Kamis, 13 Agustus 2009

Rahasia Suami
Bahagia dalam keluarga kadang abu-abu. Dari luar terlihat cukup, tapi di dalam justru was-was. Orang boleh mengatakan: di atas langit ada langit. Tapi, di atas gunung bukan ada gunung. Melainkan, jurang.
Hidup berumah tangga memang unik. Satu tambah satu yang selalu dua dalam rumus matematika, tidak begitu di keluarga. Terutama soal cinta suami isteri.
Orang luar boleh-boleh saja menilai tentang kebahagiaan seorang isteri terhadap kelebihan suami dan keluarganya. Betapa tidak; suami ganteng, penghasilan lebih dari cukup, rumah bagus, kendaraan dua. Apalagi? Wajar kalau ada yang iri dengan tampilan luar begitu. Karena hampir semua wanita pasti ingin seperti itu.
Tapi gimana kalau di balik kebahagiaan itu ada was-was. Lho? Soalnya, bukan rahasia lagi kalau setelah ada cukup, pasti ada kurang. Artinya, kelebihan buat isteri kadang bisa menjadi kekurangan buat suami. Isteri boleh bahagia dengan kelebihan yang ada, tapi suami justru jadi merasa kurang ‘tantangan’. Tantangan?
Ada banyak cara yang mungkin dilakukan suami mencari tantangan baru. Di antaranya, membangun rumah baru, menyekolahkan anak keluar negeri, dan ada satu yang biasa dikhawatirkan seorang isteri: kawin lagi. Setidaknya, hal itulah yang kini dirasakan Bu Wiwin.
Ibu tiga anak ini memang patut bersyukur. Jarang muslimah yang bisa hidup sebahagia Bu Wiwin. Punya rumah bagus, kendaraan lebih dari satu, serta suami yang saleh dan ganteng. Kemana pun Bu Wiwin pergi, selalu bertabur hormat dan pujian. Tidak heran jika Bu Wiwin selalu senyum tiap kali ketemu orang. Sapaan dibalas senyuman. Dan senyuman dibalas dengan senyum yang lebih manis lagi. Indahnya!
Begitukah sebenarnya perasaan Bu Wiwin? Ini memang menarik. Tak seorang pun bisa menduga kalau Bu Wiwin sebenarnya gelisah. Ia tidak menihilkan nikmat Allah yang begitu banyak. Tapi, ada perasaan gundah ketika melihat kecukupan itu.
Entah kenapa Bu Wiwin punya perasaan lain kalau ada temannya bertanya soal suaminya. Dalam hal apa pun: pekerjaan, kesukaan, dan lain-lain. Terlebih ketika yang bertanya belum dan atau tidak lagi bersuami. Wah, bisa tidak tidur tiga malam.
“Memangnya Bu Wiwin kenapa?” tanya seorang teman ketika kegelisahan tak lagi bisa disembunyikan. Tak satu pun kata terucap dari Bu Wiwin kecuali untaian senyum.
Sepertinya, Bu Wiwin tidak ingin seorang pun tahu apa masalahnya. Soalnya, ia sendiri bingung mau bilang apa kalau was-wasnya terungkap. Apa yang kurang dari suami Bu Wiwin. Tampang oke, kocek tebal, akhlak jempolan. Semua syarat nyaris terpenuhi. Cuma satu yang masih tersangkut kalau dugaan Bu Wiwin tentang suaminya itu benar: ketidaksetujuannya. Dan itu justru menjatuhkan dirinya sendiri.
Duh, Bu Wiwin benar-benar bingung. Gelisah. Terlebih akhir-akhir ini. Ia menangkap ketidakwajaran suami tercintanya. Entah kenapa, Bu Wiwin merasakan kalau suaminya terlihat sering grogi. Kalau sendirian, suaminya seperti membayangkan sesuatu. Dan, kemudian senyum sendiri. Gila?
“Astaghfirullah!” ucap Bu Wiwin dalam hati. Tidak mungkin suaminya sakit jiwa. Justru, suaminyalah yang dikenal masyarakat sebagai dokter jiwa. Orang-orang yang gelisah akan menemukan mata air ketenangan saat mendengar nasihat suami Bu Wiwin. Lembut, tapi berbobot.
Bu Wiwin khawatir, bayang-bayang yang dianggapnya hitam selama ini terwujud. Ia bukan tidak setuju. Tapi benar-benar tidak kuat kalau suaminya nikah lagi. Berat!
Ia sudah mengantongi alasan kenapa muslimah lebih cepat bersedia menjadi isteri kedua daripada isteri pertama. Alasannya sederhana, tapi agak filosofis. Kalau isteri kedua, dari tidak ada menjadi ada. Tapi buat yang pertama, dari ada menjadi berkurang. Beda kan!
Dan suatu malam, kekhawatirannya kian menjadi. Ketika itu, Bu Wiwin mendapati suaminya menyebut-nyebut nama seorang wanita dalam keadaan tidur. “Mutia! Mutia! Mutia!” Saat itu juga ia terperanjat bukan main. Diingatnya nama itu kuat-kuat. Biarlah hafalannya berkurang asal nama itu tidak menghilang.
Namun, peristiwa itu tetap menjadi rahasia dan misteri. Rahasia karena tak seorang pun yang ia ceritakan. Dan misteri, karena Bu Wiwin belum pernah dengar nama itu kecuali dari mulut suaminya.
“Siapa Mutia?” Bu Wiwin jadi penasaran. Rasa-rasanya, tak ada nama akhwat di daerah tempat tinggalnya. Begitu pun di kantor tempat suaminya bekerja. Apa itu cuma mimpi? Dan penasaran Bu Wiwin kian menjadi ketika di malam yang lain, nama itu kembali disebut-sebut suami.
Bu Wiwin kian yakin kalau suaminya sedang jatuh cinta. Keyakinan itu menjadikan pikiran Bu Wiwin tak bisa konsen. Hatinya gundah. Sesekali ia menangis. Pelan tapi pasti, suara hatinya seperti berujar, “Terimalah kenyataan ini, Win!” Dan tangisnya pun kian menjadi.
Hanya ada satu cara untuk bisa memastikan: keterbukaan. Bu Wiwin sudah membayangkan apa yang akan diucapkan orang tua, kakak, adik, teman, dan tetangganya. Tapi, kenyataan tetap kenyataan. Ia harus mendengar langsung dari suaminya.
