Akhirnya dia tumbang juga, jatuh sakit. Hampir satu minggu dia tidak muncul melakukan rutinitas seperti biasa. Tugas “ngangsu” sementara digantikan oleh sang Bapak yang mulai renta.
Setelah lewat satu minggu, kesehatan kang Slamet belumlah pulih benar, kembali cobaan menghampirinya. Anak kambing peliharaannya yang mulai besar, tiba-tiba mati. Mungkin tertular penyakit hewan musiman, atau bisa jadi mati kekurangan pakan karena memang sudah lebih seminggu ini tak ada yang memperhatikan.
Anak malang itu sedih bukan alang kepalang. Harta satu-satunya yang dia punya diambil oleh Yang Maha Memiliki. Sirna sudah harapan kang Slamet untuk dapat ber-Qurban.
Beberapa hari setelah berita kematian kambingnya, kami melihat kang Slamet terpekur bersimpuh di sudut Surau. Air bening meleleh deras di kedua pipinya.
Kami tak sampai hati untuk menegurnya ataupun mengucapkan sekedar salam. Hingga datang pak Lebe ke Surau saat Ashar tiba. Melihat yang terjadi, dengan tenang beliau menghampiri bocah yang sedang dirundung nestapa itu.
“ Ono opo tho Met ? Cah lanang koq nangis ? (Ada apa Met ? Anak laki-laki koq nangis ?)” dengan lembut dan seolah-olah tak tahu kejadian yang terjadi, pak Lebe menepuk pundak kang Slamet.
Kang Slamet tak langsung menjawab, tangan kekarnya berusaha menutupi air mata yang mengalir. Dengan sisa sesenggukan yang ada dia berkata, “ Kulo ora iso Qurban pak, sak umur-umur uripku, wedhus iku sing dhadhi karepku nggo tak persembahke ke Gusti Alloh.(Saya tidak bisa ber-Qurban pak, seumur hidupku, kambing itu yang jadi harapan untuk dipersembahkan pada Gusti Allah)”
“ mmmm......... Gusti Alloh ngerti kekuatan hamba-hambaNya. Ndak mungkin Gusti Alloh mekso-mekso (memaksa) yen (kalau) hambaNya ndak sanggup.”dengan sangat tenang dan teduh pak Lebe mengobati kesedihan kang Slamet.
“ Jalaran keikhlasan....wedhuse wis ngenteni awakmu ning Syurgo, kanggo tungganganmu ngesuk ning akherat (Karena keikhlasan.....kambingnya sudah menantimu di Surga, untuk kendaraanmu kelak di akhirat)” kalimat terakhir pak Lebe ini yang tidak bisa ku lupa hingga detik ini.
Kini, aku tidak tahu lagi keberadaan dan kabar kang Slamet, hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu peristiwa ini terjadi, aku belum bisa menghilangkan rasa “iri”ku pada sosok pemuda tuna netra dengan keikhlasan yang tanpa batas, menembus akal sehat orang yang bekerja di kota besar seperti diriku saat ini. Yang akan sangat berat melepas sebagian hartanya untuk di qurbankan di jalan Allah, apalagi mempersembahkan seluruh harta yang di miliki untuk Allah sang Pemilik Sesungguhnya seluruh alam dan isinya. Kami pekerja kantoran, yang tidak perlu “ngangsu” beratus-ratus meter dengan telanjang kaki hanya untuk mendapatkan dua ember air, dan tak perlu bertahun-tahun “ngarit” hanya untuk seekor anak kambing, tidak mempunyai keikhlasan yang penuh untuk ber-Qurban di jalanNya.
Kami yang mencari rizqi di tempat luar biasa mewah, di atas gedung tinggi menghujam langit, dengan suasana nyaman, duduk di kursi empuk, lebih memilih membeli hewan Qurban “patungan” sumbangan perusahaan dari pada menyediakan sendiri Qurban-nya dari harta yang banyak tersimpan.
Kang Slamet pemuda tuna netra dan miskin, seperti kata pak Lebe, sudah memiliki sendiri kendaraan yang akan digunakannya kelak di akhirat. Sedangkan kami yang berkecukupan hanya menyediakan se-ekor sapi untuk kami tunggangi bersama-sama ratusan orang satu kantor.
dari lantai sebelas sebuah gedung tinggi di Sudirman, 06 November 2008(dipersembahkan untuk Kang Slamet, teman satu desa yang kini entah berada di mana) Aku sangat iri padamu Kang.

