Kamis, 08 Oktober 2009

Menengok Keserakahan Indonesia dari Bumi India


Dalam sebuah ceramah akbar di Dubai-UAE beberapa tahun lalu, saya sempat bertanya kepada Dr. Zakir Naik, ulama besar asal India, ahli perbandingan agama yang tersohor namanya. Subyek pertanyaan saya adalah mengapa Islam boleh dikata tidak berhasil di India padahal India pernah di bawah sebuah kerajaan besar Islam, misalnya kekaisaran Mughal yang terkenal dengan Taj Mahal, atau Kerajaan Mysore yang terkenal pula dengan Isnata Maysore yang terindah didunia, bahkan melebihi Istana Birmingham. Dr. Zakir Naik menjawab, bahwa petinggi-petinggi kerajaan Islam di India waktu itu lebih memfokuskan kepada bangunan-bangunan fisik ketimbang dakwah Islam. Itulah salah satu faktor utama mengapa Islam malah menjadi minoritas di sana.
Ingin mengetahui lebih dekat jejak-jejak kebesaran Islam di India inilah yang manjadi salah satu motivasi saya untuk ingin melihat dari dekat apa dan bagaimana sebenarnya India. Disamping tentu saja banyak hal yang melatar-belakangi kunjungan saya, misalnya silaturahim dengan rekan-rekan kerja saya yang sudah mengundurkan diri, melihat institusi pendidikan serta mencari buku-buku India sesuai dengan profesi saya.
Banyak hikmah yang bisa depetik dari rangkaian perjalanan saya selama dua minggu di India, di empat negara bagian: Karnataka, Kerala, Delhi dan Uthar Pradesh. Jika dijabarkan satu persatu, terlalu panjang untuk diungkap di sini. Yang saya ingin soroti, dan semoga membawa hikmah bagi kita adalah, bahwa meskipun India kelihatannya miskin (padahal pertumbuhan ekonominya di atas Indonesia), nyatanya tidak semiskin yang kita sangka. Malah bumi kita yang dari kacamata saya, yang mestinya amat kaya raya ini, dihuni oleh orang-orang serta kepemimpinan bangsa yang serakah.
***** Saya mendarat di Bandara Internasional Bajpe-Karnataka, dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Tidak ada kesan bahwa bulan itu adalah Bulan Suci Ramadan. Maklum, India mayoritas penghuninya adalah umat Hindu. Saya sendiri berbuka puasa di atas pesawat, dengan suguhan Upuma dan Wadha. Dua makanan tradisional India yang amat murah harganya. Itu pun, sebenarnya jatah makan siang yang saya taruh di depan kursi pesawat untuk bekal berbuka. Saya tahu, mereka tidak akan menyiapkan untuk yang berpuasa. Lagi pula, budget airline seperti Air India Express yang kami tumpangi tidak memberikan pelayanan istimewa kepada penumpang.
Bandara Internasional Mangalore ini amat sederhana. Orang-orangnya tertib antri menunggu giliran pengecekan Flu Babi oleh petugas kesehatan. Tidak terlalu lama prosesnya. Saya segera keluar menuju kota Karkala, sebuah kota kecil sekelas kecamatan di negeri kita, sekitar 75 km dari bandara. Seorang rekan lama bersama keluarganya menjemput saya. Malam itu bandara diguyur gerimis.
Zahoor Ahmad, nama rekan saya, bersama keluarganya, begitu ramah menyambut kedatangan saya diteruskan dengan hari-hari berikutnya menjamu saya sebagai tamu. Mulai dari makanan, diantarkannya saya ke sejumlah tempat bersejarah serta wisata, menikmati suasana Lebaran di daerahnya, serta tentu saja mengunjungi sanak familinya di sejumlah kota.
***** Kekaguman di hari pertama saya terhadap orang-orang India (setidaknya itu yang saya temui di rumah Zahoor) adalah, binatang-binatang sekelas Burung Merak, berterbangan di halaman rumah. Bahkan masuk ke ruang tamu serta dapur. Padahal burung-burung indah ini tidak dipelihara alias liar. Orang India sepertinya tidak terbiasa memiliki burung-burung dalam sangkar. Atau pemerintah memang tidak mengijinkan, wallahu a’lam!
Di kota-kota lain yang saya kunjungi, seperti Kannur, Calicut, Mangalore, Maysore, Agra, Bangalore hingga Ibu Kota Delhi, juga saya tidak melihat orang-orang yang memelihara binatang-binatang langka di rumahnya. Barangkali hal ini yang membuat binatang-binatang atau burung-burung ini akrab dengan manusia-manusia India. Anak-anaknya Zahoor bahkan dengan akrabnya memberikan makanan pada Burung Merak. Padahal rumah indahnya tidak terletak di tengah hutan belantara seperti Papua. Burung-burung seperti Jalak, Merpati, Camar hingga Tupai yang beragam warnanya, saya temui di banyak tempat berkeliaran yang membuat lingkungan kita merasa asri.
Saya sering mendengar atau membaca di Koran tentang keburukan politisi India. Tapi rasanya tidak sebanding dengan di negeri kita utamanya dalam soal pemeliharaan lingkungan hidup. Saya pernah melihat sungai kotor di Delhi. Tapi pemandangan yang sama tidak saya temukan di kota-kota lainnya. Di Kannur misalnya, sungai masih hijau dan jernih. Padahal sungai besar, lebarnya tidak kurang dari 200 meter. Bau selokan di kota-kota India, tidak seperti yang saya temui di Jakarta atau Surabaya.
Hal ini pertanda bahwa orang-orang India tidak serakah terhadap kekayaan alam atau ingin memilikinya. Hutan Papua milik kita, gunung emas di sana ‘dirampok’ dan digadaikan ke orang asing. Orang kita secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan juga memeliharan binatang atau burung-burung langka, sebagai bagian dari kebanggaan mereka. Saya tidak melihat, jangankan pasar burung, orang jualan sangkar saja sulit ditemui, meski mungkin saja ada di sana. Pabrik-pabrik di negeri kita banyak yang (Baca: dengan ‘seijin’ penguasa) seenaknya membuang limbah.
***** Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah cara berpakaian orang India. Kita memang tahu, orang India suka mengenakan Sari, pakaian tradisional kaum Hawa yang melingkar di tubuh. Bagi kaum Hindu, memang tidak seluruh tubuh tertutup. Sebagian (maaf) perut, terbuka. Namun tidak semua orang Hindu mengadopsi cara mengenakan Sari seperti ini, terutama kaum mudanya. Apalagi Muslimah India. Tertutup. Laki-laki India juga bangga mengenakan Shalwar Gameez atau Kurta atau Dhoti dan lain-lain pakaian tradisional. Zahoor member saya Kurta yang saya kenakan pada saat Lebaran.
Perempuan India, betapapun dari kalangan modern di tengah kota, bangga dengan pakaian tradisional mereka. Sutera di India jauh lebih murah dibanding Indonesia. Kekayaan tekstil yang dimiliki India menjadikan salah satu modal mereka tidak tergoyah ingin meniru dengan pola berpakaian ala Barat. Sekalipun kita tahu di film-film India banyak yang berpakaian seronok. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak demikian yang saya temui. Apalagi pakaian mini seperti yang kita temui di negeri ini. Sepertinya tabu, jika anak-anak atau perempuan-perempuan mereka mengenakan rok mini atau celana ketat. Padahal dalam segi pendidikan dan pergaulan, keponakan-keponakan atau saudara Zahoor misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi setingkat dokter dan insinyur, mereka tidak tergiur dengan pola pakaian Barat yang mati-matian kita adop di negeri kita.
