Mertua Ku adalah Orang tua Ku
Ketika seorang wanita menikah, maka tanggung jawab orang tuanya sudah terlepas, karena kini tanggung jawab itu beralih pada sang suami, dan kewajiban sebagai istri adalah memenuhi hak-hak si suami, demikian juga suami terhadap istri. Namun ada yang perlu kita ketahui, kita menikah bukan pada suami kita saja, melainkan pada semua keluarga besar dan juga kedua orang tuanya.
kadang sering terjadi perselisihan memang antara kita dengan keluarga suami, karena dua karakter keluarga dan adat yang berbeda bersatu menjadi keluarga besar. Tapi kita sebagai seorang muslimah yang baik harus mengerti dan memahami. Kita menjadi istri dari anak mertua kita, yang selama ini telah membesarkannya dan berharap suatu hari nanti si anak akan menjaga dan menyayanginya hingga mereka kembali kepada sang khaliq, maka wajarlah kadang bila anaknya ingin menikah, orang tua dari calon mempelai laki-laki menyeleksi calon menantunya terlebih dahulu, sebelum menerimanya menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
Beberapa hari lalu seorang teman minta di telfun oleh saya. Dia bilang ingin curhat dengan saya tentang adik iparnya itu, sebenarnya dia sendiri adalah seorang menantu, dan mempunyai adik ipar yang sudah menikah, jadi yang ingin dia ceritakan adalah istri dari adik iparnya itu, dan kebetulan adiknya itu menikah dengan orang yang sama-sama kami pernah kenal dulu. Maksudnya adalah dia ingin sekali mencari solusi bagaimana mengatasi hal ini, karena dia merasa bertanggung jawab dalam hal ini, kenapa...? karena dia yang dulu mengenalkan nya pada adik iparnya itu. Jadi bukan bermaksud untuk ghibah.
Ceritanya memang sangat mengharukan, karena saya benar-banar tidak manyangka sama sekali, saya mengenal teman (adik ipar teman saya) itu adalah orang yang baik, tapi kini jadi berubah. teman saya bercerita istri adik iparnya itu kini tidak punya sopan santun sama sekali dengan ibu mertuanya, apa lagi ketika sempat si adik ipar itu menginap beberapa minggu di rumah mertuanya. Teman saya bercerita kadang adik iparnya itu, suka ketus bila berbicara pada ibu mertuanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena saya tidak tahu permasalahan yang sebenarnya, jadi saya hanya memberi saran, agar teman saya itu berbicara pada suaminya, maksudnya adik iparnya yang laki-laki, agar dia menasehati istrinya itu.
Sedih sekali saya mendengar cerita teman saya ini, terbayang saya wajah wanita tua itu, mertua dari teman saya, karena saya pernah bertemu dengannya saat liburan tahun lalu. Beliau sudah sangat tua dan beliau mengasuh anak-anaknya sendiri, karena suaminya telah meninggalkannya kembali kepada sang khaliq, ketika anak-anaknya masih kecil-kecil. Betapa sedih hati nya mendapati menantu yang tidak menyayangi dan menghargainya. Terbayang pula oleh saya kedua orang tua suami saya yang sudah renta, beliau tinggal hanya berdua saja, sedangkan kedua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal jauh darinya. Walaupun saya atau suami sering menelfunnya, tapi saya yakin beliau ingin sekali berdekatan dengan anak, manantu dan cucu-cucunya.
Saya jadi ingat cerita tentang Nabi Ibrahim, Ketika itu Nabi Ibrahim berkunjung kerumah anaknya Nabi ismail dan saat itu hanya istri nabi ismail lah yang berada di rumah, lalu Nabi Ibrahim bertanya pada istri Nabi ismail, tentang keadaan rumah tangganya, dan di jawab oleh istri nabi ismail dengan ketus serta membuat Nabi Ibrahim tidak suka mendengarnya, maka ketika Nabi Ibrahim hendak pergi meninggalkan rumah itu, Beliau menitip salam untuk Nabi Ismail pada istrinya, agar segera mengganti tiang pintu rumahnya itu. ketika Nabi Ismail kembali salam itu si sampaikannya, Nabi Ismail tahu, bahwa yang berkunjung tadi adalah ayahnya dan saat itu juga Nabi Ismail segera menceraikan istrinya serta mengembalikannya kepada kedua orang tuanya.
Apakah harus demikian dengan kita, tidak...! Kita InsyaAllah bisa lebih baik dari istri Nabi ismail, dalam berbicara dan sopan santun kita kepada mertua kita, karena beliau adalah orang tua kita, setelah kita menjadi istri dari suami kita. Berfikirlah lebih baik wahai Ukhti, karena kita adalah seorang Ibu, dan anak kita kelak akan menikah nanti. Saya juga sempat merasakan hal itu, namun ketahuilah, bahwa semua yang di lakukan oleh orang tua suami kita itu adalah tidak lain hanyalah cemburu belaka, karena anak yang sedianya senantiasa selalu memperhatikannya, kini terbagi perhatiannya, bahkan kadang perhatian itu menjadi lebih sedikit terhadap kedua orang tuanya, malah lebih banyak kepada kita, sebagai istrinya. Tidak kah kita bersyukur mempunyai suami yang sholeh, maka ingatkanlah pada suami kita, untuk selalu memperhatikan orang tuanya yang sudah membesarkannya.
Bila ada kesempatan kita yang memberi kasih sayang lebih banyak pada mertua kita, sebagaimana kita memberikan kasih sayang kita pada Orang tua kita selama ini. Apa lagi bila mertua lelaki kita sudah tiada, maka ibu mertua kita butuh perhatian lebih dari anak-menantunya, bakti kita padanya, seperti bakti kita pada Ibu kita. Jangan sungkan ucapkan sayang pada beliau, agar beliau tahu kalau kita sebagai menantu tidak akan pernah mengambil hak beliau sebagai seorang ibu yang jadi tanggung jawab bagi anak lelakinya yaitu suami kita, walaupun si anak sudah menikah.
Seperti cerita yang pernah saya tulis juga, tentang kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah. Maka jangan kita biarkan suami kita hanya memberikan kasih sayangnya pada orang tuanya, terutama pada ibunya yang sudah melahirkan dan membesarkannya hanya sampai pada suami menikahi kita dan mendapat kasih sayang dari kita, serta merasa cukup. sehingga perhatian pada kedua orang taunya terabaikan. Jangan.Ingatkan selalu pada suami kita untuk terus berbakti pada kedua orang tuanya.Memperhatikannya, jangan sampai mertua kita berkata pada suami kita,
" Setelah kamu menikah, kamu tidak lagi memperhatikan Ibu..( Kami ) " .
Sedihkan kita mendengarnya, karena itu suatu keluhan dari seseorang yang mempunyai doa yang makbul, yang cemburu karena kehilangan kasih sayang dari anaknya yang sudah beliau besarkan selama ini.
Kewajiban anak laki-laki dalam memberikan perhatiannya pada kedua orang tuanya, walaupun anak lelaki itu sudah menikah adalah jelas, seperti dalam sabda Rosulullah SAW.
Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah SAW. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Mari sayangi Mertua kita, sebagimana kita menyayangi Kedua Orang tua kita, karena di sana ada do´a untuk kebahagian rumah tangga kita. Amiin.
Wallahu´alam bisshowab.
Heidenheim 11 Maret 2009
Sumber:Ummu Mufais / Eramuslim
Mudah-mudahan semua kisah dan informasi yg temen-temen dpt di blog ini bisa menjadi ilmu yg bermanfaat, sehingga nantinya bisa menjadi amal jariah buat saya,mohon maaf apabila ada kekeliruan informasi karena sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Alloh dan kesalahan itu datang dari saya sendiri.
Rabu, 11 Maret 2009
Rabu, 04 Maret 2009
Jangan Pernah Berpaling
Ketika pernikahan dilandasi dengan rasa iman pada Alloh,maka akan mudah kita menjembatani warna-warna yang hadir dalam pernikahan tersebut yang berasal dari berbagai perbedaan yang terdapat dalam diri suami maupun istri. Dari perbedaan sifat, kesukaan, selera makan serta kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki sejak dahulu kala bukan menjadi alasan bagi seorang untuk berpaling dari pasangannya.