“Ayah sedang jatuh cinta?” tanya Bu Wiwin langsung ke suaminya. Walau berat, ia harus dapat kepastian. Yang ditanya tersenyum. “Apa kamu siap menerimanya?” tanya sang suami lebih terbuka. Bu Wiwin mulai menangis. “Silakan ayah ucapkan!” ucapnya sambil terisak.
“Isteriku. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan mengangkat anak yatim Aceh sebagai anak kita. Namanya Mutia!” ucap suami Bu Wiwin tenang. “Kamu bersedia?” tanya suaminya seraya menatap sang isteri agak keheranan.
Sumber: Muhammad Nuh/eramuslim
Hasrat Anak
Orang tua buat anak menyimbolkan kekuatan, kebijaksaan, dan arah bahtera keluarga. Bayangkan jika simbol-simbol itu tak tertangkap jelas. Bisa jadi, anak akan mencari sendiri simbol yang pas buat orang tua mereka.
Anak-anak memang punya dunia sendiri yang seolah lepas dari kenyataan. Mereka membayangkan sesuatu menurut selera imajinasi seadanya. Satu kardus besar saja, bisa punya banyak arti. Bisa dianggap rumah, mobil, bahkan kuburan.
Begitu pun dengan sosok ayah dan ibu. Anak-anak biasa menggambarkan keduanya dengan sesuatu yang mampu mereka tangkap. Imajinasi mereka kian jauh ketika ayah dan ibu tergolong makhluk yang jarang melakukan penampakan. Terlebih buat ayah. Saat bangun tidur, ayah sudah tidak ada. Ketika akan tidur, ayah belum juga ada.
Dari kenyataan itu, imajinasi anak berkeliaran. Ada yang membayangkan ayah dan ibu sebagai pencari uang yang gigih. Ada yang menganggap keduanya sebagai aktivis yang super sibuk. Bahkan boleh jadi, ada yang merasa kalau orangtuanya tidak kerasan di rumah. Setidaknya, kesan-kesan itulah yang kerap diperbincangkan Andi dan Nina.
Bocah usia lima dan tujuh tahun ini seperti tak pernah henti mendiskusikan ayah dan ibunya. Sayangnya, peserta diskusi sangat terbatas: cuma dua orang. Walau sudah sering dijawab ibu, soal kesibukan ayah dan ibu masih tetap jadi isu hangat buat mereka.
Ketika ayah dan ibu tak di rumah, Andi menghampiri Nina. “Kak, ngapa sih ayah sama ibu jarang di rumah?” ucap Andi ke Nina. Nina tampak asyik dengan boneka yang terlihat kusam. Warnanya tak lagi jelas: dibilang putih, mulai menghitam. Dibilang hitam, masih ada bekas warna putih. Walau begitu, Nina menggendong sang boneka dengan penuh sayang.
“Kata ibu, ayah sama ibu sibuk cari duit,” jawab Nina enteng. “Emang kita miskin ya, Kak? Kok yang cari duit ayah sama ibu?” Andi mulai menampakkan penasarannya. Ia pandangi wajah kakaknya yang masih ngoceh sendirian dengan susi, si boneka kumal. Pelan, susi direbahkan di atas bantal, layaknya bayi yang akan ditidurkan.
Sesaat kemudian, Nina menoleh ke Andi. “Emang kamu nggak berasa?” tanya Nina agak diplomatis. “Nggak!” jawab Andi menggelengkan kepala. “Masak orang miskin makan soto ayam terus,” kilah Andi lebih memperlihatkan rasa bingungnya.
“Andi, kita tiap hari makan soto ayam karena ibu kerjanya dagang soto ayam. Gitu!” ucap Nina mulai serius. “Baju kita juga bagus. Tidak butut!” kilah Andi lebih diplomatis. “Lha iyalah. Kan ayah dagang baju loakan di emperan jalan. Kalau sisa, kita yang pake’,” jawab sang kakak lebih serius. Tiba-tiba, ia seperti mengingat sesuatu. Gadis kelas dua SD ini pun mengambil sebuah tas. Sebagian kulit tas tampak mulai berkelupas. Sambil bersenandung kecil, ia ambil buku tulis bersampul coklat dari dalam tas. “Ah, hampir lupa. Ada PR,” ucap Nina pelan. Andi tetap memperhatikan tingkah kakaknya.
Ruang berukuran tiga kali tiga meter itu memang serba guna. Bisa buat nonton tivi, nerima tamu, bermain anak, tempat belajar, bahkan transaksi bisnis. Tidak heran jika di ruang itu begitu ‘ramai’. Di pojok kanan ada tumpukan mainan, di pojok kiri ada lemari kaca berisi baju dagangan, ada tivi, dan ada dua gulungan kasur lipat. Ruang tidur?
Rumah Andi dan Nina cuma terdiri dari tiga ruang. Satu ruang serba guna tadi, yang tengah ruang tidur, dan satunya lagi dapur berhimpit kamar mandi. Di ruang terakhir itulah, ibu dua bocah itu memulai aktivitas bisnisnya sejak pukul tiga pagi. Biasanya, Nina dan Andi bangun satu jam kemudian. Mereka bangun bukan karena disuruh oleh ayah ibu mereka. Bukan juga karena kesadaran. Tapi karena bau masakan yang mengurung seisi ruangan tidur. Diawali dengan batuk, memincingkan mata, dan akhirnya terbangun. Sementara, ayah sudah berangkat bersama dagangannya.
Pernah beberapa kali, Nina terbangun karena ingin pipis. Saat itu jam menunjukkan pukul dua pagi. Setelah dari kamar mandi, Nina tak menemukan satu pun orang tuanya. Tidak ayah, tidak juga ibu. Kemana? Saat itu juga, Nina nangis. Mendapati sang kakak nangis, Andi pun ikut nangis. Hampir satu jam mereka nangis bersahut-sahutan.
Tangis Nina dan Andi baru berhenti setelah ayah dan ibu pulang. Saat itulah Nina paham kalau ayah ibunya keluar rumah untuk belanja. Beli sayuran, ayam potong, bumbu, dan lain-lain. Semua merupakan bahan baku membuat soto ayam. Sayangnya, Nina dan Andi tak bisa ikut ibu mendorong gerobak membawa dagangan. Pasalnya, mereka harus pergi ke sekolah, sekitar seratus meter dari rumah.