***** Budaya konsumsi orang India juga tidak seperti yang kita lihat dalam film-film mereka. Di Karkala, di tengah pasar, saya sulit mendapatkan kertas Tissue. Setelah mengunjungi 10 toko, baru saya mendapatkannya. Itupun sudah usang dan kartun pembungkusnya pun robek. Orang sana tidak tergiur dengan budaya menggunakan tissue. Mereka lebih senang mengantongi sapu tangan. Lagi pula di rumah-rumah, apakah itu di bagian depan, samping atau belakang, umumnya tersedia pipa air untuk cuci tangan atau kaki. Di ruang makan juga tersedia wastafel atau tempat cuci tangan. Jadi mengapa harus menyediakan tissue? Barangkali begitulah pola pikir mereka.
Pasar India tidak seterbuka pasar kita memang. Barang-barang yang ada di sana mayoritas buatan dalam negeri. Sepanjang perjalanan saya di empat negara bagian ini, jarang sekali saya menemui kendaran Toyota. Sesekali saya memang jumpai Innova. Selebihnya, entahlah, orang India lebih bangga mengendarai Maruti, Tata serta Bajaj, hasil rakitan mereka sendiri yang tidak semewah Corolla atau BMW.
India begitu bangga dengan hasil karya mereka sendiri serta tidak silau dengan buatan orang lain, apakah itu Jerman, Amerika hingga Jepang. Mulai dari pakaian, makanan, bahan bangunan, hingga gaya hidup. India tidak serakah dengan gemerlap dari luar pagar negara di anak benua Asia bagian Selatan ini.
*****Saya menyempatkan melihat buku-buku pelajaran milik dua anak rekan saya, bernama Zaman (kelas dua SMP) dan Zeeshan (kelas 2 SMA). Buku-buku mereka nampak sederhana sekali. Kualitas kertas nya tidak sebagus sebagian besar anak-anak sekolah kita. Saya menemui seorang Dekan di Universitas Manipal dengan mudah. Pula diterima oleh sekretarisnya penuh keramahan. Padahal saya hanyan ingin mmendapatkan sekedar informasi. Di perguruan tinggi kita, jangan harap diterima seorang dekan untuk urusan yang satu ini.
Saya mengunjungi sebuah perguruan tinggi terkenal, Manipal University di kota Manipal. Gedungnya tidak mentereng. Ruang-ruang kuliahnya tidak ber-AC, padahal jika musim panas tiba, suhunya bisa mencapai lebih dari 40 derajat. Berarti panas sekali. Bangku-bangku kayu juga sudah tua untuk ukuran kita, yang bisa diduduki oleh 4 mahasiswa. Dosen-dosen mereka juga kelihatan sederhana. Hal ini bisa saya ketahui lewat pola pakaian mereka serta tentu saja kendaraannya.
Biaya sekolah hingga kuliah tergolong murah sekali. Mengantongi MBA dalam dua tahun hanya menelan biaya sekitar Rp 10 juta, sebuah jumlah yang amat sedikit di negeri kita untuk program pasca sarjana. Uang saku Zaman, ketika saya tanya, dia bilang hanya diberi Ibunya Rupees 150 (tidak lebih dari Rp 40 ribu) per bulan. Berarti hanya Rp 1000 per hari. Apa artinya Rp 1000 di negeri ini? Dia juga berangkat ke sekolah dengan sandal saja. Tapi kemampuan Bahasa Inggrisnya ‘ngewes’, selancar anak-anak kita berbicara Bahasa Jawa saja di kampung-kampung.
Buku-buku India murah sekali. Saya belanja tidak kurang dari 18 kg untuk buku-buku yang sulit mendapatkannya di Tanah Air. Buku-buku profesi yang saya dapatkan dari sana hanya tersedia kalau mau ke Amerika Serikat atau Inggris saja. Buku terbitan India terkesan tidak serakah mengambil keuntungan. Saya jadi heran, kebijakan apa yang diambil oleh generasi-generasinya Jawaharal Nehru ini, sehingga pendidikan tinggi mudah terjangkau serta buku yang teramat murah, tapi kualitas lulusannya bisa duduk di NASA-USA, terbang ke bulan dan jadi dosen-dosen di banyak universitas ternama di Negeri Paman Sam.
***** Tempat rekreasi rata-rata murah sekali tiketnya. Padahal kelasnya tidak tanggung-tanggung. Taj Mahal, biaya masuknya hanya Rupees 20 atau hanya sekitar Rp 5 ribu. Coba kalau kita mau masuk Taman Mini atau Ancol? Bandingkan kelasnya dengan Taj Mahal!
Pemerintah India tidak rakus terhadap perolehan hasil pajak dari pariwisata sebagaimana di negeri kita. Travel package pula itungannya murah sekali. Di Delhi, mengunjungi 10 tempat wisata, hanya bayar tidak lebih dari Rp 100 ribu, naik bis Volvo ber-AC. Travel agent tidak terkesan serakah mengambil keuntungan banyak dari pelanggan. Padahal, kami diantar oleh guide-guide professional.
Sebagian tempat wisata malah tidak ditarik iuran (karcis) masuk sama sekali. Saya jadi heran, bagaimana dengan biaya pemeliharaan tempat-tempat ini? Padahal mereka punya tukang-tukang pembersih atau tukang sapu yang kebanyakan perempuan-perempuan bersari. Meski keamanan amat ketat di banyak tempat, tapi petugas keamanan India tersekan ramah terhadap pengunjung. Saya tidak menemui pengalaman yang kurang atau tidak mengenakkan sama sekali selama mengunjungi tempat-tempat wisata ini.
***** India memang bukan negara kaya. Orang miskin banyak sekali. Banyak tempat juga kurang terpelihara. Jalan-jalan juga banyak yang berlubang. Bangunan di Delhi juga tidak semegah di Jakarta. Komunal konflik juga acapkali marak. India barangkali bukan sebuah percontohan. Maklum, jumlah penduduknya lebih dari 5 kali jumlah penduduk Indonesia. Meski demikian, saya tidak melihat pengemis yang berkeliaran di sana-sini. Saya tidak melihat satu pengemis pun datang ke rumah Zahoor, Abdul Karim Mohammad Koya atau Abdul Azeem. Saya melihat ada pengemis di kota-kota. Tapi juga tidak ‘gentayangan’ seperti di negeri kita yang acapkali mengganggu pengguna jalan, masuk bis-bis, mengetuk jendela mobil hingga ngebel rumah kita yang bisa jadi lebih dari 5 kali sehari.
Tukang amen atau pemusik jalanan? Meski India amat terkenal dengan musik, lagu-lagu dan tarian-tariannya, saya tidak melihat tukang amen atau pemusik atau penyanyi jalanan ini di mana-mana. Tidak pula saya temui satu kali pun mareka masuk di dalam bis atau kereta api. Apalagi mereka yang naruh kotak amal di tengah jalan, tidak pernah saya jumpai.
Di negeri kita? Dalam perjalanan Malang-Surabaya, yang sepanjang 70 km, anda bisa menemui sebanyak angka itu pula yang namanya pemusik dan pengemis. Saya tidak membela pemusik atau pengemis atau penjaja makan di India. Tapi itulah kenyataannya. Mereka tidak serakah mencari pasar. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran meraka di tempat-tempat wisata atau rumah-rumah rekan yang kami kunjungi.
***** Pembaca….Saya tidak mau disebut sebagai orang Indonesia yang kufur akan nikmat Allah. Tapi bencana di Sumatera Barat, banjir si sejumlah daerah, mahalnya bahan-bahan pokok, sulitnya mencari minyak tanah dan gas, tidak terjangkaunya biaya pendidikan dan layanan kesehatan (yang ini di India juga murah sekali), semuanya jadi membuat saya iri dengan apa yang terjadi di India, sebuah negara besar yang mampu melahirkan manusia-manusia besar seperti Mahatma Gandhi, Nehru, Rabindranath Tagore hingga India Gandhi.
Ada banyak PR yang harus digarap oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini. Jumlah masjid yang bertebaran di negeri ini (sulit mendapatkan hal yang sama di India), berjimbunnya jumlah majelis taklim serta kajian Agama Islam di televise-televisi, maraknya Da’i-da’i yang bersemangat sekali dalam berceramah memikat umat, sepertinya jauh dari cukup tanpa ada langkah konkrit: bagaimana mengelola sumber daya alam dan potensi manusia Indonesia yang konon sering meraih prestasi di berbagai momen olimpiade ini, agar menjadikan negeri ini lebih baik.
India memang bukan segalanya. Tapi melihat Indonesia dari jendela India, saya jadi bertanya-tanya. Ada apa dengan negeri ini?
Oh ya, pada hari terakhir kunjungan saya di India, di Bandara Mangalore, saya tidak perlu membayar pajak sepeserpun. Sementara di Cengkareng, saya yang asli orang Indonesia, harus bayar Rp 150 ribu, itu belum termasuk biaya fiscal yang konon ‘hanya’ Rp 1 juta, jika anda harus ke luar negeri. Ah, Indonesia!