Ketika makan siang bersama atau kumpul santai atau adapula yang sengaja curhat dari hati kehati, yang sedikitnya menyinggung tentang kekurangan atau perbedaan yang ada dengan pasangan hidupnya.
Ada yang jengkel karena pasangannya yang suka lupa meletakkan barang atau sembarangan menaruh barang, pasangan yang kurang romantis,pasangan yang kurang perhatian, cepat marah, kurang menghargai sampai pasangan yang suka akan suatu makanan dan sebaliknya pasangannya membenci makanan tersebut.
Gara-gara makanan ini,si istri kadang menjadi ilfil (gimana ngga,katanya...sebab dia paling ga suka dengan jengkol,sementara suaminya suka dengan jengkol,apalagi kalo disemur...wah..wah :))
Untuk masalah-masalah kecilpun akhirnya karena tidak dikelola dengan baik menjadi alasan untuk membuat suasana yang kurang nyaman.Apalagi kalau tidak dibiasakan budaya keterbukaan ketika ada masalah,hanya dipendam,dipendam dan dipendam.Yang akhirnya membuat situasi rumahtangga kita tidak seperti yang digambarkan Alloh SWT tentang hakekat pernikahan sebenarnya
" Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya,Dia menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri supaya kamu tenteram bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasihsayang di antara kamu" (QS 30:21)
Perbedaan-perbedaan yang ada selama tidak menyangkut aqidah dan hal-hal yang jelas halal dan haromnya, hendaknya justru membuat suatu rumah tangga menjadi ajang untuk saling menularkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri suami maupun istri yang akhirnya mampu mewujudkan generasi yang lebih baik dari orangtuanya yang memiliki kumpulan nilai-nilai positif yang dimiliki oleh ibu dan ayahnya.
Bila istri seorang yang rapih,cermat sementara suami sebaliknya,inilah ajang istri untuk menularkan kelebihannya ini kepada suami tentunya dengan cara yang hikmah dan sabar. Sebaliknya bila suami seorang yang sabar,sementara istrinya seorang yang kurang sabar,inilah saatnya untuk menularkan sifat sabarnya tanpa berputus asa dan terburu-buru mengharapkan segera ada perubahan dalam diri istrinya.
Kita harus mencoba memahami bahwa kebiasaan atau sifat yang mungkin kurang pas yang dimiliki oleh pasangan kita berawal dari pola pengasuhan yang diterima ditambah pengaruh lingkungan sekitarnya sehingga hal tersebut menjadi suatu karakter atau kebiasaan . Sehingga ketika kita menuntut terjadinya perubahan secara cepat pada diri pasangan kita, hal tersebut mungkin akan sulit,karena semua membutuhkan proses yang berbeda-beda.
Ditengah minimnya usaha kita untuk saling mengishlahkan,masuklah bisikan syaiton yang menghembuskan ke dalam dada kita untuk berpaling dari pasangan yang telah Alloh karuniakan pada diri kita. Kita biarkan hati ini mengembara mencari sosok yang memiliki kesamaan dengan diri kita,yang akhirnya semakin menancap eksistensi kekurangan pasangan kita tersebut. Kadang dalam keberpalingan tersebut kita korbankan waktu dan hak anak kita untuk mendapatkan perhatian karena 'kesibukan'kita.
Keharusnya kita sadari bahwa "rumput tetangga akan kelihatan lebih hijau",dimana mungkin kita merasa tetangga,teman beruntung karena pasangan hidupnya tidak seperti pasangan hidup kita yang menjengkelkan,tidak menyenangkan,tidak perhatian,egois,keras kepala dan lain sebagainya,padahal sesungguhnya itu hanya tampak sebatas lahiriah saja. Seandainya mereka tinggal bersama dengan kita,mengalami masalah yang sama,berinteraksi secara intensif,tentunya hal-hal yang semula terlihat indah dan hijau akan terlihat bahwa dia tidak lebih baik dari pasangan kita.
Ketika perasaan saya terbawa melihat kekurangan suami saya atau kambuhnya hal-hal yang kurang baik yang telah kita sepakati untuk diubah, maka saya mencoba untuk melihat segudang kebaikan suami saya kepada saya,anak-anak,keluarga besar saya serta kebaikannya kepada para ikhwah yang kerap ditolongnya apabila mereka kesulitan. Dan sayapun menyadarkan diri saya bahwa sayapun memiliki banyak kekurangan.
Walaupun kadang bisikan syaiton mengajak pada diri untuk mengagumi sosok yang 'sepertinya'mampu memuaskan dahaga keinginan ' yang selama ini tidak kita dapati pada pasangan kita, luruskanlah kembali hati dan perasaan kita bahwa 'pasangan kita adalah pasangan yang terbaik,terhebat,terindah'yang telah Alloh karuniakan pada diri kita untuk menjadi suami/istri dan ayah/ibu bagi anak-anak kita. Semoga bersatunya kita di dunia akan bersatu pula di JannahNYA.
Robbanaa hablanaa minazwaajinaa wadzurriyyatinaa qurrotaa'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamanYa Robb,anugrahilah kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa
Sumber:Endi Farah (ummu ahzami) / eramuslim
Ketika pernikahan dilandasi dengan rasa iman pada Alloh,maka akan mudah kita menjembatani warna-warna yang hadir dalam pernikahan tersebut yang berasal dari berbagai perbedaan yang terdapat dalam diri suami maupun istri. Dari perbedaan sifat, kesukaan, selera makan serta kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki sejak dahulu kala bukan menjadi alasan bagi seorang untuk berpaling dari pasangannya.
Ketika makan siang bersama atau kumpul santai atau adapula yang sengaja curhat dari hati kehati, yang sedikitnya menyinggung tentang kekurangan atau perbedaan yang ada dengan pasangan hidupnya.
Ada yang jengkel karena pasangannya yang suka lupa meletakkan barang atau sembarangan menaruh barang, pasangan yang kurang romantis,pasangan yang kurang perhatian, cepat marah, kurang menghargai sampai pasangan yang suka akan suatu makanan dan sebaliknya pasangannya membenci makanan tersebut.
Gara-gara makanan ini,si istri kadang menjadi ilfil (gimana ngga,katanya...sebab dia paling ga suka dengan jengkol,sementara suaminya suka dengan jengkol,apalagi kalo disemur...wah..wah :))
Untuk masalah-masalah kecilpun akhirnya karena tidak dikelola dengan baik menjadi alasan untuk membuat suasana yang kurang nyaman.Apalagi kalau tidak dibiasakan budaya keterbukaan ketika ada masalah,hanya dipendam,dipendam dan dipendam.Yang akhirnya membuat situasi rumahtangga kita tidak seperti yang digambarkan Alloh SWT tentang hakekat pernikahan sebenarnya
" Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya,Dia menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri supaya kamu tenteram bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasihsayang di antara kamu" (QS 30:21)
Perbedaan-perbedaan yang ada selama tidak menyangkut aqidah dan hal-hal yang jelas halal dan haromnya, hendaknya justru membuat suatu rumah tangga menjadi ajang untuk saling menularkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri suami maupun istri yang akhirnya mampu mewujudkan generasi yang lebih baik dari orangtuanya yang memiliki kumpulan nilai-nilai positif yang dimiliki oleh ibu dan ayahnya.
Bila istri seorang yang rapih,cermat sementara suami sebaliknya,inilah ajang istri untuk menularkan kelebihannya ini kepada suami tentunya dengan cara yang hikmah dan sabar. Sebaliknya bila suami seorang yang sabar,sementara istrinya seorang yang kurang sabar,inilah saatnya untuk menularkan sifat sabarnya tanpa berputus asa dan terburu-buru mengharapkan segera ada perubahan dalam diri istrinya.
Kita harus mencoba memahami bahwa kebiasaan atau sifat yang mungkin kurang pas yang dimiliki oleh pasangan kita berawal dari pola pengasuhan yang diterima ditambah pengaruh lingkungan sekitarnya sehingga hal tersebut menjadi suatu karakter atau kebiasaan . Sehingga ketika kita menuntut terjadinya perubahan secara cepat pada diri pasangan kita, hal tersebut mungkin akan sulit,karena semua membutuhkan proses yang berbeda-beda.