Sumber: Jojo Wahyudi / Eramuslim
Orang Beriman Tidak Mengalami Kiamat

Kiamat merupakan hari yang sangat dahsyat di mana Allah subhaanahu wa ta’aala taqdirkan terjadinya kehancuran total seluruh alam atas kehendak-Nya sendiri. Allah subhaanahu wa ta’aala yang menciptakan segala sesuatu berhak dan tentunya Maha Kuasa untuk menghancurkan semuanya. Pada hari itu gunung-gunung akan diterbangkan seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Bintang-bintang pada berjatuhan, unta-unta bunting ditinggalkan alias tidak diperdulikan, binatang-binatang liar dikumpulkan sedangkan lautan dipanaskan.

Sungguh, peristiwa berlangsungnya kiamat merupakan peristiwa yang sangat menakutkan dan menggoncangkan jiwa manusia. Bila kita cermati ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan peristiwa kiamat, maka kita akan segera melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana manusia bisa selamat dari peristiwa tersebut. Dan memang, tidak ada yang bakal selamat dari kejadian kiamat. Hari tersebut merupakan puncak kehancuran alam raya dunia fana ini.

Berbagai kehancuran alam yang terjadi di masa lalu sepanjang sejarah manusia seringkali digambarkan Al-Qur’an sebagai bentuk azab Allah subhaanahu wa ta’aala kepada kaum-kaum terdahulu yang membangkang kepada para Nabi utusan Allah ’alaihimus-salaam. Oleh karenanya, peristiwa kiamat bisa dikatakan sebagai puncak azab bagi manusia yang tersisa di saat itu. Dan hal ini selaras dengan keterangan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dalam haditsnya di mana dikatakan bahwa peristiwa kiamat hanya menimpa orang-orang yang jahat.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ النَّاسِ

“Kiamat tidak akan berlangsung kecuali menimpa atas orang-orang yang paling jahat.” (HR Muslim 5243)

Lalu di mana keberadaan orang-orang beriman alias kaum muslimin saat kiamat terjadi? Berdasarkan hadits-hadits shohih, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa sebelum kiamat terjadi saat tanda-tanda besar mulai bermunculan, maka begitu sudah dekat sekali menjelang terjadinya kiamat Allah subhaanahu wa ta’aala akan mendatangkan sebuah angin sejuk yang menyebabkan setiap orang beriman menemui ajalnya saat tersentuh angin tersebut. Sebab Allah subhaanahu wa ta’aala tidak akan mengizinkan kiamat terjadi ketika masih ada kaum beriman di muka bumi walau seorangpun.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ رِيحًا مِنْ الْيَمَنِ أَلْيَنَ مِنْ الْحَرِيرِ فَلَا تَدَعُ أَحَدًا فِي قَلْبِهِ قَالَ أَبُو عَلْقَمَةَ مِثْقَالُ حَبَّةٍ و قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ

”Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala akan mengutus suatu angin yang lebih lembut dari sutera dari arah Yaman. Maka tidak seorangpun (karena angin tersebut) yang akan disisakan dari orang-orang yang masih ada iman walau seberat biji dzarrah kecuali akan dicabut ruhnya.” (HR Muslim 1098)