Sejak itulah mereka berpisah. Ayah sejak pukul empat sudah keluar. Dan ibu pergi berdagang saat Nina dan Andi ke sekolah. Dua bocah ini pun mesti berpisah. Nina ke SD. Sementara Andi masih TK. Tapi masih bersebelahan dengan sekolah Nina. Biasanya, Nina dan Andi pulang bareng. Kalau pun tidak, salah satu mesti menunggu. Ngapain sendirian di rumah!
Setelah perpisahan itu, ibu pulang sekitar jam tiga siang. Nina dan Andi senang bisa bantu mendorong gerobak dagangan ibu ketika tiba di pengkolan dekat rumah. “Asyik ibu pulang!” teriak Andi dan Nina hampir bersamaan. Hampir tiap hari kejadian itu berulang. Sayangnya, Andi dan Nina tidak bisa bantu membawa dagangan ayah. Karena mereka lebih dulu tidur sebelum sang ayah pulang.
“Bapak pulang! Bapak pulang!” teriak anak tetangga. Suara tawa riang pun mulai terdengar. Andi memperhatikan itu dari balik jendela depan rumah. Pikirannya menerawang. Enak kali ya ketemu ayah tiap hari. Bisa meluk ayah, digendong ayah. Tapi…, Andi seperti mengingat sesuatu.
“Kak, ayah sama ibu kasihan, ya!” ucap Andi sambil menoleh ke Nina. Sang kakak tampak masih serius dengan PR-nya. “Kasihan kenapa?” ujar Nina sekenanya.
Andi pun mendekati Nina. “Kak, kasihan ayah kepanasan kehujanan cari uang buat kita. Kasihan juga ibu. Capek-capek dagang buat kita,” ucap Andi menunggu reaksi sang kakak. Nina menoleh ke Andi. Dengan lembut, ia berujar, “Andi, masih banyak orang yang lebih kasihan dari kita!”
Sumber: Muhammad Nuh / eramuslim
Bayang-bayang Suami

Ada syair daerah yang sering dinyanyikan anak-anak Betawi: jamblang sepet, jambu manis. Abang ngumpet, Mbak Ayu nangis. Horee! Tapi, gimana jika justru Mbak Ayulah yang selalu ngumpet. Menangiskah Si Abang?
Pernikahan memang salah satu pintu keberkahan. Segala sesuatu tanpa terasa tumbuh dan berkembang. Yang sebelumnya tidak boleh, dengan pernikahan bukan sekadar boleh, tapi berpahala. Yang sebelumnya tidak ada, sudah mulai banyak. Ada anak-anak, rumah berserta perabot, kendaraan, dan tentu saja status diri yang mulai dianggap masyarakat.
Dari sekian buah keberkahan yang selalu bertambah, ada akar keberkahan yang tidak boleh kering. Apalagi mati. Itulah cinta suami isteri yang ternaung dalam cinta Yang Maha Pencinta, Allah swt.
Mungkin, ada perbedaan latar belakang budaya. Ada juga masalah suku, selera, daya tangkap hati, dan seputar kebiasaan masa lajang. Dari cintalah segala perbedaan tadi terjembatani. Tapi, dari cinta pula kekhawatiran bisa muncul berlebihan. Setidaknya, rasa itulah yang sempat dialami Pak Udin.
Bapak tiga anak ini boleh dibilang suami yang beruntung. Betapa tidak, ia dapat anugerah Allah berupa isteri salehah, cantik, lembut, sabar, dan pintar masak. Sebuah deretan kriteria yang sangat diidam-idamkan banyak calon suami. Dan yang paling membuat Pak Udin merasa beruntung, semua anugerah Allah itu ia peroleh sebagai berkah karena aktif di pengajian.
Pria asli Betawi ini sulit membayangkan kalau ia tidak ikut pengajian. Mungkin, sampai tua pun sosok isteri dengan kriteria yang ada pada isterinya itu cuma jadi khayalan. Apalagi modal luar yang dimiliki Pak Udin kurang meyakinkan. Wajah pas-pasan, modal dana tak bisa dibanggakan. Sekali lagi, Pak Udin memang mesti banyak bersyukur. Dan salah satu bentuk syukurnya itu, ia sangat sayang pada isterinya.
Kadang, di tengah rasa sayangnya itu, Pak Udin merasa bingung. Pasalnya, tiap kali datang proses melahirkan, ia seperti dihadapkan pada bayang-bayang kematian. Rasanya, ia seperti dihadapkan dengan sebuah pertukaran: dapat anak, hilang isteri.
Kegelisahan ini mungkin bisa dibilang wajar. Karena tiap kali menghadapi kehamilan, isterinya mengalami sakit lumayan parah: muntah, lemas, hilang nafsu makan, dan pusing. Itu bisa berlangsung hingga tiga bulan. Yang lebih parah di saat-saat menjelang kelahiran. Proses kelahiran yang dialami isteri Pak Udin begitu sulit. Itulah kenapa di tiga kali kelahiran selalu berujung pada operasi sesar.
Pak Udin masih ingat betul kegelisahan yang pernah ia alami di kelahiran anak pertama. Pada tiga bulan pertama, ia menatap isteri tercintanya yang tak lagi punya daya. Ia seperti sedang menghadapi seseorang yang sakit parah. Bahkan mungkin, koma. Bayangkan, ia cuma bisa berkomunikasi dengan isteri lewat mata. Mulut isterinya seperti terkunci, tangannya terkulai lemas, tubuh tak bisa apa-apa kecuali terbaring. “Ah, mungkin ini hari-hari terakhir bisa bersama isteri,” ujarnya dalam hati. Pak Udin menangis.
Baru beberapa bulan isterinya sembuh, saat-saat kelahiran juga membuat Pak Udin deg-degan. Ia sadar betul kalau melahirkan punya risiko kematian. Lagi-lagi, Pak Udin gelisah. Yang paling miris adalah ucapan sang isteri ketika keputusan operasi sudah diambil. “Bang, kalau Allah berkehendak lain, tolong jaga anak kita!” ucap sang isteri dengan logat jawa.