Ditengah minimnya usaha kita untuk saling mengishlahkan,masuklah bisikan syaiton yang menghembuskan ke dalam dada kita untuk berpaling dari pasangan yang telah Alloh karuniakan pada diri kita. Kita biarkan hati ini mengembara mencari sosok yang memiliki kesamaan dengan diri kita,yang akhirnya semakin menancap eksistensi kekurangan pasangan kita tersebut. Kadang dalam keberpalingan tersebut kita korbankan waktu dan hak anak kita untuk mendapatkan perhatian karena 'kesibukan'kita.
Keharusnya kita sadari bahwa "rumput tetangga akan kelihatan lebih hijau",dimana mungkin kita merasa tetangga,teman beruntung karena pasangan hidupnya tidak seperti pasangan hidup kita yang menjengkelkan,tidak menyenangkan,tidak perhatian,egois,keras kepala dan lain sebagainya,padahal sesungguhnya itu hanya tampak sebatas lahiriah saja. Seandainya mereka tinggal bersama dengan kita,mengalami masalah yang sama,berinteraksi secara intensif,tentunya hal-hal yang semula terlihat indah dan hijau akan terlihat bahwa dia tidak lebih baik dari pasangan kita.
Ketika perasaan saya terbawa melihat kekurangan suami saya atau kambuhnya hal-hal yang kurang baik yang telah kita sepakati untuk diubah, maka saya mencoba untuk melihat segudang kebaikan suami saya kepada saya,anak-anak,keluarga besar saya serta kebaikannya kepada para ikhwah yang kerap ditolongnya apabila mereka kesulitan. Dan sayapun menyadarkan diri saya bahwa sayapun memiliki banyak kekurangan.
Walaupun kadang bisikan syaiton mengajak pada diri untuk mengagumi sosok yang 'sepertinya'mampu memuaskan dahaga keinginan ' yang selama ini tidak kita dapati pada pasangan kita, luruskanlah kembali hati dan perasaan kita bahwa 'pasangan kita adalah pasangan yang terbaik,terhebat,terindah'yang telah Alloh karuniakan pada diri kita untuk menjadi suami/istri dan ayah/ibu bagi anak-anak kita. Semoga bersatunya kita di dunia akan bersatu pula di JannahNYA.
Robbanaa hablanaa minazwaajinaa wadzurriyyatinaa qurrotaa'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamanYa Robb,anugrahilah kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa
Sumber:Endi Farah (ummu ahzami) / eramuslim
Rabu, 25 Februari 2009
Janganlah Marah, Bagimu Surga
Sebelum riset menunjukkan hubungan marah dengan kesehatan, Rasullah berkali-kali mengingatkan untuk menghindari marah
Keutamaan menahan marah sudah beribu kali disampaikan Rasulullah dan para ulama kita. Larangan ini masuk akal, sebab akibat amarah, seseorang dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan agama. Seperti memukul, berdusta, mencaci, berkata kotor, bahkan bisa membunuh.
Dalam agama kita, bertebaran ayat dan hadist yang mengingatkan dan melarang dengan perbuatan satu ini.
Diantaranya, Allah memuji seseorang yang tidak suka membalas dendam dan lebih suka memaafkan. “Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” [QS : Asy-Syura' : 37]
Dalam ayat lain disebutkan, orang yang mampu menahan amarahnya termasuk yang dapat mendapatkan kecintaan-Nya. Firman Allah : "Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." [QS AH Imron : 134].
Dalam sebuah hadist, disampaikan. "Dari Mu'adz bin Anas Al Juhani, Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebutkan dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki" (HR. Tarmidzi 2021, Abu Daud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad440).
Rasulullah mengatakan, orang yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menjauhkannya dari murka-Nya. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin amr bahwasannya dia bertanya kepada Rasulullah SAW : "Wahai Rasulullah, amalan apa yang dapat menjauhkan aku dari murka Allah ?" Beliau menjawab : "Jangan marah!" (HR. Ahmad)
"Abu Darda' ra. berkata : ada seseorang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tunjukilah aku sebuah amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga !" Rasulullah menjawab : "Jangan marah, dan bagimu surga". [Shahih li qharrihi HR Thabrani].
Temuan peneliti dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS) tentang efek marah ini, semakin menunjukkan, betapa nilai-nilai ajaran Islam lebih jauh melampaui batas akal manusia.
Sumber: [hid/www.hidayatullah.com]
Sebelum riset menunjukkan hubungan marah dengan kesehatan, Rasullah berkali-kali mengingatkan untuk menghindari marah
Keutamaan menahan marah sudah beribu kali disampaikan Rasulullah dan para ulama kita. Larangan ini masuk akal, sebab akibat amarah, seseorang dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan agama. Seperti memukul, berdusta, mencaci, berkata kotor, bahkan bisa membunuh.
Dalam agama kita, bertebaran ayat dan hadist yang mengingatkan dan melarang dengan perbuatan satu ini.
Diantaranya, Allah memuji seseorang yang tidak suka membalas dendam dan lebih suka memaafkan. “Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” [QS : Asy-Syura' : 37]
Dalam ayat lain disebutkan, orang yang mampu menahan amarahnya termasuk yang dapat mendapatkan kecintaan-Nya. Firman Allah : "Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." [QS AH Imron : 134].
Dalam sebuah hadist, disampaikan. "Dari Mu'adz bin Anas Al Juhani, Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebutkan dan memujinya pada hari kiamat kelak di hadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki" (HR. Tarmidzi 2021, Abu Daud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad440).
Rasulullah mengatakan, orang yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menjauhkannya dari murka-Nya. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin amr bahwasannya dia bertanya kepada Rasulullah SAW : "Wahai Rasulullah, amalan apa yang dapat menjauhkan aku dari murka Allah ?" Beliau menjawab : "Jangan marah!" (HR. Ahmad)
"Abu Darda' ra. berkata : ada seseorang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tunjukilah aku sebuah amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga !" Rasulullah menjawab : "Jangan marah, dan bagimu surga". [Shahih li qharrihi HR Thabrani].
Temuan peneliti dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS) tentang efek marah ini, semakin menunjukkan, betapa nilai-nilai ajaran Islam lebih jauh melampaui batas akal manusia.
Sumber: [hid/www.hidayatullah.com]
Pengalaman Pengantin Baru
Menegur orang yang berbuat salah itu adalah suatu kebajikan, bahkan menurut saya menegur orang yang berbuat salah lebih sulit ketimbang mengajak orang lain berbuat kebaikan. Tapi, bagaimana bila yang terjadi justru sebaliknya, bukannya menegur orang yang berbuat salah, melainkan salah menegur orang yang tidak berbuat salah? Duh...yang pertama, malu pastinya. Hati-hati, teguran kita justru dapat menjadi fitnah, lha wong nggak berbuat salah kok? Bisa dituntut dengan pasal pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan lho...
Saya mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga akan hal ini, dari pengalaman saya sendiri.
Dua hari setelah acara pernikahan, saya mengajak suami ke desa tempat tinggal nenek saya. Menjenguk nenek saya yang sedang sakit, sekaligus memperkenalkan keluarga besar saya pada suami. Pagi hari usai sholat subuh saya dan suami keluar rumah untuk menikmati pemandangan desa dan menghirup segarnya udara pagi pedesaan.
Ditengah jalan, kami berpapasan dengan rombongan pemuda yang berpenampilan khas anak santri, sekitar 5 orang. Arah kami berlawanan. Hanya dua langkah setelah mereka melewati saya dan suami, salah seorang berseru,
"Bukan mahrom !"
Suasana yang hening membuat seruan itu terdengar begitu jelas. Saya dan suami menengok ke samping kanan, kiri, dan belakang kami, tak ada orang lain selain kami, dan hanya kami yang merupakan pasangan. Sedikit bingung, karena kami tidak berlaku sebagaimana orang pacaran, seperti bergandengan tangan atau berangkulan.
Oalah...saya dan suami pun kemudian mengerti. Rupanya mereka mengira saya dan suami adalah pasangan bukan mahrom, yang pagi-pagi buta jalan hanya berduaan. Saya dan suami saling berpandangan, tertawa geli.