Sumber: Syaifoel Hardy /Eramuslim

Senin, 28 September 2009

PESAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ KEPADA ANAK-ANAK NYA

Menjelang ajalnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz, memanggil seluruh puteranya yang jumlahnya dua belas orang . Nampak seluruh putera-puterinya itu dalam keadaan terlantar, tubuhnya lunglai dengan rambut kusut masai. Wajahnya tampak kuyu merusak keelokan dan kecantikan rupa mereka. Mereka duduk mengelilingi ayahnya, Umar bin Abdul Aziz. Dan, satu persatu ditatap wajah mereka dengan penuh kasih-sayang, dan air mata Khalifah Umar jatuh berderai, kemudian mengucapkan kata secara terbata-bata kepada mereka :
“Wahai anakku sekalian,Ayahanda diberi salah satu pilihan diantara dua pilihan. Kalian hidup kaya, tetapi masuk neraka ..Atau kalian hidup miskin tapi masuk surga ..Maka, ayahandanya memilih surga ..Dan, ayahanda lebih suka menitipkan kalian kepada Allah yang telah menurunkan Kitab, dan Dia akan melindungi orang-orang yang shaleh ..
Lalu, wajah Khalifah Umar bin Abdul Aziz berbinar-binar, sedang air mukanya berseri-seri. Ia tersenyum kepada putera-puterinya, kepada ibunya yang amat dimuliakannya, serta kepada isterinya yang amat setia, kemudian Umar mempersilahkan mereka meninggalkan dirinya.
Sepeninggal mereka, Khalifah Umar mengangkat kedua tangannya seakan-akan sedang menyambut dan mempersilahkan kedatangan tamu lama dinanti-nantikannya .. Memang saat itu, rombongan Malaikat suci, hamba-hamba Allah yang dekat dengan-NYa telah datang menjemputnya menunju tempat pelantikan yang telah disediakan baginya .., tempat yang abadi, surga Allah taman Firdaus ..
Orang-orang yang berada diluar kamar samar-samar mendengar Khalifah Umar membaca ayat-ayat al-Qur’an yang diulang-ulang : “(Kebahagiaandi) kampung akhrat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerusakan di muka bumi. Dan, kesudahan yang baik itu adalah bagi mereka orang-orang yang taqwa”. (Al-Qashas :83).
Dan, Amirul Mukminin terus mengulang-ngulang ayat itu, sampai kepalanya terkulai, dan disambut bantalnya yang terbuat dari jerami. Kedua matanya yang selama ini tak dapat dipejamkan terhadap hak Allah dan umat, kini terpejam untuk selama-lamanya, dan wajahnya nampak bercahaya seperti sedang dalam keadaan tidur. Berbagahagialah engkau wahai Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Khalifah Umar tidak pernah melupakan akhirat. Meskipun, ditangannya telah menggenggam dunia (kekuasaan), tapi tak pernah tergoda sedikitpun oleh dunia, dia lebih mencintai Rabbnya. Wallahu’alam.
Sumber: Eramuslim