Setelah Allah subhaanahu wa ta’aala mencabut nyawa semua orang beriman, termasuk orang yang di dalam hatinya terdapat sedikit keimanan, Allah subhaanahu wa ta’aala mendatangkan kiamat sebagai balasan atas kekufuran dan kemusyrikan yang dilakukan manusia yang masih hidup di muka bumi. Demikianlah yang dijelaskan hadits Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلَا يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ … فَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ فِي خِفَّةِ الطَّيْرِ وَأَحْلَامِ السِّبَاعِ لَا يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا فَيَتَمَثَّلُ لَهُمْ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ أَلَا تَسْتَجِيبُونَ فَيَقُولُونَ فَمَا تَأْمُرُنَا فَيَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَهُمْ فِي ذَلِكَ دَارٌّ رِزْقُهُمْ حَسَنٌ عَيْشُهُمْ ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ

Rasulullah bersabda: “Kemudian Allah melepaskan angin dingin yang berhembus dari Syam. Maka tidak seorangpun dari manusia yang beriman kecuali dicabut nyawanya... sehingga yang tersisa hanya manusia jahat yang tidak memiliki keimanan. Mereka tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk hingga syetan muncul dan berkata: ”Mengapa kalian tidak memenuhi seruanku saja?” Mereka menjawab: ”Apa yang kalian perintahkan pada kami?” Syetan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah berhala. Maka merekapun mengikuti saran tersebut. Sedangkan mereka berada dalam kehidupan yang serba berkecukupan, kemudian ditiuplah sangkakala (hari kiamatpun datang).” (HR Muslim 14/175)

Maka, saudaraku, marilah kita menjaga ni’mat yang paling istimewa ini, yakni ni’mat iman dan Islam di dalam dada kita hingga akhir hayat tiba. Marilah kita beristiqomah dalam iman dan Islam, sebab kita tidak tahu kapan persisnya Allah subhaanahu wa ta’aala datangkan angin yang akan mencabut nyawa setiap mu’min tersebut. Tapi suatu hal yang pasti, marilah kita berdoa semoga ketika Allah subhaanahu wa ta’aala taqdirkan angin itu berhembus kita tidak termasuk yang dibiarkan hidup sehingga harus mengalami hari dahsyat kiamat.

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam ketaatan kepadaMu.” (HR Muslim 13/119)


Sumber: Eramuslim
Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat

Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sedemikian kuatnya mengkondisikan ummatnya untuk menghayati betapa hari Kiamat telah dekat. Sehingga dalam suatu khutbah beliau digambarkan ibarat seorang komandan perang yang memperingatkan pasukannya agar selalu dalam keadaan full alert alias waspada siaga satu.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ’anhu: “Adalah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bila menyampaikan khotbah mata beliau memerah, suara meninggi dan sangat marah, seakan-akan panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya dengan aba-aba: “Awas! Berjaga-jagalah kalian pada pagi hari dan petang harimu!” dan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Aku dan hari kiamat diutus (berdampingan) seperti ini.” Dan beliau menghimpun jari telunjuk dengan jari tengahnya.”(HR Muslim 4/359)

Bayangkan..! Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diriwayatkan sebagai memerah matanya, meninggi suaranya dan berkhutbah dalam keadaan sangat marah...! Sungguh persis seperti seorang komandan di tengah medan jihad yang sedang memberi arahan kepada pasukannya. Beliau samasekali tidak ingin seorangpun pasukannya lengah dalam mengantisipasi gerak musuh. Sebab kelengahan pasukan bisa menyebabkan musuh berhasil menjebol benteng ummat dan itu berarti seluruh ummat Islam bakal terancam nyawanya. Sungguh, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sangat mematuhi arahan Allah subhaanahu wa ta’aala di dalam ayat di bawah ini:
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا
“Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari itu (kiamat) sudah dekat waktunya.” (QS Al-Ahzab ayat 63)
Memang sudah sepantasnya kita ummat Islam yang hidup di zaman ini menghayati bahwa hari Kiamat sudah dekat. Mengapa? Karena bila kita ingat bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan penutup rangkaian nabi-nabi Allah subhaanahu wa ta’aala berarti kita merupakan penutup berbagai ummat. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita merupakan Ummat Akhir Zaman. Dan berdasarkan hadits Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam, kita dewasa ini sedang menjalani kehidupan di babak keempat dari lima babak yang bakal dilalui ummat Islam hingga menjelang dekatnya kedatangan hari Kiamat.
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم يكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت (أحمد)
”Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang memaksakan kehendak dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau terdiam.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 37/361)

Babak pertama, yaitu babak Kenabian telah berlalu. Ia merupakan masa di mana ummat Islam –yakni para sahabat radhiyallahu ’anhum- hidup bersama Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sejak awal beliau diutus hingga berpulang ke rahmatullah.