Saya menghargai keberaniannya untuk menegur. Eh salah, baru disebut berani bila ia berdiri ke hadapan kami dan menegur secara langsung, bukan berteriak sambil lalu, kemudian berbuat seolah-olah tak pernah berkata apa-apa. Tapi biarpun begitu, saya tetap merasa salut dengan niat baiknya nahi munkar, sayang ia memperingatkan orang yang salah. Saya dan laki-laki yang jalan bersama saya sudah sah menikah. Masak jalan berduaan sama suami nggak boleh ?
Dilain waktu, masih dalam suasana pengantin baru (Lima hari setelah hari pernikahan). Ketika Jogja tertimpa bencana gempa, saya dan suami berangkat ke Jogja dari Lombok, tanah kelahiran saya. Di Jogja saya ikut sebagai relawan sebagai tim medis mobile clinic.
Sembari menunggu mobil yang akan membawa saya dan tim medis lainnya ke lokasi-lokasi bencana, saya mengambil handphone dan mengetik SMS. Seorang akhwat yang belum saya kenal rupanya secara tidak sengaja atau sengaja ? Melihat barisan kata yang tengah saya ketik dihandphone saya,"Sayang, lagi ngapain...? Adek kangen..."Terkirim kepada "Lelaki Surga", nama yang saya berikan untuk suami didalam kontak handphone saya.
Sepanjang perjalanan menuju ke lokasi bencana, si akhwat tersebut acuh tak acuh terhadap saya, tak ada keramahan yang ia tunjukkan. Ketika tiba dilokasi dan kami mulai bekerja, disela-sela istirahat, teman dari akhwat tersebut bertanya pada saya, "Mbak dari mana...?""Saya dari lombok...""Lho, jauh sekali...terus disini (Jogja) tinggal sama siapa?""Nginap di rumah Budenya suami..."
Si akhwat yang sempat melirik SMS mesra saya tadi, mendengar perbincangan antara saya dengan temannya. Serta merta ia terperangah dan berkata,"Ooooh mbak udah nikah, yaa...? Duhh...saya jadi maluu..."Barulah sikapnya berubah ramah terhadap saya.
Tidak tabayun (Konfirmasi), Su'udzon deh jadinya...
Belajar dari pengalaman tersebut, saya pun jadi lebih berhati-hati menilai orang lain. Ternyata, kita tidak boleh begitu saja menilai orang lain itu salah dari hanya penglihatan luar kita saja, apalagi bila hanya berdasarkan prasangka.
Suatu hari, ketika saya tengah ikut suami ke kampus, sembari menunggu suami selesai kuliah, saya main internet di warnet kampus. Di box tepat didepan saya digunakan oleh sepasang muda-mudi yang tingkah laku mereka membuat saya merasa gerah. Perempuannya menggunakan celana super pendek dan ketat dengan baju atasan tak kalah ketat dan terbuka, sedang yang laki-laki menggunakan jaket bertopi yang menutupi kepalanya. Melihat dari cara berpakaian si perempuan, mungkin wajar bila orang menyangka ia bukanlah perempuan baik-baik.
Tingkah mesra mereka yang saling memeluk dan mencium membuat saya jengah hingga kehilangan konsentrasi. Berbagai pikiran negatif berkecamuk dalam benak saya. Mereka harus diberi peringatan, nih! Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan! Saya pun menyusun kalimat apa yang akan saya lontarkan kepada mereka, terus terang deg-degan! Nahi Munkar memang butuh keberanian lebih. Eit...tunggu dulu, siapa tahu mereka itu pasangan menikah ? Cegah bathin saya. Teringat kembali pengalaman saya ketika pengantin baru dahulu, disangka pasangan yang belum halal alias pacaran.
Dengan menghimpun keberanian, saya pun mendekati pasangan muda-mudi tersebut."Mbak sama Masnya ini suami-isteri, bukan?"Dijawab oleh yang perempuan dengan ramah, "Oh, iyaa...kita ini baru aja menikah...baru beberapa hari yang lalu""Ooo...pengantin baru, pantesan mesra-mesraan gitu..." Ujar saya tersenyum.
Ufh...lega...
Lega yang pertama karena mereka tidak sedang berbuat "mesum". Lega yang kedua karena saya mengkonfirmasi terlebih dahulu sebelum memberi peringatan. Tadinya, bila mereka menjawab belum menikah, saya sudah menyiapkan khotbah buat mereka. Lain waktu, saya harus belajar untuk selalu melakukan tabayun terlebih dahulu sebelum menilai orang lain salah, ataupun sebelum memberikan peringatan kepada orang lain...
Sumber:Cahaya Khairani / Eramuslim
Menegur orang yang berbuat salah itu adalah suatu kebajikan, bahkan menurut saya menegur orang yang berbuat salah lebih sulit ketimbang mengajak orang lain berbuat kebaikan. Tapi, bagaimana bila yang terjadi justru sebaliknya, bukannya menegur orang yang berbuat salah, melainkan salah menegur orang yang tidak berbuat salah? Duh...yang pertama, malu pastinya. Hati-hati, teguran kita justru dapat menjadi fitnah, lha wong nggak berbuat salah kok? Bisa dituntut dengan pasal pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan lho...
Saya mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga akan hal ini, dari pengalaman saya sendiri.
Dua hari setelah acara pernikahan, saya mengajak suami ke desa tempat tinggal nenek saya. Menjenguk nenek saya yang sedang sakit, sekaligus memperkenalkan keluarga besar saya pada suami. Pagi hari usai sholat subuh saya dan suami keluar rumah untuk menikmati pemandangan desa dan menghirup segarnya udara pagi pedesaan.
Ditengah jalan, kami berpapasan dengan rombongan pemuda yang berpenampilan khas anak santri, sekitar 5 orang. Arah kami berlawanan. Hanya dua langkah setelah mereka melewati saya dan suami, salah seorang berseru,
"Bukan mahrom !"
Suasana yang hening membuat seruan itu terdengar begitu jelas. Saya dan suami menengok ke samping kanan, kiri, dan belakang kami, tak ada orang lain selain kami, dan hanya kami yang merupakan pasangan. Sedikit bingung, karena kami tidak berlaku sebagaimana orang pacaran, seperti bergandengan tangan atau berangkulan.
Oalah...saya dan suami pun kemudian mengerti. Rupanya mereka mengira saya dan suami adalah pasangan bukan mahrom, yang pagi-pagi buta jalan hanya berduaan. Saya dan suami saling berpandangan, tertawa geli.
Saya menghargai keberaniannya untuk menegur. Eh salah, baru disebut berani bila ia berdiri ke hadapan kami dan menegur secara langsung, bukan berteriak sambil lalu, kemudian berbuat seolah-olah tak pernah berkata apa-apa. Tapi biarpun begitu, saya tetap merasa salut dengan niat baiknya nahi munkar, sayang ia memperingatkan orang yang salah. Saya dan laki-laki yang jalan bersama saya sudah sah menikah. Masak jalan berduaan sama suami nggak boleh ?
Dilain waktu, masih dalam suasana pengantin baru (Lima hari setelah hari pernikahan). Ketika Jogja tertimpa bencana gempa, saya dan suami berangkat ke Jogja dari Lombok, tanah kelahiran saya. Di Jogja saya ikut sebagai relawan sebagai tim medis mobile clinic.
Sembari menunggu mobil yang akan membawa saya dan tim medis lainnya ke lokasi-lokasi bencana, saya mengambil handphone dan mengetik SMS. Seorang akhwat yang belum saya kenal rupanya secara tidak sengaja atau sengaja ? Melihat barisan kata yang tengah saya ketik dihandphone saya,"Sayang, lagi ngapain...? Adek kangen..."Terkirim kepada "Lelaki Surga", nama yang saya berikan untuk suami didalam kontak handphone saya.
Sepanjang perjalanan menuju ke lokasi bencana, si akhwat tersebut acuh tak acuh terhadap saya, tak ada keramahan yang ia tunjukkan. Ketika tiba dilokasi dan kami mulai bekerja, disela-sela istirahat, teman dari akhwat tersebut bertanya pada saya, "Mbak dari mana...?""Saya dari lombok...""Lho, jauh sekali...terus disini (Jogja) tinggal sama siapa?""Nginap di rumah Budenya suami..."