Kamis, 10 September 2009

Repotnya Mudik, Indahnya SIlaturahmi

Repot!. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan mudik. Betapa tidak, jutaan orang secara hampir bersamaan mengadakan pulang kampung menjelang hari lebaran. Meski kampung atau kota yang dituju berbeda-beda, tetap saja jalur yang ditempuh itu-itu juga, sehingga kemacetan lalu lintas menjadi hal yang pasti terjadi saat musim mudik tiba. Setiap pemudik, baik menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi, akan dihadapkan pada kemacetan yang melelahkan bahkan terkadang menjengkelkan, terutama hari-hari terakhir menjelang lebaran.
Ancaman panjang dan lamanya kemacetan, tingginya biaya perjalanan, dan mepetnya waktu libur yang diberikan perusahaan terkadang memaksa sebagian orang menunda kepulangan hingga usai lebaran. Aku sendiri, sampai menjelang bulan Ramadhan kemarin masih berencana merayakan lebaran di Tangerang-kota dimana kami mencari penghidupan-sama seperti dua kali lebaran sebelumnya. Sebenarnya kalau sekedar macet, aku yang sudah terbisa kemana-mana menggunakan angkutan umum, bukanlah hal yang perlu ditakutkan, hidangan sehari-hari. Juga kalau soal libur, yang sudah-sudah perusahaan tempatku bekerja selalu memberikan waktu yang cukup untuk mudik. Tapi kalau soal keuangan, barangkali itulah yang ‘memaksa’ kami merubah jadwal kepulangan, mungkin saat lebaran Haji atau libur sekolah akhir tahun nanti.
Jauh-jauh hari, rencana ini sudah aku sampaikan kepada anak dan istri, juga ketika ayah dan ibu berkunjung ke Tangerang dua bulan yang lalu. Mereka bisa memaklumi, dan kembali mengizinkan kami berlebaran di Tangerang. Apalagi, tidak lama lagi mereka berencana akan ke sini lagi, menghadiri pernikahan salah satu keponakanku di Bekasi. Dan, seperti yang sudah-sudah pula, mertuakupun ‘manut’ saja dengan pilihan kami.
Tapi telepon ibu di hari terakhir bulan Sya’ban kemarin, serta merta merubah keputusanku. Ibu memang merestui kami berlebaran di Tangerang lagi, tapi aku merasa, ada perasaan tertahan dibalik suara ibu saat itu. Aku adalah anak bungsunya, keempat kakak-kakakku sudah bisa dipastikan tidak bisa pulang lebaran tahun ini. Bagaimana mungkin, ibu merayakan lebaran tanpa ada anak dan cucu-cucunya. Kalaupun ada kakakku yang tinggal di kampung jelas berbeda rasanya, karena mereka hampir setiap hari bertemu dan berkumpul. Aku bisa merasakan, betapa sedihnya hati ibu jika benar-benar harus berlebaran tanpa kehadiran anak dan cucunya yang di perantauan. Hanya saja, ketabahan seorang ibu yang membuatnya mampu menutupi perasaan sedihnya dariku.
Suara tertahan ibu terus terngiang di telingaku. Terlebih ketika di kantor aku ngobrol dengan temanku, Hunaeni yang asli dari Sulawesi. Dia berencana akan merayakan lebaran tahun ini dikampung halamannya. Aku semakin berfikir, dia yang lebih jauh dan sudah pasti membutuhkan biaya jauh lebih banyak dariku, berniat pulang kampung demi berkumpul dengan keluarga dan bersilaturahmi dengan kerabat. Aku semakin memikirkan ibuku. Dan sebelum sholat jum’at hari terakhir bulan Syaban, aku memutuskan untuk berlebaran dikampung halaman bersama ibu, bapak dan juga kerabat. Masalah biayanya, wallohu’alam, aku pasarahkan saja sama Allah, Yang Maha Kaya. Bukankah silaturahmi itu selain memperpanjang umur juga memudahkah rizki, itulah satu-satunya yang menjadi penyemangatku.
Menjelang berangkat sholat tarawih hari pertama di Musholla, aku sampaikan keinginanku untuk berlebaran dikampung kepada istri dan anakku. Anakku langsung melonjak kegirangan, kecuali istriku yang meskipun gembira mendengar rencanaku, tapi dia sempat bertanya mengenai biaya selama mudik.
“Tenang saja, Insya Allah nanti ada” begitu jawabku mantap, meskipun aku tahu pasti sampai saat itu kami tidak memiliki tabungan sama sekali.
Ketika aku menelpon ibu di sahur hari pertama puasa, aku masih belum memberitahu ibu kalau kami berencana mudik tahun ini. Baru hari kedua, kusampaikan kabar gembira itu. Aku sengaja memberitahu rencanaku ini pada ibu, agar ibu bahagia dan juga terutama untuk mendapatkan doa dan restunya. Bukankah doa dan restu orang tua akan membuka jalan kemudahan bagi kita, termasuk masalah keuangan yang saat itu masih masalah utama bagiku.
Dan Alhamdulillah, semenjak aku mengatakan niatku berlebaran di kampung, aku selalu mendapati suara ceria ibu di telpon saat sahur setiap hari. Dan, restu dari ibu juga ayah, aku rasa benar-benar telah membuka jalan kemudahan bagiku.
Diawali dengan pengumuman perusahaan yang memberikan libur lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau biasanya libur hanya satu minggu, tahun ini perusahaan meliburkan seluruh karyawannya selama dua minggu, satu minggu sebelum dan satu minggu sesudah lebaran.
Kemudian, dari segi keuangan, Alhamdulillah beberapa kali aku merasakan ‘keajaiban’. Mulai dari datangnya rejeki dari sesoerang yang tak pernah kuduga sebelumnya, sampai kerja lembur yang sejak krisis global melanda di awal tahun 2009 menghilang, tiba-tiba aku mendapat kesempatan untuk kerja lembur. Juga soal biaya perjalanan mudik, libur perusahaan yang lebih awal dan terhitung masih jauh dari hari H, jelas menguntungkan karena harga tiket bus masih menggunakan harga biasa. Untuk keperluan balik, aku sudah meminta kakakku yang dikampung untuk memesankan tiket bus jauh-jauh hari di awal puasa. Alhamdulillah tiket untuk balik ke Tangerang kini sudah di tangan dengan harga yang sesuai dengan kantongku.
Alhamdulillah, segala kemudahan dan terbukanya pintu rizki itu benar-benar aku rasakan, semenjak aku putuskan untuk pulang kampung, merayakan lebaran dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Aku makin percaya, bahwa silaturahmi bisa memanjangkan umur dan memudahkan rezeki. Repotnya mudik, tidak akan berarti apa-apa, semua akan lenyap tergantikan dengan indahnya silaturahmi.
Semoga Allah memudahkan perkaraku, dan melancarkan urusanku. Ayah, Ibu……kami akan pulang untukmu, menikmati indahnya silaturahmi bersamamu.
Sumber: Nurudin / Eramuslim

Kamis, 27 Agustus 2009

Cerita Dari Seorang Ibu

Seorang wanita muda sedang mengandung anak kedua. Kehamilannya belum mencapai usia tujuh bulan. Suatu hari, wanita yang tengah hamil ini mencuci tiga stel pakaian ABRI milik suaminya dengan tangannya sendiri sambil duduk berjongkok. Keesokan harinya, rasa sakit yang sangat di bagian perutnya dialami sang ibu dan rasa sakit itu terus berlangsung selama tiga malam hingga akhirnya lahirlah seorang bayi perempuan dalam keadaan belum cukup bulan (pre-mature).
“Pak-Bu harus siap ya, bayinya kecil sekali (1,5 kg) sewaktu-waktu bisa meninggal dunia” itulah kurang lebih ucapan dokter di rumah sakit kepada kedua orang tua bayi itu, di sebuah kota kecil Cimahi, Jawa Barat.
Sebulan lamanya bayi prematur itu harus tidur dalam incubator (kotak kaca) dan tidur terpisah dari ibunya. Namun kondisi demikian tidaklah mengurangi kasih sayang sang ibu bahkan sifat keibuannya semakin meraja. Dengan setia, sebulan lamanya sang ibu menemani bayinya dengan hati yang penuh do’a dan asa……..harapan dan keyakinan yang sangat kuat akan kebesaran Illahi Rabbi dalam mempertahankan perjuangan hidup seorang anak manusia.
Bayi yang bertubuh sangat mungil ini mengalami penurunan berat badan menjadi 1,3 kg. Kesulitan menyusu menjadi kendala dalam pertumbuhan bayi prematur. Setiap kali disusui, bayi itu tersedak sehingga wajahnya menjadi kebiruan. Sungguh…..kepanikan yang luar biasa dialami wanita itu.
Suatu ketika wabah diare menyerang sepuluh bayi di rumah sakit tempat bayi prematur itu dilahirkan. Dari sepuluh bayi, hanya dua orang bayi yang bertahan dalam keadaan sehat wal’afiat satu di antaranya adalah bayi mungil dari ibu muda nan cantik tadi. Rupanya kebiasaan sang ibu selalu hidup rapi dan bersih menjadi kuncinya. Dia selalu mencuci dan merebus sendiri baju-baju bayi prematurnya. Dia wanita yang kuat dan tegar, tak ada kata lelah dan bermanja-manja sehabis melahirkan.
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyiraah : 5-6)
Mencoba dan mencoba lagi, berusaha dan terus berikhtiar….itulah yang dilakukan wanita itu. Sampai suatu ketika ia melakukan pemberian ASI (Air Susu Ibu) dengan menggunakan pipet tetes. Setetes demi setetes ASI dalam pipet mengalir dan menyambung kehidupan bayi mungil itu. Sungguh tak terbayangkan betapa luasnya samudera kesabaran, pengorbanan dan keikhlasan yang terpancar dari dalam diri wanita nan mulia itu. Bayi prematur itu perlahan-lahan tumbuh dan dapat menyamai berat bayi-bayi yang lahir normal dalam waktu tiga bulan. Subhanalloh…..
Bayi mungil itu kini telah menginjak usia 38 tahun dan telah menjadi seorang ibu dengan tiga orang anak. Bayi itu adalah aku…..
Perjuangan aku membesarkan anak-anakku tak ada nilainya dibanding perjuangan ibu membesarkan aku. Perjuangan dan pengorbanannya sungguh luar biasa dalam kondisi kedokteran yang pada saat itu masih sangat sederhana dan belum sehebat ataupun secanggih kedokteran masa kini. Ibuku seorang wanita yang hebat, kuat dan tegar. Banyak sekali ilmu dan teladan yang selalu beliau contohkan kepadaku, kepada kami anak-anaknya, dan kepada cucu-cucunya.
Abu Hurairah Radhiallu ‘anh berkata : Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Saw dan bertanya,” Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapat pelayananku dengan sebaik-baiknya?” Nabi Saw menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi : “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “ Ibumu.” Dia bertanya lagi,” Kemudian siapa?” Nabi Saw menjawab;” Ibumu.” Dia bertanya lagi,” Kemudian siapa lagi?” Nabi Saw menjawab,” Ayahmu.” (HR Bukhari)
Ibu, aku banyak berhutang kepadamu. Aku tak tahu harus memulai dari mana. Ya Rabb bantulah aku dan bimbinglah aku agar aku tergolong ke dalam hamba-hamba-MU yang sholeha yang mampu memuliakan dan membahagiakan ibu dan ayahku dan jadikanlah surga sebagai kampung akherat kami, aamiin Allohumma aamiin.
Dalam usianya yang semakin senja, semoga ALLOH SWT selalu memberikan kenikmatan iman, Islam dan sehat kepadamu ibu dan juga ayahku. Kebahagiaan dunia dan akherat yang selalu menyertaimu, limpahan Rahman dan Rahim-NYA yang selalu bersamamu serta keberkahan dalam hidup yang selalu tercurah untukmu, ibu dan ayahku. Cinta dan do’a kami (anak-anakmu) selalu menyertaimu.
“Rabbigh-firlii wa liwaa lidayya war-ham-humaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”.Artinya : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku dan memeliharaku di waktu kecilku.