Dalam proses penantian itu, seribu satu masalah mondar-mandir di kepala Pak Udin. “Saya akan jadi duda,” batinnya mulai berbisik. Sesaat kemudian, ia pun istighfar. Ia baca berbagai dzikir agar hatinya bisa stabil. Tapi, lamunan buruknya kembali berulang. Seperti ada suara-suara yang terus berbisik. Kalau kamu duda, siapa yang akan mengurus bayi, siapa yang akan memberi semangat kalau ada masalah, siapa yang akan membuat nasi goreng jamur. Dan satu lagi, siapa yang mau sama ente?
Bayang-bayang tidak enak itulah lagi-lagi kini dirasakan Pak Udin. Urusannya bukan soal melahirkan. Itu sudah bagian masa lalu. Karena isterinya diminta dokter untuk tidak lagi melahirkan dengan alasan kesehatan. Ia kini bingung karena tidak sempat mengantar isteri pulang kampung. Ada kabar mendadak, bapak mertuanya di jawa timur sakit keras. Isteri Pak Udin diminta pulang.
Sebenarnya, ingin sekali Pak Udin mengantar sang isteri hingga ke rumah mertua. Tapi, urusan kantornya masih menumpuk. Dan anak-anak belum libur. Hanya bisa mengantar ke stasiun, Pak Udin melepas isteri tercintanya pulang kampung. Mudah-mudahan selamat!
Ada kabar buruk. Sebuah kereta menuju Jawa Timur mengalami kecelakaan. Beberapa gerbong keluar jalur. Dan sepuluh penumpang dinyatakan tewas. Siapa? Pak Udin memburu berita. Ia menemukan nama Tuti. Tapi tidak jelas Tuti apa. Cuma Tuti. Sementara nama isterinya Tuti Anisa. Tanpa hitung-hitung urusan kantor, Pak Udin langsung berangkat ke Jawa Timur.
Firasatnya makin tidak enak ketika setiba di gang rumah mertuanya, ia menemukan beberapa bendera kuning dari kertas. Langkahnya tiba-tiba melemas. Dadanya bergemuruh. “Isteriku...,” suara batin Pak Udin spontan. Air mata mulai menggenang di kedua matanya.
Rumah mertua Pak Udin mulai terlihat. Beberapa orang berkerumun. Di antara mereka tampak menangis. Pak Udin tak kuat lagi melangkah. Ia terkulai lemas di sebuah rumah. Seseorang menghampiri. “Udin?” suara orang itu. “Paman...!” jawab Pak Udin nyaris tak bersuara. Kedua lelaki itu pun menangis. “Sabar ya, Din. Sabar! Semua sudah kehendak Allah!” suara Paman di sela tangis dan dekapannya pada Pak Udin.
“Saya tidak nyangka, Paman. Dengan cara ini saya berpisah dengan Tuti,” ucap Pak Udin sambil terisak. “Tuti?” ucap Paman agak kaget. “Memang Tuti kenapa, Din?” ucap sang paman menatap Pak Udin. Dan Pak Udin pun ikut kaget.
“Astaghfirullah. Yang meninggal itu bapak mertuamu. Isterimu ada di dalam!” terang sang Paman sambil menggeleng.
“Alhamdulillah!” sambut Pak Udin gembira. “Apa?” tanya sang Paman cepat. “Eh, maaf. Maksud saya, inna lillah!” ucap Pak Udin dengan tak lagi bisa menyembunyikan bahagianya.
Sumber: Muhammad Nuh/Eramuslim

Jumat, 03 Juli 2009

“Membeli” Anak

“Kapan nich, punya momongan?”
“Lho, berapa tahun menikah, koq belum hamil?”
Pertanyaan di atas sering terlontar kepada seorang muslim yang tinggal di Karawang, dan telah menikah selama 13 tahun. Usia pernikahan yang cukup lama, untuk dilalui hanya berduaan saja dengan sang istri. Tetapi apa hendak dikata, kondisi medis sang suami tidak menggembirakan, hanya 3% bibit sperma yang hidup. Tekanan lebih berat dirasakan oleh sang istri, yang merasa belum bisa membahagiakan suami dengan memberikan keturunan.
Belum lagi celetukan masyarakat yang mempertanyakan kesuburannya sebagai seorang wanita. Benar-benar himpitan dan tekanan luar biasa. Pergi ke dokter kandungan dan ginekolog telah dilakukan berkali-kali. Berbagai therapy telah dilakukan, program bayi tabung, termasuk pergi ke beberapa pengobatan alternative. Tetapi waktu demi waktu berlalu, dan hasilnya tetap nihil.
Cobalah kalian pergi ke seorang ulama hikmah, siapa tahu berhasil, cetus seorang kerabatnya. Pikir suami-istri tersebut, ya, apa salahnya dicoba, akhirnya mereka berdua disarankan pergi ke seorang alim di Kota Bekasi.
********“Ente pernah ke dukun?” Tanya sang alim. “Ya pernah, ke pengobatan alternatif” Jawab sang suami.
“Kalau ente pernah ke dukun, sholat tobat dulu kepada Allah, baru balik lagi kesini.” Suruh sang alim. Mereka pun sholat tobat dan kembali ke rumah sang alim. Sang suami menceritakan kondisi mereka yang belum memiliki momongan selama 13 tahun, bahkan dokter juga memvonis tingkat kesuburan sperma suami hanya 3%.
“Ente salah percaya sama dokter, yang hanya manusia. Harusnya ente minta kepada Allah, karena Allah sang pemilik penyakit dan pemilik obat segala penyakit. Allah pula yang menciptakan mahluk hidup. Dokter hanya menerka-nerka kondisi ente dan istri ente. Kesuburan 3% tidak akan menghalangi kehamilan kalau Allah menghendaki. Ini lah inti tauhid, bahwa Allah pemilik keajaiban, kesuksesan, kesembuhan, ketenangan,dan segala hal lainnya” kata sang alim.
“Ya ustadz, kami mengerti, terus bagaimana solusinya” kata sang suami.
“Ente mau membeli anak nggak?” Tanya sang alim. “Memang bisa beli anak ya ustadz?” kata istri.