Babak kedua, yaitu babak Kekhalifahan yang mengikuti manhaj Kenabian juga telah berlalu. Ia ditandai dengan munculnya para khulafa ar-rasyidin, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum.

Babak ketiga, yaitu babak raja-raja yang menggigit juga telah berlalu. Ia ditandai dengan masa di mana ummat memiliki para pimpinan yang dijuluki khalifah-khalifah namun pola suksesinya menerapkan pola kerajaan alias pola oligarkhi atau sistem waris-mewarisi tahta kerajaan. Mereka dijuluki raja-raja yang menggigit karena mereka masih ”menggigit” Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Babak ini berlangsung sangat lama sekitar 13 abad...! Sejak Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Ustmani Turki. Ia berakhir pada tahun 1924 atau 1342 Hijriyyah.

Semenjak babak ketiga berlalu, maka ummat Islam memasuki babak keempat, yakni babak raja-raja yang memaksakan kehendak. Babak ini belum berlalu. Kita sedang menjalani babak ini. Suatu babak yang sering disebut sebagai the darkest ages of the Islamic History. Tanda bahwa babak ini belum berakhir ialah fakta bahwa babak kelima, yakni babak kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian belum muncul kembali. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menginformasikan kepada kita bahwa babak penuh keadilan dan kejayaan Islam tersebut pasti bakal muncul. Kapankah ia akan muncul? Wallahu a’lam bish-showwab.

Suatu hal yang pasti, kalau kita umpamakan perjalanan kelima babak perjalanan sejarah ummat Islam ini sebagai sebuah skenario film, maka ia sangat layak disebut sebagai film berjudul Akhir Zaman. Dan kalau kita mengikuti sebuah cerita yang mengandung lima babak dan kita tahu bahwa kita sudah sampai ke babak keempat, saya kira sudah sepantasnya kita beranggapan bahwa ini bukanlah masih di awal cerita, atau di bagian pertengahannya. Namun lebih wajar dikatakan bahwa ini sudah menjelang akhir dari rangkaian cerita.

Berarti, saudaraku, tidakkah pantas kitapun mengucapkan apa yang Allah subhaanahu wa ta’aala telah firmankan di dalam Kitab-Nya: BOLEH JADI KIAMAT SUDAH DEKAT WAKTUNYA...!

Marilah kita jauhi sikap santai dan acuh tak acuh terhadap fenomena hidup di Akhir Zaman menjelang datangnya Kiamat. Marilah kita tingkatkan pengetahuan dan keyakinan kita akan tanda-tanda menjelang datangnya Kiamat agar kita dapat mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan skenario ilahi yang bakal –insyaAllah- pasti terjadi. Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala memasukkan kita ke dalam golongan yang tidak salah mensikapi segenap tanda demi tanda Akhir Zaman yang kian membenarkan kenabian Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