Sumber: Mira Kania Dewi / Eramuslim

Rabu, 26 Agustus 2009

Mujahid Logistik Ramadhan

Ramadhan ibarat sebuah magnit yang menarik perhatian setiap benda yang memiliki masa sejenis dan sekutub. Yang tadinya jauh, perlahan mendekat dan merapat. Beberapa masjid, mushalla dan surau yang tadinya dapat dikatakan mati suri kecuali saat Maghrib dan Isya menjadi lebih hidup, semarak dan menyeruak syi’arnya. Baik dengan penampilan fisik; cat tembok, lampu, kipas angin, pengeras suara, sajadah dan bahkan mimbar yang baru, manusia pun membludak hingga tempat suci itu tak kuasa menampung jamaah yang antusias menghadiri jamaah.
Rumah Allah menjadi padat dengan berbagai aktivitas. Sejak mulai Shubuh sampai bertemu Shubuh lagi. Lantunan ayat suci, nasehat Ramadhan, berbuka puasa bersama, tarawih adalah di antara syi’ar yang sangat menonjol kehadirannya. Semuanya dalam rangka menyambut dan mengisi Ramadhan yang penuh berkah.
Kita menjadi maklum apabila perubahan itu terjadi pada wilayah masjid, surau dan mushalla. Ada pergeseran signifikan pada dimensi iman dan ketaatan. Tetapi entah apa yang harus dikatakan, bahwa perubahan itu juga nampak pada dunia hiburan. Stasiun televisi menawarkan berbagai paket yang ”berbau” Ramadhan. Sinetron disetting seolah menghargai Ramadhan dalam alur ceritanya. Para Artis dan penyanyi saling ”berijtihad” membuat lagu dan aransemen musik yang berbau Ramadhan. Jika sebelum Ramadhan imeg publik sudah ”mutawatir” menilai seorang artis atau penyanyi tertentu sebagai ”urakan”, tetapi sejak sekarang ia kelihatan kalem dan terlihat lebih religius.
Bahkan yang kesehariannya amat enjoy mengumbar aurat pun, ikut-ikutan menempelkan kerudung, mengundang dan menyantuni anak yatim serta tanpa beban bicara nilai-nilai agama dan sebagainya.
Pada kutub yang berbeda, para tokoh tertentu yang dikenal sebagai ustad, da’i atau penceramah yang sudah sangat familiar di layar kaca tidak lagi hanya fasih menyampaikan ayat-ayat suci atau hadits-hadits syarif. Sadar atau tidak, ada di antaranya telah masuk ke wilayah periklanan berbagai produk barang dan jasa meskipun tetap dalam ”bahasa” Ramadhan. Gelar mereka jadi bertambah tidak hanya ustadz, da’i atau penceramah. Rupanya para produsen sangat jeli memanfaatkan momentum Ramadhan, meskipun mereka belumlah tentu seorang yang ”mendapat panggilan” untuk berpuasa.
Jika Ramadhan dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, siapapun pelakunya berhak mendapat apresiasi, tentu penghargaan tertinggi datang dari Allah SWT. Ini jauh lebih mulia dari pada tidak ada usaha perubahan sama sekali. Namun alangkah naifnya, jika hal itu tidak lebih hanyalah strategi bisnis, bertujuan menyalakan lagi pamor ketenaran yang hampir redup, menangkap peluang hiburan guna meraup keuntungan semata, rating yang melambung dan merebut sebanyak-banyaknya pemirsa. Sebab ternyata ada juga nilai kontradiktif dari acara hiburan yang berbau Ramadhan itu.
Dampak langsung darinya seperti, secara tidak sengaja malah mengalihkan sebagian kaum muslimin dari segera berangkat menuju tarawih, tetapi masih tetap khusyu di depan layar televisi mereka karena acaranya yang dikemas apik dan menarik. Tapi tentu ini mungkin hanya kasus saja. Lepas dari itu, Allah tetaplah Maha Kasih Yang Tak Terbatas kasih-Nya. Dengan Rahman dan Rahim-Nya, Ia tetap memberikan balasan sesuai kadar, niat dan motivasi di balik hati pelaku perubahan itu.
” .... Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. ...” (Terjemah QS. Ali Imran [3] : 145).
Ya, segala hal yang tadinya biasa-biasa menjadi luar biasa dan istimewa ketika Ramadhan merapat dan akhirnya hadir di tengah-tengah medan hidup kita. Utamanya bagi manusia-manusia beriman.
Perubahan dan padatnya aktivitas mengisi Ramadhan juga terjadi di ruang dapur. Berbeda hampir seratus enam puluh derajat dari perubahan yang telah disinggung di awal, perubahan aktivitas urusan logistik ini melibatkan seorang wanita; seorang isteri bagi suami dan ibu bagi anak-anak yang berpuasa. Mungkin bagi segelintir orang, itu adalah hal biasa. Tapi tidak bagi kebanyakan keluarga. Mungkin bagi keluarga yang mempekerjakan pengasuh atau pendampingan kerja rumahan, hal itu bisa jadi amat biasa dan tidak istimewa. Tapi tidak demikian bagi keluarga sederhana yang lebih banyak mengandalkan keikhlasan atas keterampilan dua belah tangan seorang wanita.
Dari tangannya yang terbatas, ia bisa menghidangkan karya besar. Menyiapkan makan sahur yang dilakoninya sejak jam setengah tiga pagi. Di sela-sela memasak, ia juga harus berbagi dengan menghibur si kecil yang rewel karena ini dan itu. Kadang ia adalah yang paling akhir menyuap hidangan sahur. Itupun masih harus sambil memangku si kecil yang belum hilang rewelnya.
Usai hajat sahur selesai, pekerjaan beres-beres dan berbenah dari sisa peralatan makan harus dibersihkan dan ditata kembali di tempat semula. Bisa jadi, sang suami dan anak-anak telah berangkat untuk jamaah Shubuh, ia masih setia ngeloni si kecil dan mempersiapkan baju kerja suami dan perlengkapan sekolah anak-anaknya setelah kelonannya tertidur pulas. Meskipun penat dengan segala urusan itu, ia tidak luput bersyukur.
Gilirannya mengambil air wudhu, mengenakan mukena dan khusyu dalam rangkaian mula takbir dan akhir salam. Tangannya tetap menengadah meminta keridhaan dan keikhlasan hati meskipun tangannya menjadi kasar karena menjadi dua kali lebih keras bekerja dan lebih sibuk dari biasanya.