“Bisa membeli anak, kata siapa enggak bisa. Ente bayar berapa untuk bayi tabung?” kata sang alim. “Kami bayar 40 juta rupiah untuk satu kali program bayi,” jawab sang suami. “Kalau ente ridho, keluarkan separoh biaya bayi tabung atau 20 juta rupiah untuk sedekah ke dhuafa sama anak yatim. Jangan lupa jaga sholat jamaah di masjid dan berdoa kepada Allah, insya Allah istri ente akan hamil,” kata sang alim.
Akhirnya suami-istri tersebut mengeluarkan sedekah sebesar 20 juta rupiah. Subhanallah, dalam waktu 1 bulan, jumlah sperma hidup naik menjadi 25%, pada bulan kedua menjadi 60%. Setelah bulan ketiga, sang istri positif hamil 3 minggu. Allahu Akbar, sembilan bulan kemudian bayi mereka pun lahir dengan selamat.
********“Alhamdulillah, terima kasih ya ustadz, anak kami telah lahir dengan selamat” kata sang suami. “Oh jangan terima kasih ke ane, ucapkan syukur kepada Allah. Ente berdua yang telah bertobat, bertauhid dan bersedekah, sehingga Allah mengabulkan do’a ente berdua” kata sang alim.
*******At Taghaabun (ayat 17) : Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyayang.
*******
Pembaca, kisah di atas benar-benar terjadi di Kota Bekasi. Ada 2 kisah lagi yang mirip, dimana suami-istri menikah bertahun-tahun, kemudian diminta sholat taubat dan sedekah, akhirnya mereka diberikan anugerah momongan oleh Allah.Intinya, jangan pernah mempercayai kata dokter.
Karena Allah lah pemilik segala kesembuhan dan pemberi kehidupan, dokter hanya manusia biasa yang mencoba diagnosis dan memberikan pengobatan berdasarkan diagnosis tersebut. Dengan bersedekah, Anda dapat membeli kesembuhan penyakit kesuburan untuk memperoleh anak. Sesungguhnya dunia itu mudah, hanya sifat bakhil yang menghalangi Anda untuk mendapatkan dunia sekaligus pahala di akhirat kelak.

Sumber: Anandita / Eramuslim
Kisah Tragis Tiga Orang Anak

Setiap insan yang telah mengikat diri pada sebuah pernikahan, tentunya menginginkan hadirnya buah hati. Buah hati yang akan mengusir lelah sepulang kerja. Buah hati yang akan melindungi saat-saat kita tua nantinya. Banyak lagi angan dan impian yang ingin kita dapatkan dari anak-anak kita, yang semuanya itu ingin kita wujudkan.
Kehadiran seorang atau beberapa orang anak, tentu saja akan mewarnai rumah kita. Anak-anak yang lahir dengan fitrahnya yang suci, akan terwarnai oleh prilaku dan cara asuh orang-tua dan lingkungannya. Anak-anak yang akan menjadi majusi, nasrani atau Muslim itu tergantung dari diri kita, sebagai orang-tuanya.
Pendidikan dan contoh tauladan dari orang-tua sangat diperlukan, agar anak-anak yang terlahir di dunia ini, menjadi seseorang yang akan di cintai orang-tuanya, lingkungannya maupun sang Pencipta-Nya. Semuanya bermula dari didikan orang-tua.
Tapi sayang sekali, beberapa orang-tua lupa akan fungsinya. Mereka hanya menjadi orang-tua biologis, tanpa tahu bagaimana menjadi orang-tua yang seharusnya. Padahal sebagai orang-tua dari anak-anaknya, akan di mintai pertanggung-jawabannya kelak di hari Perhitungan.
Saat saya bersilaturahim pada seorang saudara, dia menceritakan sebuah penyesalan panjang sepasang orang-tua yang telah kehilangan ketiga anaknya. Penyesalan yang tak ada gunanya, karena tak akan bisa mengembalikan buah hati mereka. Penyesalan atas sikap mereka yang salah, karena selama ini salah dalam menerapkan sistim disiplin dan hukuman pada anak-anaknya.
Orang-tua anak-anak itu adalah sama dengan orang-tua lainnya. Mereka sangat mencintai anak-anaknya, tapi dengan cara yang salah. Ayahnya seorang security pada sebuah perusahaan asing yang sangat disiplin dan berwibawa. Sikap dan karakternya yang hanya cocok di pakai di lingkungan kerjanya, ternyata di gunakannya pula pada penghuni rumahnya, termasuk ketiga anak-anak mereka yang masih berusia antara sekitar sepuluh tahun dan lima tahun.
Ayahnya yang punya jiwa disiplin yang tinggi, selalu meminta disiplin itu pada ketiga anaknya, terutama yang sulung. Bila mereka telah selesai bermain, maka barang-barang mainan itu harus di tempatkan kembali seperti semula. Bila tidak, maka bentakan dan pukulan pun akan didaratkan pada tubuh-tubuh mungil itu. Begitu pula disiplin yang lainnya, mereka harus selalu mematuhinya. Ibunya, tidak berdaya terhadap suaminya. Maka pola kekerasanlah yang mereka gunakan dalam mendidik anak-anak yang belum mengerti hitam-putih dunia ini. Mereka hanya tahu, bila ada kesempatan, tentu saja mereka akan bermain sesuai imajinasinya. Karena dunia mereka memang harus banyak bermain. Itulah yang tidak disadari oleh kedua orang-tuanya.
Anak-anak yang masih berusia sangat hijau itu, tentu saja akan disiplin bila mereka ingat apa yang seharusnya mereka lakukan. Pendisiplinan diri mereka, memang belum bisa di samakan pada seorang dewasa. Orang dewasa memang sudah melewati fase mereka, tapi untuk anak-anak itu? Tentu saja mereka masih harus mengarungi waktu yang cukup panjang untuk menjadi disiplin seperti orang-tuanya.
Kesalahan-kesalahan kecil di mata orang-tuanya, merupakan momok yang sangat mengerikan bagi mereka bertiga. Hempasan badan, tinju dan teriakan merupakan suasana keseharian mereka. Bila ayahnya berangkat kerja dan sang ibu keluar rumah, maka itulah syurga bagi mereka. Mereka akan sangat menikmati jam-jam yang kosong dari situasi yang mencekam tersebut. Tentu saja ini terjadi, karena mereka selalu dianggap salah dalam berkelakuan. Salah, berarti akan ada hukuman yang sangat menyakitkan.