Sumber: Eramuslim
Adam As dan Masa Depan Keturunannya

Ketika Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menempuh perjalan Isra Mi’raj untuk menerima langsung perintah sholat lima waktu dari Allah subhaanahu wa ta’aala beliau menyaksikan banyak kejadian luar biasa. Di antaranya tatkala beliau bersama Malaikat Jibril ’alahis salam tiba di langit pertama (langit dunia) beliau berjumpa dengan Abul-Basyar (ayahnya ummat manusia), yaitu Nabiyullah Adam ’alahis salam.
فَلَمَّا فَتَحَ عَلَوْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَإِذَا رَجُلٌ قَاعِدٌ عَلَى يَمِينِهِ أَسْوِدَةٌ وَعَلَى يَسَارِهِ أَسْوِدَةٌ إِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَمِينِهِ ضَحِكَ وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ يَسَارِهِ بَكَى فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالِابْنِ الصَّالِحِ قُلْتُ لِجِبْرِيلَ مَنْ هَذَا قَال هَذَا آدَمُ وَهَذِهِ الْأَسْوِدَةُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ نَسَمُ بَنِيهِ فَأَهْلُ الْيَمِينِ مِنْهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ وَالْأَسْوِدَةُ الَّتِي عَنْ شِمَالِهِ أَهْلُ النَّارِ فَإِذَا نَظَرَ عَنْ يَمِينِهِ ضَحِكَ وَإِذَا نَظَرَ قِبَلَ شِمَالِهِ بَكَى
“Ketika dibuka, kamipun naik ke langit dunia. Ternyata di sana terdapat seorang laki-laki sedang duduk, di sebelah kiri dan kanannya ada kelompok orang dalam jumlah yang besar. Apabila dia melihat ke arah kanannya, maka ia tertawa; dan apabila melihat ke arah kirinya, dia menangis. Laki-laki itu berkata: ”Selamat datang hai Nabi yang sholeh dan anak yang sholeh.” Aku bertanya kepada Jibril: ”Siapakah ini?” Jibril berkata: ”Ini adalah Adam. Sedangkan kelompok yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh anak keturunannnya. Kelompok yang ada di sebelah kanan adalah penghuni surga, sedangkan kelompok yang ada di sebelah kirinya adalah penghuni neraka. Apabila ia melihat ke arah kanannya ia tertawa, dan apabila melihat ke arah kirinya ia menangis.” (HR Bukhary 2/80)
Saat itu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam disambut oleh Nabi Adam ’alahis salam dengan ucapan: ”Selamat datang hai Nabi yang sholeh dan anak yang sholeh.” Tampak sekali betapa gembira dan bangganya Nabi Adam ’alahis salam melihat keturunannya itu yang ditunjuk Allah ta’aala sebagai Penghulu para Nabi dan Rasul, yaitu Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.
Saat itu Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam melihat Nabi Adam ’alahis salam sambil duduk tertawa saat memandang ke sekumpulan orang di arah sebelah kanannya, lalu menangis saat memandang ke sekumpulan orang di arah sebelah kirinya. Maka ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam meminta penjelasan Malaikat Jibril ’alahis salam mengenai kejadian aneh tersebut, maka beliau mengatakan bahwa saat memandang ke kanan Nabi Adam ’alahis salam tertawa karena gembira melihat anak keturunannya yang berada di surga. Sedangkan saat beliau memandang ke kiri menangis karena sedih melihat anak keturunannya yang masuk neraka.
Menurut penulis kitab Fathul Baari, yaitu Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah bahwa boleh jadi yang diperlihatkan kepada Nabi Adam ’alahis salam adalah kumpulan ruh anak keturunannya sebelum ditiupkan ke dalam jasadnya masing-masing namun sudah ditetapkan terlebih dahulu oleh Allah ta’aala bakal menjadi penghuni surga atau penghuni neraka. Itulah yang disaksikan oleh Nabi Adam ’alahis salam sehingga ia tertawa dan menangis. Persisnya inilah yang ditulis oleh Imam Al-Asqalani rahimahullah: ”Ada pula kemungkinan bahwa ruh yang ditampakkan adalah ruh yang belum masuk ke dalam jasad, di mana ruh-ruh tersebut telah diciptakan sebelum adanya jasad dan tempatnya berada di arah kanan dan kiri Adam ’alahis salam. Lalu Adam ’alahis salam mengetahui akhir perjalanan ruh-ruh itu. Oleh sebab itu beliau merasa gembira bila melihat ke arah kanan dan bersedih jika melihat ke arah kiri. Dengan demikian yang dimaksud bukanlah ruh yang ada di dalam jasad atau ruh yang telah berpisah dengan raga dan kembali ke tempatnya, baik di surga ataupun neraka.”
Hadist di atas selaras dengan hadits lainnya di mana Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menerangkan bahwa saat Allah ta’aala tetapkan taqdir pada janin dalam rahim ibunya maka salah satu perkara yang Allah ta’aala tetapkan berkenaan dengan apakah ujung akhir perjalanan calon anak manusia tersebut sengsara (masuk neraka) ataukah bahagia (masuk surga).
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ
Dari Abdullah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menceritakan kepada kami: ”Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan pada perut ibunya selama 40 hari, kemudian ia menjadi segumpal darah sama seperti itu (selama 40 hari), kemudian ia menjadi segumpal daging sama seperti itu (selama 40 hari), kemudian Allah ta’aala mengutus malaikat kepadanya dengan membawa empat kalimat: ditulis amalnya, ajalnya, rezekinya, apakah ia sengsara atau bahagia. Kemudian dihembuskan kepadanya ruh. Maka sesungguhnya seseorang melakukan amalan penghuni neraka hingga tidak ada antara dirinya dan neraka kecuali satu hasta namun tulisan telah mendahuluinya, maka ia melakukan amalan penghuni surga lalu masuk surga. Dan sesungguhnya seseorang melakukan amalan penghuni surga hingga tidak ada antara dirinya dan surga kecuali satu hasta namun tulisan telah mendahuluinya, maka ia melakukan amalan penghuni neraka lalu masuk neraka.” (HR Bukhary 11/113)