Ketika mukena ditanggalkan, kewajibannya tetaplah bergantung padanya. Pakaian kotor telah memenuhi sudut matanya minta dicuci. Bagi segelintir orang, meskipun mesin elektrik telah tersedia yang dapat mengubah kotor dan bau pesing baju celana menjadi harum bersih, lembut dan licin, ia masih mampu mengupah orang untuk memasukkan saklar aliran listrik dan memencet tombol mesinnya. Mesin bekerja, di sampingnya tuan rumah menunggui sambil membaca koran, menonton televisi atau asyik di layar facebook. Lalu, pakaian kinclong sendiri dan telah siap untuk dilicinkan tanpa harus dijemur matahari kemudian siap pakai. Tapi bagi keluarga amat bersahaja, lagi-lagi pakaian itu hanya disentuh, diperas dan dikucah oleh tangan wanita yang sama. Tapak tangannya tidak terlindung dari alergi deterjen. Maka iritasi kulit menjadi hal biasa, sela-sela jemarinya melepuh, kusam dan terkelupas. Kukunya pun menjadi tidak karuan. Tapi, ia tetaplah wanita sabar, isteri yang salihah dan pendamping yang setia untuk suami dan anak-anaknya. Ditariknya seutas tali di antara dua tiang dan disangkutkan pakaian bersih di atasnya. Lalu diserahkan pada kebaikan alam. Jika matahari berkenan hadir, ia akan kering hari itu. Tetapi jika mendung dan hujan yang datang, ia harus bersabar untuk satu dua hari menunggu kering pakaiannya.
Subhanallah, wanita ini tidak kehabisan energi. Ia masih harus berpikir, apa yang harus ia hidangkan untuk lauk berbuka puasa orang seisi rumah nanti sore. Maka tukang sayur menjadi perburuannya yang lagi-lagi bagi segelintir orang tinggal membuka kulkas atau cukup menyuruh si Mbok pergi ke supermarket untuk memenuhi kebutuhan hari itu atau untuk seminggu ke dapan.
Ketika jam tiga sore menjelang Ashar tiba, kesibukan beralih lagi ke dapur. Lipatan pakaian yang telah kering dipanggang seharian sementara ditinggalkan, untuk selanjutnya dilindas mesin setrika setelah Isya dan Tarawih berlalu. Lagi dan lagi, mengupas, merajang, merebus, menggoreng, memanaskan, menumis sampai semua keperluan yang dirasa cukup untuk berbuka dan makan malam telah tersedia. Hatinya puas dan lega semuanya dapat dilalui. Bertambah puas dan lega menyaksikan suami hingga anak yang terkecil yang baru belajar berpuasa amat menikmati hidangannya. Tinggalah piring dan gelas yang harus kembali disterilkan dan dikembalikan lagi dalam rak pecah belah.
Entahlah, apa karena sebab keihklasan dan predikat salihah yang disandangnya semua pekerjaan itu dapat dibereskannya. Atau di balik itu, ia menyimpan harapan manusiawi untuk dapat menjadi seperti wanita yang segelintir itu, tanpa berpayah-payah memeras tenaga dan keringat hanya untuk urusan logistik rumah tangga. Segelintir wanita yang mungkin mustahil menanggung beban seperti dirinya. Sebab jam setengah tiga pagi nanti ia harus mengulangi lagi rutinitas yang sama untuk sebulan penuh lamanya atau bahkan sepanjang waktu pengabdiannya.
Wahai Engkau wanita pekerja rumah, penat dan letihmu tidak akan sia-sia. Pengabdianmu untuk hidangan berbuka dan sahur bukanlah hal biasa, ia adalah istimewa. Engkau adalah wanita mulia, mujahid logistik di rumah tangga. Kalaulah boleh dianalogikan dengan sebuah riwayat yang dituturkan Sa’ad, engkau lebih pantas menyandangnya saat ini.
Sa’ad bin Mua’dz al-Anshari suatu saat berkisah bahwa ketika Nabi SAW. baru kembali dari perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa’ad yang kasar dan melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengat matahari. “Kenapa tanganmu wahai Sa’ad?”, tanya Nabi. “ Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk memenuhi nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Nabi SAW mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata,” Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.
Kisah di atas menggambarkan penghargaan Rasulullah kepada pekerja keras yang ulet dan tekun. Kedudukan mereka sangat istimewa yang disebut sebagai orang yang tidak akan tersentuh api neraka karena nilai kerja keras, ulet dan ketekunannya. Tidak tersentuh api neraka berarti akan mendapatkan surga sebagai keberhasilan akhiratnya. Sementara di dunia, pekerja keras yang ulet dan tekun akan memperoleh apa yang dicita-citakannya.
Para suami hendaknya jeli apabila sang isteri adalah pelaku seperti Sa’ad yang berjibaku menghadirkan kegembiraan saat Ramadhan untuk dirinya dan keluarga. Maka, air dan hidangan yang anda nikmati saat berbuka dan sahur adalah bukan sekedar kegembiraan atas jerih payahnya karena disantap lahap. Tetapi juga menjadi tabungan amal soleh yang akan mengantarkannya ke pintu surga Royyan. Sekali lagi, kalaulah boleh dianalogikan riwayat yang menyatakan bahwa memberi lauk untuk berbuka sama pahalanya dengan orang yang berpuasa, maka “berjihad” memproses bahan dasar makanan hingga menjadi hidangan yang siap disantap adalah semoga bagian dari itu.
Para suami wajarlah pula menggantikan posisi Nabi terhadap Sa’ad kala itu. Raihlah tangan isteri kita, cium kedua telapaknya dan iringilah dengan pujian tulus seraya memohon keikhlasannya atas apa yang telah dipersembahkannya. Maka, akan punahlah keletihan dari pundaknya perlahan, bahkan bisa jadi akan ada setitik mutiara halus di pinggir bola matanya yang menitik haru biru, bahagia dan tulus. Selamat mencoba. Semoga Ramadhan menjadi penuh warna dan dinamika panen raya pahala. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Sumber:Abdul Mutaqin /Eramuslim
90 Langkah Menuju Mushola