Saat kedua orang-tua mereka tak ada di rumah. Tiga orang saudara ini bermain dengan sepuasnya. Tentu saja permainan yang di komandoi oleh saudara tertua. Hingga akhirnya mereka memakai sebuah kunci kendaraan roda dua milik ayahnya. Kunci itu mereka gunakan untuk bermain. Mereka lupa, resiko yang akan mereka dapatkan bila menggunakan milik berharga bagi ayahnya itu. Kunci yang sangat dilarang untuk disentuh oleh orang-tua mereka. Kunci yang saat pemiliknya tidak ada, merupakan sebuah saat yang dinantikan mereka untuk dapat menikmatinya..
Saat kunci itu terjatuh di sebuah sumur dekat rumahnya, maka ketiga anak-anak yang masih polos itu, berusaha mengambil kembali kunci pusaka tersebut. Karena tahu, akan ada hukuman yang sangat mereka takutkan.
Akhirnya ketiga bersaudara tersebut tenggelam di dasar sumur. Tewas karena mereka tidak mengetahui resikonya. Pada benak mereka hanya terbayang kemarahan luar-biasa sang ayah. Mereka pulang kehadirat Ilahi karena sebuah ketakutan akan kesalahan yang mereka lakukan.
Anak hanya amanah, bukan milik kita. Mereka titipan sang Pencipta, karena mereka sebenarnya merupakan tempat kita beramal-shaleh. Sepanjang usia mereka dan tentu saja sepanjang usia orang-tua untuk mendidik sebaik-baiknya. Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi kita. Karena sebagai orang-tua, seringkali ingin anak-anaknya mempunyai sifat-sifat yang sesuai dengan pengharapannya. Padahal anak-anak itu perlu sebuah proses yang panjang untuk menjadi seseorang yang bernilai di mata kita, lingkungannya dan tentu saja Allah Swt.

Sumber: Ambe Mardiah / Eramuslim

Senin, 22 Juni 2009

Menghantarkan Sang Anak ke Surga
Hari Ahad sepekan yang lalu, saya mengikuti seminar tentang menjadi orang tua yang efektif (parenting) di sebuah yayasan pendidikan Islam di Komsen, Bekasi. Pembicaranya adalah tokoh yang memang pakar dalam masalah tersebut.
Seminar berlangsung di arena kolam renang beratapkan tenda yang biasa digunakan dalam acara-acara pernikahan. Suasana cukup segar dan rileks karena didesain membaur dengan alam terbuka. Lain halnya bila acara diselenggarakan dalam ruang tertutup, barangkali suasana formal dan streng akan cukup mendominasi meski pembicaranya adalah pembicara yang cukup segar dan memberikan banyak pencerahan. Sayangnya, tampilan-tampilan slide yang dipaparkan tidak begitu dinikmati dengan jelas oleh peserta yang duduk dibarisan belakang seperti saya. Sinar mentari yang menembusi acara yang berlangsung dari pukul 8.00 hingga 12.00 itu, menjadikan paparan slide terlihat kabur dan tidak jelas. ‘Ala kulli hal, saya hanya menikmati lantunan lisan dari pembicara seminar yang banyak berkisah tentang kasus-kasus pernikahan dan parenting itu.
Satu kisah yang cukup menyentak saya, adalah kisah seorang ibu aktivis dakwah yang bisa-bisanya “membunuh” anak-anaknya (sebut saja namanya Bu Amy). Sepintas kita akan bertanya, bagaimana mungkin Bu Amy bisa seperti itu? Tetapi itulah realita yang terjadi. Kabarnya beliau menderita kelainan jiwa akibat sikap orang tua (ibu) beliau yang selalu meremehkannya dalam segala hal.
Bu Amy ingin sekali dipandang terhormat, mulia, hebat, atau sekedar dipuji oleh ibunya. Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang wajar seorang anak terhadap seorang ibu, dimana pun dan kapan pun. Setiap anak pasti menginginkan bahwa dirinya berarti, memiliki nilai, dan bermanfaat bagi orang lain. Dan seorang ibu seharusnya memberikan kepercayaan, penghargaan, pujian, motivasi, atau penyemangat atas prestasi dan perilaku positif anaknya. Namun malangnya, ibu beliau bukanlah tipe ibu yang dominan dalam memberi motivasi, penghargaan, ataupun inspirasi. Dia adalah tipe ibu yang dominan dalam hal meremehkan dan melecehkan.
Ketika ia berhasil lulus kuliah dengan gelar cumlaude, ibunya mengatakan:“ Gitu aja kok bangga, lha kamu kuliahnya di jurusan yang gampang, ya mesti dapat prestasi bagus. Coba kamu kuliah di jurusan yang menantang gitu lho!”
Tak dinyana. Saking mendambakan pengakuan dari ibunya, beberapa tahun kemudian secara diam-diam Bu Amy kuliah lagi dan mengambil jurusan yang lebih sulit. Singkat cerita, kali ini pun lulus dengan prestasi cumlaude.
Ia begitu tidak sabar memberi kabar kepada ibunya tentang hal itu. Tetapi apa yang terjadi ketika ia memberi kabar kepada ibunya? Tidak ada reaksi surprise apapun. Sikapnya tetap dingin. Lalu terlontarlah kata-kata meremehkan dan melecehkannya,
“Jangan bangga. Pantas aja kamu dapat prestasi bagus karena kamu pernah kuliah sebelumnya. Jadi kamu pasti lebih berpengalaman dibanding adik-adik mahasiswamu itu.”Sejak itulah jiwanya menjadi goyang. Beliau yang telah dikarunia beberapa anak, sangat takut akan bersikap sama seperti ibunya itu. Sikap yang membunuh kreativitas. Sikap yang melemahkan mental. Sikap yang akan membunuh masa depan anak-anaknya kelak. Andai Bu Amy memiliki kestabilan jiwa, barangkali bisa saja beliau akan menghibur diri, “Ah, di mata ibuku aku memang selalu tidak baik. Ibu macam apa dia? Saya sepatutnya tidak membutuhkan pengakuan apapun darinya”. Atau setidaknya jiwanya akan membatin, “Naudzubillah, alangkah buruk perangai ibuku. Bagaimana aku bisa mendakwahinya? Bagaimana agar aku bisa mengarahkan bagaimana seharusnya memperlakukan anak dengan baik?. Ini adalah tantangan untuk merubah ibuku.” Namun ketegaran itu tidak muncul dari jiwa Bu Amy. Pelecehan demi pelecehan telah mematikan potensi positif dirinya.