Sumber: Eramuslim
Jenazah Orang Beriman Ingin Kiamat Disegerakan

Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa bila seorang beriman menemui ajalnya, maka ia akan sangat bergembira. Mengapa? Sebab saat kematian menjemputnya ia disambut dengan informasi bahwa dirinya memperoleh ke-ridha-an dan kemuliaan dari Allah ta’aala. Lalu keadaan itu menyebabkan dirinya semakin rindu dan ingin segera berjumpa dengan Allah ta’aala. Lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa bila seseorang rindu dan ingin berjumpa dengan Allah ta’aala, maka Allah ta’aala -pun akan rindu dan ingin berjumpa dengan hamba-Nya tersebut di hari Berbangkit. Begitulah kemuliaan yang dianugerahkan bagi seorang yang beriman.
Namun sebaliknya, seorang kafir akan berada dalam kegoncangan luar biasa saat dirinya menemui ajalnya. Sebab saat itu ia disambut dengan kabar bahwa azab dan siksa Allah ta’aala menantinya. Hal ini akan membuat dirinya semakin enggan dan tidak mau berjumpa dengan Allah ta’aala. Dan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjanjikan bahwa bagi orang yang enggan berjumpa dengan Allah ta’aala berarti Allah ta’aala –pun akan enggan dan tidak mau berjumpa dengan hambaNya tersebut di hari Berbangkit.
الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
”Bila seorang mu’min menemui kematian, maka ia digembirakan dengan ke-ridha-an Allah ta’aala dan kemuliaan dariNya. Maka tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai selain apa yang ia lihat. Maka ia ingin berjumpa dengan Allah ta’aala dan Allah ta’aala-pun ingin berjumpa dengannya. Sedangkan bila seorang kafir menemui kematian, maka ia digembirakan dengan azab Allah ta’aala dan siksa-Nya. Maka tidak ada sesuatupun yang lebih ia benci daripada apa yang apa yang ia lihat. Ia benci berjumpa dengan Allah ta’aala dan Allah ta’aala-pun benci berjumpa dengannya.” (HR Bukhary 20/165)
Itulah rahasianya mengapa jenazah orang beriman hanya mengajukan satu permintaan kepada Allah ta’aala ketika berada di dalam kuburnya. Ia akan sibuk sepanjang keadaannya di alam Barzakh tersebut meminta kepada Allah ta’aala agar hari Kiamat disegerakan kedatangannya.
فَيَقُولُ رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي
Maka jenazah itupun berdoa:”Ya Rabb, segerakanlah datangnya hari kiamat sehingga aku dapat berkumpul kembali dengan keluargaku dan hartaku.” (HR Ahmad 37/490)
Mengapa jenazah orang beriman memohon kepada Allah ta’aala agar hari Kiamat disegerakan? Karena setiap pagi dan petang ia diperlihatkan preview atau trailer calon tempat tinggalnya di akhirat kelak. Dan ternyata tempat itu adalah surga dengan segenap keindahan dan kenikmatannya. Sedangkan ia tahu bahwa satu-satunya hal yang membatasi dirinya untuk masuk ke surga adalah peristiwa Kiamat. Bilamana kiamat telah datang setiap manusia yang telah meninggal akan dibangkitkan kembali. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang setelah dibangkitkan lalu dimasukkan Allah ta’aala ke dalam surgaNya. Jelaslah jenazah mu’min tidak sabar menunggu hal itu. Maka ia hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah ta’aala agar Kiamat disegerakan.
فَأَفْرِشُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ قَالَ فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ فَيَقُولُ رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي (أحمد)
Maka dibentangkanlah surga baginya, dipakaikan baju dari surga, dibukakakan satu pintu baginya menuju ke surga, didatangkan kepadanya aroma dan sejuknya surga dan diluaskan makamnya sejauh mata memandang. Datang seseorang berwajah bagus, berpakaian bagus dan beraroma semerbak berkata: ”Bergembiralah engkau dengan hari bahagia yang dijanjikan untukmu ini.” Dia bertanya: ”Siapa kamu, sepertinya datang dengan wajah yang baik?” Iapun menjawab: ”Akulah ‘amal sholeh-mu.” Maka jenazah itupun berdoa: ”Ya Rabb, segerakanlah datangnya hari kiamat sehingga aku dapat berkumpul kembali dengan keluargaku dan hartaku.” (HR Ahmad 37/490)
Sebaliknya, jenazah orang kafir hanya mengajukan satu permintaan kepada Allah ta’aala ketika berada di dalam kuburnya. Ia akan sibuk sepanjang keadaannya di alam Barzakh tersebut meminta kepada Allah ta’aala agar hari Kiamat tidak terjadi.
فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمْ السَّاعَةَ
Maka jenazah itupun berdoa:”Ya Rabb, janganlah Engkau datangkan hari kiamat.” (HR Ahmad 37/490)
Mengapa jenazah orang kafir memohon kepada Allah ta’aala agar hari Kiamat tidak terjadi? Karena setiap pagi dan petang ia diperlihatkan preview atau trailer calon tempat tinggalnya di akhirat kelak. Dan ternyata tempat itu adalah neraka dengan segenap siksaan dan kesengsaraannya. Sedangkan ia tahu bahwa satu-satunya hal yang membatasi dirinya untuk masuk ke neraka adalah peristiwa Kiamat. Bilamana kiamat telah datang setiap manusia yang telah meninggal akan dibangkitkan kembali. Maka orang yang celaka adalah orang yang setelah dibangkitkan lalu dimasukkan Allah ta’aala ke dalam nerakaNya. Jelaslah jenazah kafir tidak ingin hal itu menjadi kenyataan. Maka ia hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah ta’aala agar Kiamat jangan sampai terjadi. Padahal Kiamat insyaAllah pasti terjadi..!
فَافْرِشُوا لَهُ مِنْ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمْ السَّاعَةَ
Maka dibentangkanlah neraka baginya, dibukakakan satu pintu baginya menuju ke neraka, didatangkan kepadanya panas neraka dan aromanya dan disempitkankan makamnya sehingga hancurlah tulang-belulangnya. Datang seseorang berwajah jelek, berpakaian buruk dan berbau busuk berkata: ”Bergembiralah engkau dengan hari celaka yang dijanjikan untukmu ini.” Dia bertanya: ”Siapa kamu, sepertinya datang dengan wajah keburukan?” Iapun menjawab: ”Akulah ‘amal buruk-mu.” Maka jenazah itupun berdoa: ”Ya Rabb, janganlah datangkan hari kiamat.” (HR Ahmad 37/490)

Sumber: Eramuslim