Lelaki istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jamaah di mushola Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushola, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun dimataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan.
Pertama, beliau ini aktif sholat berjamaah di mushola Baiturrohiim. Beliau selalu menempati tempat yang tetap, di shaft pertama ujung sebelah kiri. Kedua, beliau selalu menjadi jamaah yang pertama hadir untuk sholat Shubuh. Suara merdunyalah yang pertama kali terdengar melantunkan sholawat dari pengeras suara mushola yang terletak di sisi jalan yang memisahkan RT 02 dan RT 04 ini. Dan beliaulah yang lebih sering mengumandangkan azan subuh, baru kemudian yang lain datang, termasuk aku. Hanya itu? Tidak! Pak Didi terasa lebih istimewa, karena beliau kini hanya memiliki empat indera.
Kecelakaan kerja beberapa tahun silam telah membuat indera penglihatan pak Didi tidak berfungsi lagi. Secara fisik, mata beliau tidak mengalami cacat, hanya saja keduanya kini sudah tidak bisa melihat sama sekali. Jika pak Didi selalu menempati tempat favoritnya di shaft pertama sebelah kiri, ini wajar sebab beliau selalu datang dari pintu sebelah kiri, kemudian menyusuri tembok dan akan berhenti ketika tangannya sudah menyentuh tembok depan. Semua jamaah mushola sudah tahu akan hal itu, dan tak pernah ada yang mencoba menempati tempat ‘ekslusif’ Pak Didi.

Saat datang untuk sholat maghrib, aku sering melihat Pak Didi diantar oleh cucu laki-laki dan sesekali oleh cucu perempuannya yang baru berusia belasan tahun. Usai sholat maghrib, pak Didi lebih sering tetap berada ditempatnya, berzikir dan mendengarkan jamaah lain mengaji. Usai sholat isya, biasanya sang istri sudah menunggu di depan pintu mushola.
Lalu, bagaimana cara beliau mendatangi mushola untuk sholat subuh ketika belum satupun jamaah lainnya hadir di mushola ini? Aku tak pernah tahu. Setiap aku tiba di mushola, beliau sudah datang lebih dulu. Justru, seringnya lantunan sholawat beliaulah yang membangunkanku. Setiap kali aku mencoba untuk datang lebih awal, selalu saja beliau sudah lebih dulu berada di dalam mushola.
Aku makin penasaran. Sampai akhirnya, suatu saat aku mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada beliau, siapa yang mengantarnya ke mushola, membangunkan warga sekitar untuk sholat shubuh berjamaah. Diantar cucunya yang masih kecil itukah, atau diantar istrinya yang setia?
Aku terkejut mendengar jawaban pak Didi.
“ Selama ini, untuk sholat subuh saya lebih sering datang ke mushola sendiri, tanpa diantar cucu atau istri. Bukannya mereka tidak mau, tapi memang mau saya begitu. Sebelum subuh, jalanan masih sepi, jadi saya tidak khawatir berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang”
“ Pak Didi tidak takut nabrak, terpeleset atau……..maaf, nyasar misalnya?” dengan hati-hati aku bertanya, takut beliau tersinggung.
“ Insha Allah tidak. Saya sudah mempunyai hitungan sendiri “ beliau menjawab dengan tenang, tanpa menunjukan rasa tersinggung sedikitpun atas pertanyaanku.
“ Maksudnya, hitungan bagaimana Pak?” aku makin penasaran.
Kemudian dengan gamblang beliau menjelaskan ‘rumus’ yang dimilikinya untuk bisa sampai ke mushola ini tanpa nabrak ataupun khawatir terpeleset kedalam selokan yang berada di sisi jalan. Dengan bantuan tongkat kecilnya, beliau berangkat dari rumah sendiri ketika orang-orang ( termasuk aku ) masih lelap dalam tidur. Beliau berjalan dengan mengandalkan ingatan mengenai jalan menuju mushola. ( Kebutaan yang dialami pak Didi memang bukan sejak lahir, tapi karena kecelakaan, jadi beliau masih memiliki gambaran tentang jalan dan juga rumah-rumah yang ada disepanjang jalan menuju mushola.).
Pertama, beliau keluar rumah dan berjalan lurus kurang lebih 10 langkah. Sampai di jalan kecil ber-konblok, beliau belok kiri dan melangkah sekitar 15 langkah. Dengan bantuan tongkatnya, beliau akan memastikan tembok rumah tetangganya, dimana dia harus belok kanan dan melangkah lagi sekitar 10 langkah. Saat berada di jalan ini, tangan kiri beliau akan meraba tembok rumah tersebut, hingga sampai di ujung. Kemudian beliau akan belok kiri dan berjalan lurus kurang lebih 28 langkah. Setelah itu beliau akan berbelok kearah kanan, maju 10 langkah dan mencoba memastikan keberadaan tembok mushola dengan tongkat kecilnya. Setelah berhasil menemukan tembok mushola, beliau kemudian akan terus maju hingga kurang lebih 17 langkah sampai beliau bisa menyentuh pintu mushola.
Begitulah, setiap pagi disaat orang-orang masih banyak yang terlelap, pak Didi sudah lebih dulu datang ke mushola dengan ‘meraba’ jalanan yang gelap. Gelap, benar-benar gelap, bukan karena tak ada lampu tapi karena beliau sudah tak bisa menangkap apapun dengan indera penglihatannya. Aku sering mendapati buktinya. Ketika tiba di mushola, keadaan masih gelap, tak ada lampu yang menyala, padahal pak Didi sudah berada di dalamnya melantunkan sholawat atau mengumandangkan azan. Dan jika ia mampu menggunakan pengeras suara untuk membangunkan warga dengan sholawat dan azan, itu juga ia lakukan dengan cara meraba. Subhanallah!
Aku tertegun mendengar cerita pak Didi. Aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri,. Allah telah memberiku anugerah yang sangat besar. Kelima inderaku semua berfungsi dengan sempurna, namun sering kuanggap biasa-biasa saja. Syukur itu seringkali hanya menjadi ucapan bibir semata. Sementara pak Didi, istiqomah mendatangi jamaah sholat shubuh dengan susah payah, bahkan selalu hadir lebih awal, dalam kegelapan yang sebenarnya. Pak Didi mampu mewujudkan syukur itu dalam tindakan nyata. Kebutaan, kegelapan yang kini beliau rasakan, mampu beliau terima sebagai sebuah kenikmatan.
Terima kasih pak Didi. Kisahmu membukakan pintu hidayah bagiku. Ceritamu memberikan semangat untuk selalu datang ke mushola, sholat berjamaah meskipun aku belum bisa mengalahkanmu, karena engkau selalu datang lebih dulu.