Si akhwat yang sempat melirik SMS mesra saya tadi, mendengar perbincangan antara saya dengan temannya. Serta merta ia terperangah dan berkata,"Ooooh mbak udah nikah, yaa...? Duhh...saya jadi maluu..."Barulah sikapnya berubah ramah terhadap saya.
Tidak tabayun (Konfirmasi), Su'udzon deh jadinya...
Belajar dari pengalaman tersebut, saya pun jadi lebih berhati-hati menilai orang lain. Ternyata, kita tidak boleh begitu saja menilai orang lain itu salah dari hanya penglihatan luar kita saja, apalagi bila hanya berdasarkan prasangka.
Suatu hari, ketika saya tengah ikut suami ke kampus, sembari menunggu suami selesai kuliah, saya main internet di warnet kampus. Di box tepat didepan saya digunakan oleh sepasang muda-mudi yang tingkah laku mereka membuat saya merasa gerah. Perempuannya menggunakan celana super pendek dan ketat dengan baju atasan tak kalah ketat dan terbuka, sedang yang laki-laki menggunakan jaket bertopi yang menutupi kepalanya. Melihat dari cara berpakaian si perempuan, mungkin wajar bila orang menyangka ia bukanlah perempuan baik-baik.
Tingkah mesra mereka yang saling memeluk dan mencium membuat saya jengah hingga kehilangan konsentrasi. Berbagai pikiran negatif berkecamuk dalam benak saya. Mereka harus diberi peringatan, nih! Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan! Saya pun menyusun kalimat apa yang akan saya lontarkan kepada mereka, terus terang deg-degan! Nahi Munkar memang butuh keberanian lebih. Eit...tunggu dulu, siapa tahu mereka itu pasangan menikah ? Cegah bathin saya. Teringat kembali pengalaman saya ketika pengantin baru dahulu, disangka pasangan yang belum halal alias pacaran.
Dengan menghimpun keberanian, saya pun mendekati pasangan muda-mudi tersebut."Mbak sama Masnya ini suami-isteri, bukan?"Dijawab oleh yang perempuan dengan ramah, "Oh, iyaa...kita ini baru aja menikah...baru beberapa hari yang lalu""Ooo...pengantin baru, pantesan mesra-mesraan gitu..." Ujar saya tersenyum.
Ufh...lega...
Lega yang pertama karena mereka tidak sedang berbuat "mesum". Lega yang kedua karena saya mengkonfirmasi terlebih dahulu sebelum memberi peringatan. Tadinya, bila mereka menjawab belum menikah, saya sudah menyiapkan khotbah buat mereka. Lain waktu, saya harus belajar untuk selalu melakukan tabayun terlebih dahulu sebelum menilai orang lain salah, ataupun sebelum memberikan peringatan kepada orang lain...
Sumber:Cahaya Khairani / Eramuslim
Selasa, 24 Februari 2009
Ngobrolin Suami, Yuk ?
Ketika beberapa ibu muda tengah berkumpul di sebuah acara pengajian, salah seorang diantaranya adalah seorang ibu muda baru. Maksud saya...baru beberapa hari menikah (Sssttt... masih bau melati !). Sebuah pertanyaan spontan terlontar dari ibu muda baru ini,
“Wajar nggak sih...kalo baru beberapa hari menikah suami sudah bicarakan poligami...?” :(
Eh...secara kompak tanpa dikomando para ibu muda itu menjawab,
“Itu sih, biasaaa...”
Jangankan beberapa hari menikah, yang pada saat malam pertama suaminya sudah bicarakan poligami pun, ada!.
Benarkah sedemikian parahnya (Sebagian) para suami hingga membicarakan hal sensitif itu kepada isteri yang baru saja dinikahinya...?
Hmm...Bagi akhwat yang belum menikah, jangan esmosi eh emosi dulu ya...apalagi jadi takut menikah, persiapkan saja diri untuk menghadapi hal seperti ini di awal pernikahan Anda. Kalau-kalau hal ini terjadi pada Anda. Berikut ini akan saya berikan rahasianya ;)
Umumnya, pengantin baru yang mengalami masalah tersebut adalah pasangan yang tidak menjalani proses pacaran terlebih dahulu. Mereka diperkenalkan oleh pihak ketiga yang sebutan kerennya “Mak Comblang” yaitu guru ngaji, orang tua, kakak, adik, atau teman. Oleh karena tidak saling mengenal lebih dalam sebelumnya, sebagian pasangan merasa kesulitan untuk menyatakan perasaan atau pun menyatakan apa yang ia rasakan di awal pernikahan mereka. Sehingga bahasa air mata, muka cemberut, atau bahasa sindiran kerap digunakan oleh pasangan pengantin baru ini.
Bagi sebagian laki-laki (Terutama yang tidak pernah pacaran sebelumnya), merasa gengsi untuk bertanya, “Apakah kamu mencintai, membutuhkanku, dan takut kehilangan diriku wahai isteriku...?” kepada seorang wanita yang baru saja dinikahinya, yang ia belum mengetahui apakah wanita yang ia nikahi itu juga mencintainya ataukah tidak, sebab tak pernah ada pernyataan cinta sebelum mereka menikah.
Di sinilah sebagian suami itu mengeluarkan jurus ampuhnya, yaitu membicarakan soal poligami. Hanya dengan satu kata itu, jawaban atas keingintahuannya akan cinta, kasih sayang, perasaan membutuhkan, dan takut kehilangan isteri terhadap dirinya akan ia dapatkan. Bila isteri marah, atau menangis, atau ngambek, selain penyesalan, si suami pun akan merasa senang dan bahagia. “Ternyata isteriku ini mencintaiku!” Begitulah kira-kira sorak hati si suami.
Gawatnya, bagaimana bila isteri menganggap hal ini sebagai masalah besar ? Kemudian serta-merta tidak mempercayai si suami ? Lantas dirinya menjadi minder, merasa tidak dicintai, merasa dirinya serba kekurangan hingga suami ingin menikah lagi (Yang ia pikir pernyataan serius)?
Jangan dimasukkan dalam hati. Begitulah cara sebagian suami untuk mengetahui seberapa dalam cinta isteri padanya. Ia gengsi untuk menanyakan secara langsung. Tapi...pura-puralah marah dan kesal, pukul atau cubit ia dengan manja, tunjukkan kecemburuan kita dengan sikap manja, dia pasti akan tertawa senang. Selanjutnya, jangan ragu-ragu menunjukkan dengan kata-kata bahwa kita sangat mencintai dan membutuhkannya, puji dia bila ia memberikan kebaikan pada diri kita, baik dihadapannya maupun dihadapan orang lain. Jangan lupa selalu ucapkan terima kasih atas sekecil apapun kebaikan yang ia tunjukkan, dengan begitu suami akan merasa dihargai.
Bila suami telah merasa dicintai, dibutuhkan, dan dihargai, ia tidak akan menggunakan jurus ampuh itu lagi untuk mengetahui seberapa dalam kita mencintainya. Hei Jeng, kita tidak mau kan kalau pernyataan iseng suami menjadi kenyataan...? :)
Sumber:Cahaya Khairani / Eramuslim
Ketika beberapa ibu muda tengah berkumpul di sebuah acara pengajian, salah seorang diantaranya adalah seorang ibu muda baru. Maksud saya...baru beberapa hari menikah (Sssttt... masih bau melati !). Sebuah pertanyaan spontan terlontar dari ibu muda baru ini,
“Wajar nggak sih...kalo baru beberapa hari menikah suami sudah bicarakan poligami...?” :(
Eh...secara kompak tanpa dikomando para ibu muda itu menjawab,
“Itu sih, biasaaa...”
Jangankan beberapa hari menikah, yang pada saat malam pertama suaminya sudah bicarakan poligami pun, ada!.
Benarkah sedemikian parahnya (Sebagian) para suami hingga membicarakan hal sensitif itu kepada isteri yang baru saja dinikahinya...?