Kekecewaan dan ketakutan selalu menghantui Bu Amy. Kecewa dengan perilaku ibunya dan ketakutan perilaku itu menurun kepada dirinya sehingga ia tidak bisa memperlakukan anaknya dengan baik. Halusinasi dan pikiran-pikiran irrasional sering timbul. Akhirnya timbullah pikiran untuk “membunuh” anak-anaknya. Halusinasi mengatakannya bukan membunuh tetapi “mengantarkan anak-anaknya menuju surga”. Bukankah di surga yang ada adalah kata-kata yang baik dan tidak akan ditemukan di sana kata-kata cemoohan.
Pernah ia melakukan experimen tetapi gagal karena kepergok suaminya. Namun niat itu diulangi lagi ketika suaminya pergi ke luar kota selama beberapa hari. Prosesi “penghantaran surga” bagi anak-anaknya itu terasa amat menyedihkan andai benar kita menyaksikannya dalam bentuk sebuah sinetron. Sang anak yang akan dihantarkannya itu terlebih dahulu dimandikan dengan wewangian. Kemudian disusui hingga sangat kenyang. Kemudian dibelai-belai, dicium-cium, diberi kata-kata yang menenangkan, akhirnya sang anak pun tertidur dengan pulas. Berulang kali dikatakan, “Wahai anakku, sesungguhnya ibu amat menyayangimu. Oleh karena itu, ibu ingin menghantarkanmu kepada kehidupan surga yang tidak ada penderitaan di sana. Semoga engkau bahagia, anakku.” Kemudian perlahan-lahan, sebuah bantal ditutupkan ke wajahnya. Lama dan makin kencang. Sehingga sang anak pun akhirnya tidak bisa bernafas dan meninggal dunia.
Ketika abangnya bertanya, ia mengatakan, “Adikmu sudah tenang pergi ke alam surga. Maukah ibu antarkan kamu ke surga seperti adikmu?” Karena kata-katanya menyakinkan, abangnya pun menurut. Akhirnya sang abang pun menyusul adiknya setelah menjalani prosesi yang sama memilukan. Demikian hal itu terjadi juga kepada anak berikutnya.
Ketika sang suami pulang, ia pun bertanya kabar anak-anaknya. Mirip dengan kisah sahabat yang istrinya begitu tabah menghadapi kematian anaknya, Bu Amy pun tanpa ekpresi sedih mengatakan, “Anak-anak sudah tertidur pulas dan dalam kondisi yang amat tenang”. Namun sang suami curiga ketika ia periksa bahwa detak jantung anak-anaknya sudah tidak ada lagi, ia menangkap sebuah kejanggalan terjadi pada isterinya. Singkat cerita, akhirnya sang suami melapor polisi dan akhirnya diketahui dan disimpulkan bahwa Bu Amy mengalami guncangan jiwa yang hebat.
***
Hati saya yang mendengar penuturan itu sangat teriris-iris. Masya Allah, alangkah berat guncangan yang terjadi pada Bu Amy, betapa kejam perilaku orang tua (Ibu beliau) yang selalu mencemoohnya, dan betapa kasihan nasib anak-anaknya yang tidak berdosa.
Saya belum mencari-cari adakah arsip berita seperti yang dikisahkan oleh pembicara itu di google. Di mana tepatnya dan kapan terjadinya. Yang jelas kisah itu amat berkesan di hati saya sehingga tergerak hati ini untuk menuliskannya.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Semoga kita bisa berlaku sebagai orang tua yang baik dan pandai-pandai dalam mendidik anak.
Naudzubillah, kita berlindung kepada Allah Azza Wa Jalla dari guncangan jiwa seperti terjadi pada Bu Amy, sehingga ia tidak bisa membedakan antara “membunuh” dan “menghantarkan sang anak ke surga”.
Waallahu a’lamu bishshawaab

Sumber: Muhammad Rizqon / Eramuslim

Jumat, 12 Juni 2009

Menantu Baru

Enaknya jadi menantu baru. Semuanya jadi serba baru. Anggota keluarga baru, suasana rumah baru, perabot baru. Dan satu lagi yang tergolong rezeki nomplok, pelajaran, perhatian dan kasih sayang dari orang tua baru.
Itulah yang dirasakan Sri. Seminggu sudah masa lajangnya berlalu. Kenikmatan yang Sri terima dari Allah kian membesar. Sudah dapat suami saleh, dapat mertua penyayang. Wah, benar-benar berkah.
Selama seminggu itu, Sri seperti jadi ratu. Semuanya serba dilayani. Mulai dari cuci pakaian, masak, beres-beres rumah, hingga urusan kebersihan kamar Sri sendiri. Semuanya diurus ibu mertua.
Sebenarnya, pembantu di rumah mertua Sri cuma satu. Usianya pun sudah setengah baya. Tapi, karena tekanan dari ibu mertua, si pembantu jadi serba luar biasa. Kerjanya cekatan, tekun, teliti, dan serba bisa. Sebentar-sebentar terdengar teriakan ibu mertua, “Yem, mejanye bedebu, nih. Ubinnye udah dipel belom. Makanan buat Sri udah disiapin belom?”
Betawi. Yah, itulah jodoh Sri. Gadis asli Solo ini dianugerahi Allah jodoh pemuda asli Betawi. Tulen. Walau arsitektur rumah berserta perabotnya sudah moderen, suasana kampung Betawi masih sangat terasa. Semua anggota keluarga berinteraksi satu sama lain layaknya lenong Betawi. Dialognya, egaliternya, perilakunya, kepolosannya, hingga sebutan benda-benda di sekitar rumah. Suatu hal yang super baru buat Sri.
Pasalnya, Sri memang sama sekali belum bergaul dengan dunia Betawi. Dari bayi hingga sudah punya cita-cita ingin punya bayi, dunianya murni Solo. Lembut, santun, ramah, dan serba halus. Suatu hal yang hampir bertolak belakang dengan Betawi. Kadang, Sri senyum-senyum sendiri. “Subhanallah. Mungkin Allah mau mengajarkan saya soal persaudaraan Islam,” ucap Sri dalam hati.