Sumber: Nurudin /eramuslim

Kamis, 13 Agustus 2009

Rindu Anak

Tak semua pohon mampu berbuah. Ada yang hanya menawarkan keindahan melalui bunga. Ada yang cuma menghadiahi keteduhan dan kesegaran. Ada juga yang hanya memberikan khasiat mujarab dari akar, batang, atau daunnya. Masalahnya, tak semua manusia seperti mereka.
Di antara buah dari pohon perkawinan adalah anak. Anaklah yang menghias perkawinan menjadi teramat indah. Di situlah ada harapan, tantangan, ujian, bahkan hiburan. Indahnya menatap senyum anak. Dan sedemikian prihatinnya mendapati tangis anak. Senyum dan tangisnya kian membuat ikatan pernikahan menjadi lebih kuat.
“Ah, bahagianya kalau punya anak,” ucap Pak Karno membatin. Bapak usia tiga puluhan ini lagi-lagi menakar harap. Kadang ia sedih karena putus asa. Kadang bangkit ketika mendengar nasihat teman-temannya.
Mungkin, bisa dibilang wajar ia sedih. Entah sudah berapa cara telah ditempuh. Mulai cara medis, terapi alternatif, hingga ramuan tradisional telah dicoba. Tapi, hasilnya belum menggembirakan. Sebelas tahun sudah ia berumah tangga. Selama itu, kesibukan rumah tangganya tak bergeser dari pengobatan buat dapat anak.
Kalau saja anak kandung bisa dibeli, berapa pun akan dibayar Pak Karno. Itulah yang bikin Pak Karno tak peduli soal biaya pengobatan. Entah berapa puluh juta sudah keluar, tapi hasilnya masih nihil. Hari-hari yang paling menggembirakan Pak Karno cuma satu: ketika isterinya telat datang bulan. Sayangnya, bulan tinggal telat, tapi cikal bakal anak tak juga terlihat.
Kalau melihat kesibukan tetangganya di pagi hari, Pak Karno seperti berada di dunia lain. Terlihat dari balik jendela bagaimana tetangganya sibuk mengantar anak-anak ke sekolah. Sementara sang ibu dengan penuh kasih sayang menimang sang bayi. Senyum selamat jalan merekah dari sang isteri ke suami. “Ah, betapa bahagianya mereka,” tak sadar suara lirih mengalir ringan dari bibir Pak Karno.
Entah siapa yang paling mesti dikasihani. Ia atau isterinya. Pak Karno pernah merasa kalau dirinyalah yang paling tersiksa. Ia tak punya keturunan. Ia akan sendiri ketika tua. Dan tak ada satu generasi pun yang akan melanjutkan cita-citanya. Tak ada satu anak pun yang akan dinasabkan atas namanya. Nama Pak Karno akan tenggelam setelah usianya berakhir.
Itulah yang bikin Pak Karno merasa lebih menderita dibanding isterinya. Tapi, perkiraan itu bisa berubah ketika mencermati perasaan isterinya. Mungkin, ia bisa lepas dari kungkungan itu ketika bertemu teman-teman kantor. Bayang-bayang buruk Pak Karno akan menepi sebentar saat kesibukan kantor memburunya. Tapi, gimana dengan isterinya. Pengalihan-pengalihan itu tak dimiliki sang isteri.
Isteri Pak Karno bukan jenis pegawai kantoran. Bukan juga tipe wanita yang begitu terobsesi dengan karir. Ia wanita biasa yang punya cita-cita luar biasa: ingin sukses seratus persen mengelola rumah tangga. Jadi, nggak ada teman lain kecuali Pak Karno. Tak ada tempat mencurahkan rasa kecuali suaminya. Dan, hal itulah yang akhirnya membuat Pak Karno tersadar tentang isterinya. Ia tak lagi heran ketika isterinya mulai aktif di masyarakat.
Dan satu hal yang bikin Pak Karno lebih prihatin pada isterinya: dokter pernah bilang kalau ketidaksuburan ada di isteri. Saat itulah Pak Karno mesti rela menyaksikan isterinya menangis. Kadang Pak Karno harus menerima ketidakstabilan emosi isterinya. Isterinya menjadi lebih perasa. Mudah marah. Dan tak jarang memperlihatkan diri seperti orang yang tak memiliki gairah hidup. Lesu.
Hingga suatu hari, isteri Pak Karno berujar pelan. “Mas mau kawin lagi?” tanya sang isteri tanpa menatap wajah suaminya. Pandangannya tertunduk ke bawah. Ia seperti pasrah. Menerima kenyataan kalau dirinyalah sumber masalah.
Pak Karno tak menjawab. Ia bingung mesti bilang apa. Ia seperti dihadapkan dua masalah sekaligus. Masalah bagaimana mendapatkan anak. Dan, masalah keharmonisan hubungannya dengan isteri. Ia tidak ingin sepinya celoteh dan tangis anak menjadi lebih sepi lagi dengan dinginnya sang isteri terhadap dirinya.
Pak Karno yakin kalau pertanyaan isterinya punya makna lain. Dan makna itulah yang memperlihatkan betapa jika Pak Karno salah langkah, akan kehilangan sesuatu yang selama ini bersamanya: kebersamaan isteri yang begitu setia. Sebuah kebersamaan yang utuh. Bukan cuma fisik, tapi juga rasa dan emosi.
Ia tersadar dengan suatu hal. Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar buat terjalinnya dua emosi yang berbeda. Selama itu, tak satu pun sepak terjang isterinya yang tak mengenakkan. Dan selama itu pula, tak pernah terbersit dalam pikiran Pak Karno untuk menyakiti isterinya. Walau cuma dengan wajah cemberut.
Pak Karno terkenang dengan sejarah Islam yang pernah ia baca. Mungkin, seperti itulah perasaan Aisyah terhadap Rasulullah ketika beliau saw. begitu menjaga perasaan isterinya. Apa yang kurang dari Aisyah: cantik, cerdas, salehah, dan begitu taat dengan suami. Hanya satu yang tak mampu diberikan Aisyah buat suami tercintanya: anak. Walaupun perkawinan hampir berjalan sepuluh tahun. Dan walaupun, keduanya adalah hamba-hamba Allah yang teramat saleh. Siapa yang lebih saleh melebihi Rasulullah saw. Tapi, beliau saw. pun harus menerima kenyataan bahwa Aisyah tak bisa memberinya anak.
Sebuah pelajaran menarik untuk ia renungkan. Di satu sisi, ia memang butuh kehadiran anak. Tapi di sisi lain, penghargaan buat orang yang selama ini begitu baik pun harus tetap terawat. Teramat zhalim kalau ia mampu meraih sesuatu dengan mengorbankan rasa orang lain. Terlebih orang lain itu adalah wanita yang telah membuktikan cinta dan kesetiaannya.
Mungkin, masih ada cara lain buat dapat anak. Dan cara itu mesti terlahir dari ungkapan ridha Pak Karno dan isterinya. Pak Karno memang tak mau berputus asa. Tapi, ia pun tak mau memutus asa isterinya. Biarlah sesuatu yang akan ia dapatkan akan terus ia usahakan. Tanpa harus melepas sesuatu yang telah ia pegang. Bersama kesukaran pasti ada kemudahan. “Insya Allah!” tekad Pak Karno bulat.
Memang, tak semua pohon bisa berbuah. Tapi, akan ada buah-buah dalam bentuk lain yang diperlihatkan sang pohon. Hingga, tak sedikit pun keindahan dan keserasian alam terusik dengan ketidakmampuan itu.
Sumber: Muhammad Nuh/Eramuslim