Hmm...Bagi akhwat yang belum menikah, jangan esmosi eh emosi dulu ya...apalagi jadi takut menikah, persiapkan saja diri untuk menghadapi hal seperti ini di awal pernikahan Anda. Kalau-kalau hal ini terjadi pada Anda. Berikut ini akan saya berikan rahasianya ;)
Umumnya, pengantin baru yang mengalami masalah tersebut adalah pasangan yang tidak menjalani proses pacaran terlebih dahulu. Mereka diperkenalkan oleh pihak ketiga yang sebutan kerennya “Mak Comblang” yaitu guru ngaji, orang tua, kakak, adik, atau teman. Oleh karena tidak saling mengenal lebih dalam sebelumnya, sebagian pasangan merasa kesulitan untuk menyatakan perasaan atau pun menyatakan apa yang ia rasakan di awal pernikahan mereka. Sehingga bahasa air mata, muka cemberut, atau bahasa sindiran kerap digunakan oleh pasangan pengantin baru ini.
Bagi sebagian laki-laki (Terutama yang tidak pernah pacaran sebelumnya), merasa gengsi untuk bertanya, “Apakah kamu mencintai, membutuhkanku, dan takut kehilangan diriku wahai isteriku...?” kepada seorang wanita yang baru saja dinikahinya, yang ia belum mengetahui apakah wanita yang ia nikahi itu juga mencintainya ataukah tidak, sebab tak pernah ada pernyataan cinta sebelum mereka menikah.
Di sinilah sebagian suami itu mengeluarkan jurus ampuhnya, yaitu membicarakan soal poligami. Hanya dengan satu kata itu, jawaban atas keingintahuannya akan cinta, kasih sayang, perasaan membutuhkan, dan takut kehilangan isteri terhadap dirinya akan ia dapatkan. Bila isteri marah, atau menangis, atau ngambek, selain penyesalan, si suami pun akan merasa senang dan bahagia. “Ternyata isteriku ini mencintaiku!” Begitulah kira-kira sorak hati si suami.
Gawatnya, bagaimana bila isteri menganggap hal ini sebagai masalah besar ? Kemudian serta-merta tidak mempercayai si suami ? Lantas dirinya menjadi minder, merasa tidak dicintai, merasa dirinya serba kekurangan hingga suami ingin menikah lagi (Yang ia pikir pernyataan serius)?
Jangan dimasukkan dalam hati. Begitulah cara sebagian suami untuk mengetahui seberapa dalam cinta isteri padanya. Ia gengsi untuk menanyakan secara langsung. Tapi...pura-puralah marah dan kesal, pukul atau cubit ia dengan manja, tunjukkan kecemburuan kita dengan sikap manja, dia pasti akan tertawa senang. Selanjutnya, jangan ragu-ragu menunjukkan dengan kata-kata bahwa kita sangat mencintai dan membutuhkannya, puji dia bila ia memberikan kebaikan pada diri kita, baik dihadapannya maupun dihadapan orang lain. Jangan lupa selalu ucapkan terima kasih atas sekecil apapun kebaikan yang ia tunjukkan, dengan begitu suami akan merasa dihargai.
Bila suami telah merasa dicintai, dibutuhkan, dan dihargai, ia tidak akan menggunakan jurus ampuh itu lagi untuk mengetahui seberapa dalam kita mencintainya. Hei Jeng, kita tidak mau kan kalau pernyataan iseng suami menjadi kenyataan...? :)
Sumber:Cahaya Khairani / Eramuslim
Rabu, 11 Februari 2009
Lelaki dan Kesetiaan
Bagaimana saya bisa memulai menulis tentangnya, tentang seorang lelaki dan kesetiaannya. Sejujurnya saya tak begitu mengenalnya lebih jauh, hanya sedikit cerita dari adik saya yang merupakan menantu dari lelaki itu, dan dari tante saya yang tinggal bertetangga dengannya. Tetapi dari yang sedikit itu rasanya begitu banyak yang terasa menyentuh dihati saat mendengarnya.
Ia telah menikah selama hampir 30 tahun, telah dikarunia 4 orang anak yang telah berkeluarga, kecuali si bungsu yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Selama 30 tahun pernikahannya, tahukah anda berapa tahun yang sempat dilaluinya utuh sebagai suami istri selayaknya? Mungkin hanya sekitar 11 tahun….saaat si bungsu baru berusia 1 tahun, sang istri terkena penyakit yang tak tahu apa sebab dan akibatnya.
Sering merasa ada bisikan-bisikan aneh di telinganya yang membuatnya kadang tak ingat dan tak sadar dengan sekelilingnya. Tahun-tahun pertama, ia masih dengan sabar membawa sang istri untuk berobat, mulai dari pengobatan medis hingga alternative. Tahun-tahun tanpa perubahan yang berarti…..tetapi lelaki itu tetap sabar, hingga akhirnya ia tiba pada satu keputusan, ia sendiri yang akan menjaga dan merawat sang istri.
Ia sadar akan banyak mengorbankan hal-hal di luar menjaga sang istri. Pekerjaan yang dijalani sebagai pengajar, dilakukan hanya benar-benar pergi untuk mengajar, tak pernah sempat untuk bersosialisasi, meski ditawari jabatan yang cukup bergengsi, ia sadar akan tugas dan kewajibannya menjaga sang istri butuh waktu dan perhatian extra. Pun saat silaturahmi dengan keluarga mulai terbatas untuk dilakukannya, bahkan saat adik saya menyelenggarakan aqiqah anaknya, sang kakek tak sempat datang karena tak ada yang menjaga sang istri.
Ia tak pernah keluar rumah sebelum memastikan sang istri ada yang menjaga. Bergantian ia dan anak-anaknya menjaga sang ibu, disela-sela kesibukan masing-masing. Kesadaran yang turun naik, kondisi fisik yang kadang memburuk, dan itu telah berlangsung selama hampir 20 tahun....
Apa yang ada di benak lelaki itu? Sungguh saya sangat ingin bertanya langsung padanya, tapi rasanya saat ini belum mungkin. Lelaki pendiam dan bersahaja itu, hanya beberapa kali saya bertemu dengannya, itupun tanpa percakapan apa-apa. Tapi dari sorot matanya saya tahu betapa ada bintang-bintang kesetiaan terpancar di matanya.
Lelaki itu pernah berkata pada anaknya mungkin ini amanah dari Allah untuk menjaga istrinya, menurutnya ini memang tugas yang telah di berikan Allah khusus untuk dirinya karena orang lain belum tentu bisa melakukanya….
Berapa banyak lelaki seperti itu di dunia ini? Lelaki yang tetap setia dan sabar menjaga istri yang sakit-sakitan bahkan selama 20 tahun, mungkin tak lagi bisa melayaninya lahir dan bathin. Sebuah alasan yang sungguh sangat dibenarkan dalam agama baginya untuk menikah lagi. Tetapi itu tidak dilakukannya.
Berapa banyak lelaki yang justru memiliki istri yang sehat walafiat tanpa kurang suatu apa pun tetapi tak jua mampu mengukuhkan kesetiannya pada sang istri? Dengan berbagai alasan dan pembenaran untuk bisa memalingkan cinta pada yang lain. Tetapi lelaki itu tidak!.
Kisah seorang istri yang setia pada suami mungkin masih sering kita dengar, tetapi kisah seorang suami yang seperti ini sungguh bukan hal yang biasa terdengar. Dia rela menghabiskan waktunya di rumah untuk tetap menjaga dan mengurus sang istri memastikan semua baik-baik saja.
Suatu saat kondisi istri agak memburuk, kami sekeluarga sempat menjenguk sang istri yang terbaring kaku, berhari-hari tak bisa makan, hanya sesekali disuapi susu oleh si bungsu, wajah lelaki itu muram tapi tetap berharap, meski sehari sebelumnya, adik saya sempat bercerita untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu menangis melihat keadaan sang istri, seraya berdoa agar Allah bisa memutuskan yang terbaik bagi sang istri, karena begitu tak tahan ia melihat penderitaan sang istri.