Waktu di Solo, ada teman Sri yang cerita soal orang Betawi. “Aduh, Sri. Kamu harus sabar, lho! Orang Betawi itu kasar!” ucap sang teman ketika tahu calon suami Sri. Dan, itu memang terlihat pada sekilas sosok sang calon. Padahal, calon suami Sri kuliah di Solo. Bertahun-tahun tinggal di Solo, pembawaan tetap asli Betawi. Itu terlihat ketika awal proses pernikahan. Sri sempat kaget dengan ucapan sang calon. “Gimana, Sri mau nerima saya nggak jadi suami?” suara calon suami Sri enteng. Kontan saja, Sri jadi deg-degan. Mau jawab apa.
Ketika proses lamaran calon mertua pun, Sri sempat dibikin kaget. Waktu itu, calon mertua Sri berkunjung ke rumah Sri di Solo. Selain melamar, mereka mau kenalan dengan Sri. Ini dipandang perlu, karena mereka kenal Sri cuma lewat foto. Itu pun cuma sebagian badan dan kepala. Terang saja, calon mertua Sri jadi sangat penasaran.
Ketika berkunjung, ternyata bukan cuma orang tua calon suami Sri saja yang ingin melihat. Hampir seluruh anggota keluarga dekat calon mau ikut melihat. Dan sepertinya, mereka sangat kompak penasaran. “Yang mane, sih calonnye. Yang mane?” ucapan itu menggaung-gaung di telinga Sri. Hampir semua yang datang berucap itu. Ketika bapak memperkenalkan Sri ke para tamu, serempak suara-suara kembali menggaung. “Oh itu! Cakep, ye. Item manis!”
Kini, Sri mulai paham tentang Betawi. Dan Sri jadi sangat yakin kalau ucapan sang teman salah. Betawi memang terlihat seperti kasar. Tapi, itulah bentuk kejujuran, dan kesupelan mereka dalam berinteraksi. Dalam kamus Betawi, tidak ada istilah sungkan. Kalau benar, ya dibilang benar. Dan kalau salah, mereka menyatakan apa adanya. Kepada siapa pun. Walaupun terhadap orang tua sendiri. Semuanya serba to the point.
Di masa-masa penyesuaian itu, Sri belajar banyak pada suami. Mulai dari budaya, perilaku, dan juga bahasa. Sang suami mengajarkan Sri soal istilah sehari-hari. “Sri, kalau lu itu artinya kamu. Dan kalau aye artinya saya. Jangan salah, ya, Sri,” ucap suami suatu kali.
Pernah suatu kali, Sri sedang masak kue. Lagi asyik-asyiknya masak, tiba-tiba ibu mertua Sri muncul dari balik pintu dapur. “Eh, mantu lagi masak. Bikin ape, tu?” kata ibu mertua sambil menghampiri Sri.
Yang ditanya belum juga menjawab. Justru bingung. Sri bingung mesti jawab apa. Pasalnya, ia sedang masak kue bolu. Ia ingat betul dengan ucapan sang suami tentang istilah Betawi. Lu itu artinya kamu. Kalau ia sebut nama kue itu apa adanya, Sri yakin ibu mertuanya pasti tersinggung. Jadi, mesti bilang apa?
Sri jadi gugup. Keringat dingin mulai membasahi jilbabnya. Aduh, bilang apa, ya. “Tu, lu bikin kue ape?” tanya mertua sekali lagi. “Anu, Nyak. Hmmm….” Sri makin gugup. “Kue..kue…kue bol aye, Nyak!” ucap Sri hampir tak terdengar. Ibu mertua Sri tampak terbelalak. “Kue ape?” tanyanya lagi.
Pernah juga Sri dibikin shock sama ayah mertuanya. Persoalannya sebenarnya sederhana. Yaitu, soal buang angin atau kentut. Buat Sri, kentut itu sudah merupakan barang sangat tabu. Jangankan bersuara, tanpa suara saja sudah sangat memalukan. Terlebih saat berada di tengah orang banyak. Tapi, hukum itu tidak berlaku buat babe, ayah mertua Sri.
Suatu kali, ketika keluarga dekat suami ingin kenal lebih dekat dengan Sri, babe ikut bergabung. Silih berganti pembicaraan meletup-letup dari mulut yang satu ke yang lain. Dan suara tawa pun meledak. Posisi duduk para tamu pun tidak beraturan. Ada yang di bangku, di lantai, angkat kaki, dan lain-lain. Cuma babe yang bersila di atas bangku. Kadang, ucapan-ucapan humornya membuat suasana jadi akrab. Sebagai menantu yang baik, Sri duduk bersebelahan dengan babe. Sesekali, Sri menimpali kelucuan-kelucuan babe dengan senyum manis.
Tiba-tiba, di luar dugaan Sri, suara nyaring meletus dari arah bawah babe, “Tuuuut!” Spontan, wajah Sri memerah. Ia seperti menahan marah. Tapi, di luar dugaannya pula, tak satu pun para tamu yang bereaksi. Mereka seperti tidak mendengar apa-apa. Padahal, suara itu teramat nyaring. Dan obrolan pun terus bergulir lancar. Cuma Sri yang gelisah. “Aduh, kok tega babe begitu sama mantunya sendiri,” suara Sri dalam hati. Hampir saja, ia pergi ke kamar untuk menangis.
Sri kadang dibuat malu sama mertua. Pasalnya, ketika sanak keluarga suami berkunjung, selalu saja Sri dibangga-banggakan. “Nih, mantu kesayangan gue. Sekolenye tinggi. Orang pinter tuh, die!” ucap babe tanpa beban. Saat itu, wajah Sri berwarna-warni bagaikan pelangi. Malu.
Pernikahan memang mengajarkan banyak hal buat Sri. Salah satunya adalah kemampuan penyesuaian. Kalau ke keluarga saja tidak mampu adaptasi, gimana dengan orang lain. Dan untuk yang satu ini, Sri benar-benar dibuat kerja keras. Bagaimana pun juga, mereka adalah orang tua suami. Dan itu berarti orang tua Sri juga. Tanpa kurang sedikit pun.
Jadi menantu baru memang membuahkan hal baru. Selain keberkahan baru, tentu saja, tantangan baru. Dan ini berarti perjuangan baru.
Sumber:M.Nuh / Eramuslim