Waktu 20 tahun, bukan waktu yang singkat untuk memupuk kesabaran dan kesetiaan, tetapi lelaki itu telah membuktikannya. Atas alasan apa? Entahlah....hanya dia dan Tuhan yang tahu.....semoga ia mendapat balasan yang setimpal dengan kesabarannya, mungkin hanya bidadari di syurga yang layak mendampinginya sebagai balasan atas kesetiaannya....
Ah, cinta.....masih adakah cinta yang seperti itu, yang tulus memberi tanpa beharap balasan? Yang kukuh memupuk cinta meski hanya menumbuk bayangan semu yang tak lagi nyata bisa menemaninya merangkai hari-hari tua.
Sungguh beruntung sang istri memilikinya, semoga Allah menghapus semua kesalahannya disebabkan sakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.And....my husband....would you love me like that???
Sumber: Novriany Amaliyah / Eramuslim
Bagaimana saya bisa memulai menulis tentangnya, tentang seorang lelaki dan kesetiaannya. Sejujurnya saya tak begitu mengenalnya lebih jauh, hanya sedikit cerita dari adik saya yang merupakan menantu dari lelaki itu, dan dari tante saya yang tinggal bertetangga dengannya. Tetapi dari yang sedikit itu rasanya begitu banyak yang terasa menyentuh dihati saat mendengarnya.
Ia telah menikah selama hampir 30 tahun, telah dikarunia 4 orang anak yang telah berkeluarga, kecuali si bungsu yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Selama 30 tahun pernikahannya, tahukah anda berapa tahun yang sempat dilaluinya utuh sebagai suami istri selayaknya? Mungkin hanya sekitar 11 tahun….saaat si bungsu baru berusia 1 tahun, sang istri terkena penyakit yang tak tahu apa sebab dan akibatnya.
Sering merasa ada bisikan-bisikan aneh di telinganya yang membuatnya kadang tak ingat dan tak sadar dengan sekelilingnya. Tahun-tahun pertama, ia masih dengan sabar membawa sang istri untuk berobat, mulai dari pengobatan medis hingga alternative. Tahun-tahun tanpa perubahan yang berarti…..tetapi lelaki itu tetap sabar, hingga akhirnya ia tiba pada satu keputusan, ia sendiri yang akan menjaga dan merawat sang istri.
Ia sadar akan banyak mengorbankan hal-hal di luar menjaga sang istri. Pekerjaan yang dijalani sebagai pengajar, dilakukan hanya benar-benar pergi untuk mengajar, tak pernah sempat untuk bersosialisasi, meski ditawari jabatan yang cukup bergengsi, ia sadar akan tugas dan kewajibannya menjaga sang istri butuh waktu dan perhatian extra. Pun saat silaturahmi dengan keluarga mulai terbatas untuk dilakukannya, bahkan saat adik saya menyelenggarakan aqiqah anaknya, sang kakek tak sempat datang karena tak ada yang menjaga sang istri.
Ia tak pernah keluar rumah sebelum memastikan sang istri ada yang menjaga. Bergantian ia dan anak-anaknya menjaga sang ibu, disela-sela kesibukan masing-masing. Kesadaran yang turun naik, kondisi fisik yang kadang memburuk, dan itu telah berlangsung selama hampir 20 tahun....
Apa yang ada di benak lelaki itu? Sungguh saya sangat ingin bertanya langsung padanya, tapi rasanya saat ini belum mungkin. Lelaki pendiam dan bersahaja itu, hanya beberapa kali saya bertemu dengannya, itupun tanpa percakapan apa-apa. Tapi dari sorot matanya saya tahu betapa ada bintang-bintang kesetiaan terpancar di matanya.
Lelaki itu pernah berkata pada anaknya mungkin ini amanah dari Allah untuk menjaga istrinya, menurutnya ini memang tugas yang telah di berikan Allah khusus untuk dirinya karena orang lain belum tentu bisa melakukanya….
Berapa banyak lelaki seperti itu di dunia ini? Lelaki yang tetap setia dan sabar menjaga istri yang sakit-sakitan bahkan selama 20 tahun, mungkin tak lagi bisa melayaninya lahir dan bathin. Sebuah alasan yang sungguh sangat dibenarkan dalam agama baginya untuk menikah lagi. Tetapi itu tidak dilakukannya.
Berapa banyak lelaki yang justru memiliki istri yang sehat walafiat tanpa kurang suatu apa pun tetapi tak jua mampu mengukuhkan kesetiannya pada sang istri? Dengan berbagai alasan dan pembenaran untuk bisa memalingkan cinta pada yang lain. Tetapi lelaki itu tidak!.
Kisah seorang istri yang setia pada suami mungkin masih sering kita dengar, tetapi kisah seorang suami yang seperti ini sungguh bukan hal yang biasa terdengar. Dia rela menghabiskan waktunya di rumah untuk tetap menjaga dan mengurus sang istri memastikan semua baik-baik saja.
Suatu saat kondisi istri agak memburuk, kami sekeluarga sempat menjenguk sang istri yang terbaring kaku, berhari-hari tak bisa makan, hanya sesekali disuapi susu oleh si bungsu, wajah lelaki itu muram tapi tetap berharap, meski sehari sebelumnya, adik saya sempat bercerita untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu menangis melihat keadaan sang istri, seraya berdoa agar Allah bisa memutuskan yang terbaik bagi sang istri, karena begitu tak tahan ia melihat penderitaan sang istri.
Waktu 20 tahun, bukan waktu yang singkat untuk memupuk kesabaran dan kesetiaan, tetapi lelaki itu telah membuktikannya. Atas alasan apa? Entahlah....hanya dia dan Tuhan yang tahu.....semoga ia mendapat balasan yang setimpal dengan kesabarannya, mungkin hanya bidadari di syurga yang layak mendampinginya sebagai balasan atas kesetiaannya....
Ah, cinta.....masih adakah cinta yang seperti itu, yang tulus memberi tanpa beharap balasan? Yang kukuh memupuk cinta meski hanya menumbuk bayangan semu yang tak lagi nyata bisa menemaninya merangkai hari-hari tua.
Sungguh beruntung sang istri memilikinya, semoga Allah menghapus semua kesalahannya disebabkan sakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.And....my husband....would you love me like that???
Sumber: Novriany Amaliyah / Eramuslim
Rabu, 04 Februari 2009
Menikah Dulu, Baru Pacaran
Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.
***
Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh!
Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak atas waktu dan perkenannya untuk membaca tulisan ini. Semoga kau selalu dalam keadaan sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Amin.
Sebagai renungan, mengutip dari apa yang pernah kau tulis sendiri untukku beberapa waktu lalu:
“Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kau tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupanmu sampai kau melupakan kegagalan dan rasa sakit hatimu.”
“Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Akan tetapi, seringkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup itu sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita”.
Harapan-harapan masa laluku kepadamu dan janji-janji kita dulu untuk mencapai pernikahan, ternyata hanyalah sebatas impian. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Biarlah itu semua menjadi kenangan dalam hidupku.
Sejujurnya aku akui, begitu banyak kenanganku bersamamu. File-file dan foto-fotomu di notebook dan PC-ku.
Satu minggu sejak pengakuanmu yang menyatakan bahwa kau mencintai wanita lain. Sejak itu pula, aku merasa kehilangan kendali. Aku terpuruk sekali. Tidak pernah terbayangkan kata-kata itu terucap dari orang yang sangat aku cintai dan sangat aku percayai. Tidak mungkin! Tapi itulah kenyataannya.
“Pergiliran roda kehidupan kadang tidak bisa ditolak. Hadapi kenyataan dan berserah diri kepada-Nya adalah jalan terbaik.”
Aku coba merenungi apa yang pernah dikatakan oleh pimpinan Wisata Hati itu. Memang tidak gampang menerima kenyataan. Tapi kalau aku pikirkan dengan lebih mendalam, diterima atau tidak suatu kejadian buruk, ia sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar ulang waktu. Apalagi yang bisa kita lakukan selain mengembalikan semua kejadian kepada Sang Penguasa setiap kejadian itu sendiri? Lalui saja dengan ikhlas. Betapapun beratnya penderitaan dan peliknya sebuah persoalan, pasti ia akan berujung. Dan hal itulah yang coba aku lakukan saat itu.
Alhamdulillah, dengan satu keyakinan akan janji-Nya, di antaranya dalam Q.S. Al-Furqan [25] : 68-70.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dan seiring berjalannya waktu, cobaan dan ujian hati yang aku alami, perjalanan Ramadhan, hikmah-hikmah yang indah, dan pengalaman yang kudapat semakin membuat hatiku lebih mengerti akan arti kehidupan ini.
Bersikap ikhlas dan sabar akan membuat segala kekurangan tidak akan menyesakkan dada lagi. Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.
Apa yang aku alami di masa lalu adalah satu tamparan pedih. Namun, sesungguhnya di balik itu semua sangat berarti untuk jiwa ini. Disadarkan akan arti cinta sejati. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan!
Innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uun. Alhamdulillah, Dia masih memberikan hidayah-Nya dengan cara seperti ini.
Insya Allah, aku akan segera meyempurnakan separuh agama. Seorang laki-laki shaleh yang akan aku cintai sepenuh hati. Seorang yang mencurahkan ketulusan kasih sayangnya, mau menerima diriku seutuhnya, dan siap hidup berjuang bersama dijalan-Nya dalam suka dan duka.
Aku tidak tahu siapa dia. Jika waktunya telah tiba nanti, semuanya akan terang benderang. Anugerah terindah itu pasti akan datang.
Sesungguhnya tiada sesuatu yang lebih indah di dunia ini selain jalinan persaudaraan. Aku ingin jalinan persaudaraan di antara kita dan keluarga yang sudah terbangun selama ini tetap ada, terlepas status dari hubungan kita sekarang. Forget it!
Aku masih tetap mencintaimu. Tapi cinta sesama saudara seiman. Hanya sebatas itu. Kau tidak usah bersikap antipati terhadapku. Kau tidak usah khawatir. Aku hanya ingin komunikasi di antara kita dan keluarga tetap baik. Aku tetap menjalin komunikasi denganmu bukan berarti aku ingin kondisi hubungan kita seperti dulu lagi. Mohon hal ini untuk dipahami. Wallahu a’lam kalau ternyata Allah mentakdirkanmu sebagai jodohku kelak.
Di tulisan ini, aku menggantikan panggilan “Adik” dengan kata ganti “Aku” dan tidak memanggilmu dengan sebutan “Aa” lagi. Semata untuk menjaga hatiku dan hati perempuan yang kau cintai kini.
Once again, aku menginginkan hubungan baik kita terjalin lagi, sama seperti hubungan baikku dengan beberapa teman alumni satu kampus kita dulu yang masih tetap terjalin indah. Teman-teman yang pernah aku kenal dan semua orang yang pernah menyakiti dan membenciku. Aku hanya ingin tetap menjalin silaturahim. Bukankah menjaga silaturahim itu salah satu tiket masuk surga?
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah masih terus berkenan memberikan hidayah dan rahmat-Nya. Dan ampunan-Nya kepada kita semua. Amin.
Wassalaamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh!
***
31 Januari 2oo9 o4:47 p.m
Ditulis ulang dari kisah nyata yang diceritakan oleh seorang Sahabat.
Sumber:Setta SS / Eramuslim
Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.
***
Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh!
Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak atas waktu dan perkenannya untuk membaca tulisan ini. Semoga kau selalu dalam keadaan sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Amin.
Sebagai renungan, mengutip dari apa yang pernah kau tulis sendiri untukku beberapa waktu lalu:
“Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kau tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupanmu sampai kau melupakan kegagalan dan rasa sakit hatimu.”
“Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Akan tetapi, seringkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup itu sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita”.
Harapan-harapan masa laluku kepadamu dan janji-janji kita dulu untuk mencapai pernikahan, ternyata hanyalah sebatas impian. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Biarlah itu semua menjadi kenangan dalam hidupku.
Sejujurnya aku akui, begitu banyak kenanganku bersamamu. File-file dan foto-fotomu di notebook dan PC-ku.
Satu minggu sejak pengakuanmu yang menyatakan bahwa kau mencintai wanita lain. Sejak itu pula, aku merasa kehilangan kendali. Aku terpuruk sekali. Tidak pernah terbayangkan kata-kata itu terucap dari orang yang sangat aku cintai dan sangat aku percayai. Tidak mungkin! Tapi itulah kenyataannya.
“Pergiliran roda kehidupan kadang tidak bisa ditolak. Hadapi kenyataan dan berserah diri kepada-Nya adalah jalan terbaik.”
Aku coba merenungi apa yang pernah dikatakan oleh pimpinan Wisata Hati itu. Memang tidak gampang menerima kenyataan. Tapi kalau aku pikirkan dengan lebih mendalam, diterima atau tidak suatu kejadian buruk, ia sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar ulang waktu. Apalagi yang bisa kita lakukan selain mengembalikan semua kejadian kepada Sang Penguasa setiap kejadian itu sendiri? Lalui saja dengan ikhlas. Betapapun beratnya penderitaan dan peliknya sebuah persoalan, pasti ia akan berujung. Dan hal itulah yang coba aku lakukan saat itu.
Alhamdulillah, dengan satu keyakinan akan janji-Nya, di antaranya dalam Q.S. Al-Furqan [25] : 68-70.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dan seiring berjalannya waktu, cobaan dan ujian hati yang aku alami, perjalanan Ramadhan, hikmah-hikmah yang indah, dan pengalaman yang kudapat semakin membuat hatiku lebih mengerti akan arti kehidupan ini.
Bersikap ikhlas dan sabar akan membuat segala kekurangan tidak akan menyesakkan dada lagi. Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita hingga merasa tidak mungkin berubah.
Apa yang aku alami di masa lalu adalah satu tamparan pedih. Namun, sesungguhnya di balik itu semua sangat berarti untuk jiwa ini. Disadarkan akan arti cinta sejati. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan!
Innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uun. Alhamdulillah, Dia masih memberikan hidayah-Nya dengan cara seperti ini.
Insya Allah, aku akan segera meyempurnakan separuh agama. Seorang laki-laki shaleh yang akan aku cintai sepenuh hati. Seorang yang mencurahkan ketulusan kasih sayangnya, mau menerima diriku seutuhnya, dan siap hidup berjuang bersama dijalan-Nya dalam suka dan duka.
Aku tidak tahu siapa dia. Jika waktunya telah tiba nanti, semuanya akan terang benderang. Anugerah terindah itu pasti akan datang.
Sesungguhnya tiada sesuatu yang lebih indah di dunia ini selain jalinan persaudaraan. Aku ingin jalinan persaudaraan di antara kita dan keluarga yang sudah terbangun selama ini tetap ada, terlepas status dari hubungan kita sekarang. Forget it!
Aku masih tetap mencintaimu. Tapi cinta sesama saudara seiman. Hanya sebatas itu. Kau tidak usah bersikap antipati terhadapku. Kau tidak usah khawatir. Aku hanya ingin komunikasi di antara kita dan keluarga tetap baik. Aku tetap menjalin komunikasi denganmu bukan berarti aku ingin kondisi hubungan kita seperti dulu lagi. Mohon hal ini untuk dipahami. Wallahu a’lam kalau ternyata Allah mentakdirkanmu sebagai jodohku kelak.
Di tulisan ini, aku menggantikan panggilan “Adik” dengan kata ganti “Aku” dan tidak memanggilmu dengan sebutan “Aa” lagi. Semata untuk menjaga hatiku dan hati perempuan yang kau cintai kini.
Once again, aku menginginkan hubungan baik kita terjalin lagi, sama seperti hubungan baikku dengan beberapa teman alumni satu kampus kita dulu yang masih tetap terjalin indah. Teman-teman yang pernah aku kenal dan semua orang yang pernah menyakiti dan membenciku. Aku hanya ingin tetap menjalin silaturahim. Bukankah menjaga silaturahim itu salah satu tiket masuk surga?
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah masih terus berkenan memberikan hidayah dan rahmat-Nya. Dan ampunan-Nya kepada kita semua. Amin.
Wassalaamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh!
***
31 Januari 2oo9 o4:47 p.m
Ditulis ulang dari kisah nyata yang diceritakan oleh seorang Sahabat.
Sumber:Setta SS / Eramuslim
Langganan:
Postingan (Atom)